WARNING!
Chapter ini mengandung child abuse, slight pedophile character, dan murder scene.
Pembaca diharap mengerti karena ini untuk kepentingan cerita.
Be wise when you read this.
Kalau nggak nyaman, di skip aja, ya...
Selamat membaca.
_________________________________
Farhan mengaduk kopi hitamnya perlahan. Mencuci sendok bekas adukan dan meletakkannya kembali pada rak penyimpanan. Ia menarik kursi meja makan dan duduk di sana menunggu kopinya hangat.
Di pagi yang bahkan belum menampakkan matahari, Farhan telah sibuk dengan pikirannya yang berkelana. Memutar kembali tentang cerita Juan semalam. Yang membuatnya tidak tidur hingga malam hilang.
"Ini tentang Rangga Adi Pradipta. Your brother."
Mendengar nama kakaknya disebut, tubuh Farhan menegang. Ia merasa sudah sangat berhati-hati agar informasi mengenai dirinya tidak menjadi konsumsi selain para petinggi. Tapi apa ini? Bagaimana Juan bisa mengetahui tentang kakaknya?
"Dari mana anda mengetahui tentang kakak saya, Dokter Juan?" Tanya Farhan dingin.
"Data personel kepolisian dari arsip khusus di dalam komputer Poljen Atmaja." Juan berpikir dengan ini Farhan akan melepas pelukannya kemudian menatap tajam dirinya seperti biasa.
Namun anehnya, kapten tim dua itu tidak. Lengan kekar itu masih memeluknya. Bahkan sedikit mengerat saat ia menjawab, "Karena itu Tuan Atmaja menampar anda? Karena anda membuka apa yang seharusnya tidak anda buka."
Juan, "Gue nggak sengaja stumbling on your information waktu gue meretas komputer ayah."
"Masuk akal," Farhan terdiam sejenak sebelum melanjutkan, "lalu hal penting apa yang berkaitan dengan kakak saya—yang ingin anda bicarakan? Bukankah dalam data itu sudah tertulis dengan jelas?"
"Ya. But that's not true."
Farhan mengernyit, "apa maksud anda?"
Juan melepaskan pelukan Farhan untuk membawa dirinya mengambil posisi duduk. Pria satunya mengikuti Juan melakukan hal yang sama. Mereka duduk saling berhadapan. Farhan menyelimuti tubuh polos Juan dengan selimut agar tidak kedinginan.
Juan meneguk ludah kasar, "Rangga nggak bunuh diri. Kakak lo dibunuh."
Tatapan Farhan menajam. "Omong kosong apa yang anda bicarakan? Anda jangan bercanda dengan kematian kakak saya, Dokter Juan!"
"Gue nggak bohong," jawab Juan.
"Lalu, atas dasar apa anda mengatakan jika kakak saya dibunuh?" Tanya Farhan.
Juan mengalihkan pandangan, "Karena gue ada di sana waktu Rangga meregang nyawa."
Suara ledakan petir dan cahaya kilat menggaung disertai derasnya hujan. Menambah ketegangan antara dua pria di dalam kamar.
"Jangan mengada-ada, Dokter Juan!"
"I'm not! Gue ada di sana sama Bryan dan anak-anak lain yang dikurung kelompok Viper. Gue nggak tau Rangga itu siapa dan dari mana. Karena waktu itu gue nggak ngerti Bahasa. Tapi gue ingat wajah dia yang berusaha nolongin anak-anak di sana. Terutama gue sama Bryan," Jelas Juan.
"Ceritakan yang anda tau," pinta Farhan setelah diam beberapa saat.
Juan menggeleng pelan, "Like I said, gue nggak tau dia siapa dan dari mana. Gue juga baru tau tadi, waktu lihat file sematan di data pribadi lo, Han—"
Farhan menggenggam tangan Juan, "tidak. Tolong ceritakan dari awal."
Juan, "Itu awal dan akhir gue tau Rangga. Karena setelahnya dia—"
KAMU SEDANG MEMBACA
Case Of Love [BL]
Romansa"Kenapa gue suka sama Farhan? Hmm. Karena dia terlalu lurus. Hati kecil gue nggak tahan buat nggak ngebengkokin orang macam dia." Juan "Berhentilah bermain dengan perasan orang lain. Jika anda punya banyak waktu, lebih baik segera selesaikan pekerja...
![Case Of Love [BL]](https://img.wattpad.com/cover/379821305-64-k574116.jpg)