Case 36

1.6K 124 4
                                        

Warning!
Bab ini mengandung kekerasan dan penggunaan senjata.
Jangan meniru adegan dalam cerita di kehidupan nyata.
Read at your own risk.

Selamat membaca.

__________________________________


"Aku menemukan titik GPS terakhir Juan. Begitu juga dengan ponselnya." Bryan menunjukkan titik merah pada layar komputer besar di ruang pemantauan pada Tuan Atmaja dan Ben.

"Itu dari tiga hari yang lalu?" Tanya Ben.

Waktu yang ditunjukkan pada keterangan sejarah GPS Juan adalah tiga hari yang lalu. Itu artinya mobil dan ponsel Juan tidak bergerak sama sekali sejak tiga hari yang lalu pada tempat bertitik merah.

Bryan, "Yes. Tapi kalian mungkin nggak akan senang mengetahui titik lokasinya."

"Berikan lokasinya!" Pinta Tuan Atmaja.

Bryan memperbesar skala pada peta di layar komputer di mana titik merah itu berada. Semakin besar skalanya, semakin besar pula kekhawatiran dalam hati Tuan Atmaja.

Ben, "Itu—"

Bryan, "Sungai Bantaran Dalam."

"Hubungi tim SAR untuk melakukan pencarian di sekitar sungai. Kita tidak boleh membuang-buang waktu," pinta Tuan Atmaja.

Ben segera melaksanakan perintah sang tuan. Sementara Bryan mengikuti Tuan Atmaja ke lokasi penemuan sinyal GPS Juan—Sungai Bantaran Dalam. Yang merupakan sungai terbesar dan terdalam di Ibukota. Dikatakan sebagai induk sungai Nusantara. Karena dari sungai tersebut bercabang menjadi sungai-sungai yang lebih kecil, yang tersebar di seluruh Nusantara.

"Apa kita tidak akan memberitahu yang lain tentang ini, Jendral?" Tanya Bryan.

"Tidak perlu." Jawaban singkat Tuan Atmaja membuat Bryan tidak lagi bertanya.

Pria berdarah Britania itu mengerti alasan Tuan Atmaja hanya memintanya dan Ben untuk menyelidiki hilangnya Juan. Sejak perdebatan mereka mengenai usulan Juan yang meminta bergabung dengan penyelidikan, hubungan dokter itu dan ketiga saudaranya merenggang.

Ditambah dengan insiden detektif Saka yang terluka karena tindakan gegabah Juan. Membuat jarak mereka semakin renggang. Hingga rasanya, nama Juan disebut saja, akan menimbulkan kemarahan yang luar biasa.

Jujur saja, Bryan rasa mereka agak berlebihan. Meskipun Juan juga terlalu percaya diri dan seperti terobsesi untuk menangkap Viper sendirian. Tapi kakaknya itu memang memiliki kemampuan yang sebenarnya mereka butuhkan. Hanya saja mereka tidak ingin mengakuinya.

Satu hal lagi, mungkin juga karena Tuan Atmaja. Pria tua itu secara terang-terangan membuat Juan tampak lebih istimewa. Menguliahkannya di kedokteran. Mengarahkannya untuk menjauh dari kriminal. Sementara empat dari mereka dididik dalam barak untuk menjadi pasukan khusus yang selalu berhubungan dengan kriminal.

Jadi dengan kepercayaan mereka yang memudar untuk Juan, Tuan Atmaja memutuskan untuk tidak melibatkan mereka. Itu tentu masuk akal. Jendral itu tidak ingin membebani Hasta, Shindu dan Ranu untuk mencari orang yang mereka hindari. Tidak untuk saat ini.

"Kepala tim SAR sudah mengutus dua tim untuk melakukan pencarian di Sungai Bantaran Dalam, Tuan. Apa kita akan menyusul sekarang?" Tanya Ben.

"Ya." Tuan Atmaja berhenti, dan berkata dengan nada peringatan keras, "Dan pastikan ini semua tidak sampai ke telinga kepala BIN dan pemerintah atas. Jika tidak, kita akan dalam masalah yang lebih besar."

Sementara itu, Farhan berulang kali mencoba untuk menghubungi Juan. Sudah tiga puluh panggilan yang ia lakukan sejak pergi dari rumah sakit usai mendengar penuturan Saka. Detektif itu juga sudah mencoba untuk menemui sang dokter di rumah sakit kepolisian. Namun pria itu juga tidak ada di sana.

Case Of Love [BL]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang