BAB 46

160 22 14
                                        

Jimin menghela napas lelah begitu punggungnya menyentuh kasur kamar tidurnya.

Hari ketiga ia harus berhadapan dengan Hoseok. Rasanya sangat menyesakkan. Begitu banyak hal berkecamuk di dalam kepalanya.

Rasa benci karena ia mengingat betapa kejam Hoseok yang bertahun-tahun telah meracuni suaminya sendiri, rasa marah karena ia berusaha menyakiti dirinya sendiri di saat ia seharusnya menjaga nyawa lain yang tengah berada di dalam kandungannya, juga rasa sedih karena ia merasa Min Yoongi semakin jauh dari dirinya.

Siapa Jimin jika dibandingkan dengan Hoseok yang tengah mengandung keturunannya?

Ia membuang napas kasar. Memikirkan semuanya hanya menambah rasa kesalnya. Mungkin itu semua memang penyebab mengapa Yoongi dingin pada dirinya saat terakhir kali mereka bertemu. Apakah Yoongi juga baru saja mengetahui kabar tentang kehamilan Hoseok waktu itu?

Jimin masih mengingatnya, bagaimana Yoongi terlihat kosong dan kaku malam itu.

Ia menggulingkan tubuhnya di atas ranjang, hanya untuk merasa semakin kesal pada dirinya sendiri.

Hari ini, Hoseok membentak dirinya. Membuat dirinya terkejut setengah mati.

"Huft! Padahal apa salahku?" ia berbicara pada dirinya sendiri. "Aku sudah merawat dirinya dengan sangat baik meskipun aku harus mati-matian untuk tidak menekan gemas luka jahitannya setiap kali mengganti perban. Dia begitu menyebalkan saat sedang menjadi Tuan Besar. Aku tidak menyangka dia hanya menjadi bertambah menyebalkan saat dirinya dalam keadaan jatuh seperti ini." Jimin menyilangkan tangannya selagi berbaring menatap atap kamarnya.

Jimin hanya berusaha untuk mencairkan suasana. Ia hanya berusaha untuk melakukan apa yang biasa ia lakukan saat sedang menghadapi pasien, tetapi Hoseok justru menyentak dirinya, membuat Jimin menjatuhkan kidney tray di tangannya yang berisikan perban bekas luka Hoseok.

"Berhenti bersikap seolah kau paling mengetahui tentang kehidupan orang lain! Kau tidak tahu apa pun tentang kehidupanku. Aku bahkan berani bertaruh kau tidak akan bisa melanjutkan hidup jika kau berada di posisiku!"

"Memangnya cuma dia saja yang menemui kesulitan dalam hidup?" Kesalnya. "Semua orang juga melaluinya! Aku juga melaluinya. Jalan hidupku juga tidak mulus-mulus saja," celotehnya kesal, "tapi, apa aku memilih untuk menjadi orang jahat seperti dirinya?" Jimin mengangkat tangannya. "'Kan, tidak."

Ia memiringkan tubuhnya dan lagi-lagi, ia menghela napas kesal. "Dasar, orang aneh. Banyak orang yang lebih menderita daripada dirinya. Kenapa merasa paling menderita?"

Drrrttttt.

Jimin membalik tubuhnya untuk menatap ponselnya yang ada di atas nakas samping tempat tidurnya. Meraihnya hanya untuk melihat nama pemanggil di layar ponselnya.

Kembali membuang napasnya lelah.

"Jimin?" Seokjin memunculkan sedikit kepalanya di ambang pintu kamar Jimin. "Aku sudah mengetuk pintunya, tapi kau tidak menjawab."

"Oh." Jimin tersenyum untuk menyembunyikan isi hatinya saat ini. "Maaf, Hyung. Mungkin aku ketiduran."

Seokjin tersenyum di bawah embusan napasnya. "Kau pasti lelah sekali hari ini. Tapi, Eomma memintamu turun untuk makan malam, Jimin."

"Ah, oke, Hyung. Aku akan turun sebentar lagi." Jimin membalas senyuman kakak iparnya.

"Kami menunggumu, Jimin." Lalu Seokjin kembali menghilang di balik pintu kamar tidurnya.

Jimin memejamkan matanya seraya menarik napasnya dalam. Ia sudah mengabaikan Yoongi sejak tiga hari yang lalu. Rasanya Jimin belum siap untuk mendengar, jika saja hubungannya dan Yoongi sama sekali tidak bisa melangkah ke tahap yang lebih serius.

BORN OF HOPECerita yang bikin terobses. Temukan sekarang