"Tapi akan sulit dan nggak mudah. Pertunangan adalah keinginan Ayah. Dan apa yang Ayah inginkan, pasti itu yang terjadi nanti." ujar Saguna.
"Tenang aja, Na. Gue akan bantu." kata Kyla supaya Saguna tidak putus asa.
"Dulu lo sahabat gue, dan hingga saat ini lo masih menjadi sahabat terbaik gue, Kyla." kata Saguna.
Tidak ada lelahnya Kyla tersenyum hangat. Memang cinta tidak pernah salah. Mencintai seseorang adalah suatu pilihan, sama halnya seperti yang dicintai. Berhak memilih untuk membalas cintanya atau tidak. Kalau cinta Saguna sudah lebih dulu berlabuh di hati orang lain. Setidaknya Kyla sudah berusaha.
Dan mengungkapkan perasaan bukan sebuah kejahatan.
Tidak lama Ashe datang menghampiri keduanya. Selang beberapa menit, seseorang yang mereka tunggu akhirnya sampai. Ardana membuka jas hitam yang sebelumnya membalut tubuh, menyisakan kemeja putih serta dasi yang sudah terikat mengendur.
"Maafin Ayah karena buat kalian nunggu sampai malam." ucap Ardana.
"Nggak papa, Ayah." jawab Kyla.
"Diminum dulu teh hangatnya, Ayah." kata Ashe, mendekatkan secangkir teh untuk Ardana minum.
"Terima kasih, sayang."
Selesai meminum tehnya, Ardana menatap Saguna juga Kyla lekat. Ada rasa tenang mengetahui kalau gadis yang selama ini selalu ada untuk Saguna, dari putranya masih kecil. Tetap bersama mereka di ruang keluarga.
"Tadi sebenarnya Ayah mau mampir beli bolu kesukaan Bunda itu. Yang tempo hari Ayah beli tapi malah dihabisin Jordan." kata Ardana.
"Terus mana bolunya, Yah?" tanya Saguna melihat tidak ada makanan bawaan Ardana.
"Tokonya ramai banget. Ayah sih nggak masalah kalau harus mengantri untuk kalian, cuma masalahnya parkiran mobil penuh bahkan sampai ada yang nutupin jalan. Jadi Ayah nggak bisa turun beli." jawab Ardana bercerita kejadian beberapa saat lalu. "Maaf ya, Bunda." sambung Ardana.
"Nggak papa, Ayah." kata Ashe tersenyum mengelus tangan Ardana.
Obrolan singkat namun hangat mengisi ruangan hingga kantuk mulai menyerang.
"Bang Jordan kan lagi di luar. Mending nitip aja biar dibeliin pas mau pulang." kata Saguna yang sebenarnya juga menginginkan bolu kesukaan Ashe, karena cerita Ardana barusan membuat Saguna teringat rasa nikmat bolu serta tekstur lembutnya.
"Nanti Bunda yang telepon Abang." kata Ashe.
"Apa yang mau Ayah bicarakan?" tanya Saguna tentang tujuan awalnya.
Ardana berdehem pelan. "Ayah ingin membicarakan tentang pertunangan kalian yang sempat tertunda."
Tidak ada suara yang terdengar. Suasana berubah mencekam, hening namun serius menyelimuti ruangan hingga yang bersuara hanya sebuah gerakan jarum jam di dinding.
"Boleh Kyla berbicara, Ayah?" tanya Kyla meminta izin.
"Boleh, Kyla."
"Kalau Ayah menginginkan acara pertunangan diadakan dan mau berjalan lancar nantinya. Sebaiknya semua dimulai dari awal." kata Kyla terdengar juga terlihat serius.
Tetapi semua kebingungan. Kalimat dari Kyla tidak dapat dipahami mereka tanpa pengecualian.
"Dari awal? Maksudnya apa, Kyla?" tanya Ardana.
Kyla mengangguk pelan bersiap menjelaskan. "Dari awal atau dasarnya. Ketika Ayah mau menyatukan dua manusia dalam suatu hubungan yang serius, berarti harus dilakukan pada kedua belah pihak. Ayah menanyakan tentang pertunangan dan Kyla menjawabnya dengan persetujuan. Tapi apa kalian melakukan hal yang sama ke Saguna?"
Kamus Bahasa milik Ardana terlempar jauh keluar rumah. Terbukti, pria itu tidak membuka mulutnya sama sekali. Sungguh kesunyian yang memekakan telinga.
"Ayah selalu tau apa yang terbaik buat Saguna, Kyla." jawab Ardana.
"Mungkin, tapi bukan soal hati." kata Saguna menyangkal menggunakan hak suaranya. "Bahkan Saguna sendiri aja sempat kebingungan. Gimana Ayah bisa tau apa yang Saguna mau atau apa yang terbaik untuk Saguna?" sambung cowok dengan sorot mata yang melemah.
"Ayah hanya tidak mau melihat kamu kembali tenggelam dalam trauma yang tidak berujung. Kyla adalah penawarnya. Jadi Ayah mau kamu harus terus bersama Kyla, dan jawabannya adalah pertunangan." kata Ardana mulai berubah tegas.
"Tunggu dulu, Ayah. Saguna keluar dari zona ketakutan atau tentang keadaannya yang mulai berangsur membaik, semua terjadi bukan karena Kyla atau siapa pun. Tapi karena Saguna sendiri, dia berhasil mengalahkan rasa traumanya." kata Kyla meluruskan kesalahpahaman yang terjadi.
Tidak mau mengambil keuntungan dalam opini Ardana yang jelas sangat salah, menurutnya.
"Ayah, apa yang Kyla katakan benar adanya." kata Ashe memperkuat pihak Saguna.
Mendapati semua orang yang berlawan arah dari tujuannya. Ardana tidak langsung merespon, pria itu malah kembali membungkam mulutnya. Kekhawatirannya terhadap Saguna muncul lagi. Mendadak memori buruk terdahulu menghampiri kepala Ardana, mendobrak pintu pertahanan.
"Jadi kamu berubah menjadi tidak setuju akan pertunangannya, Kyla?" tanya Ardana, walau banyak yang dirasa, Ardana tetap terpantau tenang.
"Kyla nggak mau dan nggak akan bisa bersama orang yang nggak cinta sama Kyla, Ayah." jawab Kyla berkata jujur.
"Kamu tidak mencintai, Kyla?" tanya Ardana mengarah kepada Saguna.
Yang semula Saguna sedikit menunduk, kini cowok itu mempertegak duduknya kemudian menatap mata Ardana. "Saguna sayang sama Kyla. Sayang seorang Kakak kepada Adiknya. Sama rata seperti rasa sayang Bang Jordan, Ayah dan Bunda terhadap Kyla."
Karena sempat tumbuh bersama apalagi dulu gadis itu masih kecil. Kyla terbiasa memanggil keluarga saguna dengan embel, Abang, Ayah dan juga Bunda.
"Saguna mengerti rasa khawatir Ayah. Tapi kalau harus memaksa, yang datang justru bisa jadi lebih buruk dari yang pernah terjadi." kata Saguna.
Ardana mengusap wajahnya, hembusan napas berat terdengar. Tumbuh bersama, tidak menjamin akan tumbuh cinta. Saguna dan Kyla telah bersama layaknya seorang keluarga. Mendengar penjelasan keduanya membuat Ardana mengerti, sangat amat mengerti. Namun tetap saja masih ada yang mengganjal di hati serta pikirannya.
"Jadi pertunangan dibatalkan?" tanya Ardana.
Saguna menoleh menatap Kyla yang duduk di sampingnya. Merasa ragu untuk mengatakan namun tidak mau kembali memendamnya juga. Sedangkan Kyla mengangguk samar seraya tersenyum, mencoba menyemangati Saguna untuk mengambil kesempatan sebelum momen tersebut hilang.
"Iya, Ayah. Karena..." Saguna menggantungkan ucapannya. "Karena Saguna jatuh cinta sama orang lain."
***
KAMU SEDANG MEMBACA
Saguna
Fiksi Remaja[FOLLOW DULU SEBELUM MEMBACA] Spin off cerita "Aksara" dapat dibaca terpisah <3 "Bisa diam gak?" "Jangan ganggu gue!" "Gue bukan pacar lo, Frey." Top 3 kalimat Saguna Zayyan, cowok super dingin mengalahkan tumpukan salju di Kutub Utara. "DASAR...
