Jimin berlari kecil untuk bersiap memberikan bantuan kepada Seulgi.
Beberapa menit yang lalu, ruang Instalasi Gawat Darurat menelepon lantai rawat inap penyakit dalam dan bedah–tempatnya berdinas, untuk memberikan kabar. Saat ini terdapat pasien baru yang memerlukan perawatan lebih lanjut karena upaya menyakiti diri sendiri.
Dan yang membuat para petugas sedikit terkejut adalah, status pasien yang seorang narapidana dan tengah mengandung. Instalasi Gawat Darurat di rumah sakit tempatnya bekerja kocar-kacir dibuatnya.
"Jimin, maaf, ya, aku tahu kau sibuk tapi, aku malah meminta bantuanmu untuk menjemput pasien. Dia sama sekali tidak dapat menggunakan kursi roda. Kita harus memindahkannya menggunakan bed. Jadi, aku perlu bantuanmu," ujar Seulgi canggung ketika lift itu sudah mulai bergerak menuju lantai dasar rumah sakit.
Jimin menggelengkan kepalanya pelan. "Tidak masalah, Noona. Kau boleh meminta bantuanku kapanpun itu." Lalu, ia teringat pada sesuatu. "Tapi, bukankah semestinya ia dirawat oleh bagian obsgyn? Bukankah kau bilang ia tengah mengandung?"
"Uhm. Aku dengar ia sudah mendapatkan pertolongan pertama di IGD. Ia melukai perutnya sendiri dengan gagang sikat gigi yang sengaja dipotong. Beruntung, tusukannya tidak terlalu dalam untuk berhasil melukai bayinya. Ada sedikit robekan di kantung ketuban, tetapi dokter obsgyn sudah menjadwalkan operasi penjahitan kantung ketuban. Beruntung, cairan ketubannya tidak banyak keluar. Dia tidak ditempatkan di ruang obsgyn karena kebetulan ruangan sedang penuh. Jadi, Instalasi Bedah akan berkoordinasi dengan Instalasi Obsgyn." Ia menarik napasnya dalam seraya menuruni lift dan melangkah menuju IGD. "Dan, uhm ... kita mungkin akan sedikit kerepotan, karena pasien ini termasuk pasien VIP ,...
"... dia adalah mantan suami mendiang Tuan Min Yoongi."
Dan detik itu juga, Jimin bersumpah ia merasakan dunianya berhenti bekerja. Di tengah banyaknya manusia sibuk hilir mudik di depannya, ia mematung sendirian.
Ia merasa pening. Dadanya berhenti berdegup hanya untuk berdetak cepat kemudian.
"Jung Hoseok?" Dan berita yang lebih menyayat hatinya lagi adalah, pria itu tengah mengandung. Hoseok tengah mengandung anak dari lelaki yang begitu dicintainya.
***
Yoongi menghela napasnya lelah. Latihan berjalannya hari ini benar-benar merepotkan. Rasanya sangat menguras tenaganya. Ia dipaksa untuk melakukan rutinitas yang menurutnya berat. Berlatih 15 menit lebih lama dari biasanya.
Terapisnya bertepuk tangan seraya tersenyum bangga. "Kau melakukannya dengan sangat hebat, Tuan."
Yoongi menganggukkan kepalanya kaku. Tidak terbiasa dengan pujian dari orang lain terhadap dirinya.
"Beristirahatlah sebentar. Anda juga dijadwalkan bertemu dengan dokter Moon bukan hari ini?" Ia tersenyum. "Dan, Tuan, minggu depan Anda akan mengikuti evaluasi bersama dengan dokter Im–dokter fisioterapi Anda." Peringatnya. "Kalau begitu saya permisi." Pamitnya pada Yoongi yang kini tengah duduk di kursi rodanya.
Ia mendesah lelah melihat Tuan Go tersenyum lebar ke arahnya. "Kau pasti merasa sangat senang."
"Aku akan mengantarmu menemui dokter Moon," ujar Tuan Go. Mengabaikan sindiran yang Yoongi berikan padanya.
Matanya menangkap plang gedung rumah duka yang sempat dikunjunginya beberapa bulan yang lalu.
***
"Apa kau ingin mengunjunginya?" Tuan Go menatapnya sendu.
Yoongi menarik napasnya dalam. "Ya, Paman. Antarkan aku pada Hoseok."
Dan Tuan Go menuruti keinginannya keesokan harinya. Pagi-pagi sekali, Yoongi dan Tuan Go telah berangkat ke Rumah Sakit Pusat di Busan untuk menuju ke rumah duka di mana Hoseok akan menyemayamkan ibundanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
BORN OF HOPE
FanfictionA Yoonmin Fanfiction "Hanya karena dirimu. Terima kasih, telah membawaku hidup kembali."
