BAB 49

105 19 11
                                        

Jimin tidak bisa menghentikan rasa sakit di dalam dadanya.

Rasanya menyedihkan. Mengetahui Yoongi terluka karena seseorang yang pernah ia cintai dengan begitu tulusnya.

Ia bisa membayangkan bagaimana sakitnya Yoongi ketika pria itu mendengar semuanya dari Hoseok secara langsung.

Air matanya kembali mengalir tanpa ia sadari.

"Jimin?"

Ia menarik napasnya, segera menghapus lelehan air mata di pipinya. Menoleh untuk menatap Namjoon yang berdiri tak jauh dari tempatnya. "Hyung," sapanya.

Namjoon melangkah menuju balkon tempat mereka biasa bertukar pikiran, menarik napasnya dalam menikmati silir angin malam hari ini. Jemarinya terjalin selagi menapaki pagar hitam pembatas. "Sedang memikirkan Yoongi lagi?"

Jimin dengan ragu menganggukkan kepalanya. Merasa bingung apakah ia bisa bercerita kepada Namjoon tentang hari ini, atau harus menyimpannya sendirian.

"Kau ... sudah bertemu dengannya?"

"Ya, sore ini," jawabnya lemah.

"Apakah kau mendapatkan jawaban yang kau inginkan?"

Jimin menarik napasnya dalam. "Ya, dan tidak." Ia tersenyum pahit. "Di satu sisi aku lega, tetapi di sisi lain aku ikut merasakan sakit yang Min Yoongi rasakan. Aku ... tidak tahu bagaimana bisa dia menjalani kehidupannya selama ini, Hyung. Mendengar ceritanya hari ini, membuatku mengerti mengapa Yoongi Hyung merasa dirinya tidak memiliki harapan."

"Tetapi, sekarang kau di sini, bukan?" Sanggah Namjoon. "Kau bisa memulainya dari sekarang. Untuk selalu berada di sisinya dan membantunya berpegang pada harapan, sekecil apa pun itu."

Jimin menoleh untuk menatap sang Kakak. "Uhm." Ia menjawab dengan sebuah anggukan kepala.

Rasa pedih di hatinya tidak berkurang, tetapi ia lega bahwa Namjoon telah mengkonfirmasi keraguan dalam hatinya.

Ia, bisa membantu Yoongi untuk berpegang pada sebuah harapan.

***

Mereka mengetahuinya. Kehadiran Seung Tak di pagi hari ini, tentu saja akan membawa kabar tidak menyenangkan untuk Yoongi, tetapi apa pun itu, ia pikir ia harus mendengarnya.

"Sarapanlah dulu, Hyung. Paman Go sudah memasak sesuatu untuk kita makan." Yoongi menawarkan.

"Tentu saja. Terima kasih, Yoongi-ya," balas Seung Tak selagi mengambil kursinya untuk duduk.

Mereka berbincang ringan selama menghabiskan waktu untuk sarapan, hingga setelah beberapa saat mereka beristirahat, Go Seung Tak memilih untuk mengutarakan maksud dari tujuannya menyambangi Yoongi di pagi buta.

"Jeon Jungkook menghubungiku malam tadi." Mulainya. "Dia mengetahui bahwa kau masih hidup."

"Dia menginginkanku mati?" Tembak Yoongi.

"Tidak," jawabnya tegas, "dia ingin aku mencari tahu perihal keberadaanmu." Seung Tak mencoba untuk membaca raut wajah Yoongi. "Apa yang kau ingin aku lakukan?"

Berdiam diri untuk sejenak, Yoongi memikirkan beberapa hal sebelum menjawab pertanyaan Seung Tak. Ia tidak masalah jika saja Jungkook mengetahui keberadaannya dan memutuskan untuk membunuh dirinya. Tetapi, yang ia takutkan adalah, Jungkook akan mengancam dirinya melalui Jimin. Karena ia tahu, Jungkook tahu bahwa Jimin adalah kelemahannya.

"Bisakah kau mencari tahu terlebih dahulu, apa yang Jungkook inginkan dari diriku?"

Menarik napasnya dalam, Seung Tak menganggukkan kepalanya. "Aku akan mencoba untuk mengabarimu tentang ini secepatnya, Yoongi."

BORN OF HOPECerita yang bikin terobses. Temukan sekarang