Case 45 End

4.6K 193 100
                                        

Sepuluh bulan kemudian di aula besar kediaman Atmaja.

"Gue nggak nyangka lo bisa sejauh ini, lil' bro. I'm so proud of you," ucap Shindu memeluk Ranu singkat.

"Gue sendiri aja nggak percaya, Bang," balas Ranu. Wajahnya terlihat bangga juga melankolis secara bersamaan.

"Selamat buat kalian berdua," ucap Hasta menatap adiknya dan calon adik iparnya bergantian. "Ini memang baru tunangan, tapi tetap aja maknanya dalam. Nggak kalah sama pernikahan."

"Omongan lo kayak pernah tunangan aja, Bang. Pacaran aja belum pernah," balas Ranu tersenyum miring.

Saka menyenggol Ranu dengan sikunya, membuat pria yang lebih tua mengaduh. Kemudian dengan senyum lebar, pria itu mengucapkan, "makasih, kak Hasta."

Ranu dan mulutnya terkadang bisa sangat menyebalkan. Bahkan di acara pertunangannya dengan Saka, pria itu tetap konsisten membuat orang-orang di sekitarnya ingin menampar mulutnya. Untung saja mereka masih melihat Saka yang begitu baik hati hingga tidak menghajar Ranu saat itu juga.

Lagipula, ini adalah momen bahagia Ranu dan Saka yang telah mereka perjuangkan berbulan-bulan lamanya. Tidak mudah untuk berada di titik ini. Ranu harus menghadapi penolakan orang tua Saka berkali-kali. Membuatnya hampir menyerah di tengah jalan. Namun cintanya pada pria yang lebih muda membuatnya terus berjuang.

Dan kegigihan pria itu membuahkan hasil yang diinginkan semua orang. Restu mereka dapatkan. Dan hari ini mereka melangsungkan pertunangan sebagai awal ikatan.

"Kenapa, sih, nggak langsung nikah aja? Ribet banget pake tunangan segala," komentar Bryan.

Itu juga adalah pertanyaan semua orang. Kenapa harus tunangan kalau mereka bisa langsung menikah? Selain membuang-buang uang, waktu juga menjadi tidak efisien.

Ranu, "Maunya, sih, langsung nikah. Tapi orang tua Saka belum siap melepas anak laki-laki mereka satu-satunya."

Itu adalah alasan terbesar mereka melaksanakan pertunangan. Padahal Ranu sudah meyakinkan kedua orang tua Saka jika pernikahan tidak akan membuat mereka kesulitan untuk bertemu satu sama lain. Saka akan tetap menjadi putra mereka apapun statusnya. Namun ketidaksiapan orang tua terkadang tidak butuh alasan untuk diterima. Selama itu tidak melukai mereka, tidak masalah.

Dan bagi Ranu, ada alasan lain yang tidak ingin ia katakan. Pernikahan tanpa adiknya, Juan, mungkin akan membuatnya merasa kurang.

Sudah satu tahun lebih Juan pergi tanpa menghubungi mereka sama sekali. Tidak dengan panggilan maupun pesan. Media sosial dokter itu pun tidak pernah ada postingan. Mengingat Juan sangat suka mengunggah kesehariannya, aneh saja melihat akun dengan satu juta lebih pengikut itu tidak aktif.

Bryan pernah mencoba untuk mencari kakaknya, namun sepertinya Juan sudah berjaga-jaga agar tidak ada yang mengetahui keberadaannya. Bertanya pada Hyukjae juga tidak ada gunanya. Apalagi Tuan Atmaja. Pria tua itu selalu mengingatkan agar mereka menunggu saja.

"Di hari kayak gini, kayak masih ada aja yang kurang," gumam Shindu yang hanya didengar oleh Hasta.

Hasta mengusap lembut belakang kepala Shindu, "cheer up. Yang tunangan juga adik kita. Nggak baik sedih di hari bahagia."

Shindu menatap dalam mata Hasta untuk kemudian mengangguk. Yang lebih tua mengatakan untuk mereka bahagia, namun dirinya sendiri seperti merasa paling bersalah. Siapa yang tidak? Hampir semua merasakan demikian.

"Selamat untuk kalian berdua," ucap Farhan pada kedua pria yang telah bertunangan.

Semua merasakan kekosongan karena Juan. Kecuali Farhan.

Case Of Love [BL]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang