BAB 48

118 25 10
                                        

Yoongi tidak bisa mengalihkan wajahnya dari jendela kaca mobil yang terus berjalan. Perasaannya tidak membaik setelah ia melihat Hoseok.

Ia pikir, jika ia mendengar alasan tentang mengapa Hoseok mengkhianati dirinya, Yoongi dapat merasa lebih baik dan melupakan semua yang pernah terjadi kepada dirinya. Tetapi, bak sebuah irisan belati di dadanya, setiap perkataan yang keluar dari mulut Hoseok hanya semakin mencabik-cabik jiwanya.

"Apa kau bahkan pernah benar-benar mencintai diriku, Hoseok-ah?"

"Kenapa tidak kau coba tanyakan pada dirimu sendiri, Yoongi-ya?" Hoseok menatap dirinya nyalang. "Kau selalu sibuk untuk sekadar meluangkan waktu untuk duduk bersamaku setelah kau menduduki takhta kerajaanmu. Lupakan tentang mendengarkan ceritaku. Kau selalu sibuk mengurusi pekerjaanmu bahkan ketika kau sedang berada di rumah, sedangkan aku sudah mengalah dengan tak lagi mengejar mimpi-mimpiku. Seperti burung dalam sangkar, aku hanya berfokus untuk mengurus rumah tangga kita dan merawat dirimu. Kau membiarkan Jungkook memasuki lagi kehidupanku ....

"... Bukan aku yang berubah, kaulah yang melakukannya."

Ia terus merenungi semuanya. Apa benar dirinyalah yang telah membuat Hoseok berubah? Tetapi, apakah semua itu membuat dirinya layak mendapatkan semua rasa sakit yang telah ia rasakan selama ini?

"Aku pikir, kau harus bicara dengan Jimin."

Yoongi memalingkan wajahnya, menyadari kini mereka telah tiba di tempat tinggalnya.

"Sepertinya, Nak Jimin sudah menunggumu lama. Hidungnya memerah karena dinginnya angin sore ini." Tuan Go tersenyum tipis selagi melepaskan seatbelt Yoongi dan membantunya untuk duduk ke atas kursi rodanya. Mencoba untuk menghibur Yoongi yang terlihat tak baik-baik saja.

Dengan sabar, ia mendorong kursi roda itu di atas pasir menuju ke arah Jimin yang tengah duduk memeluk dirinya sendiri, di kursi kayu dekat bibir pantai.

Lelaki mungil itu menoleh mendengar derap langkah mendekat pada dirinya. Tersenyum lega melihat pria yang dicintainya dalam keadaan baik-baik saja.

"Aku akan meninggalkanmu di sini." Tuan Go menepuk kedua bahu Yoongi selagi menganggukkan kepalanya pada Jimin, menitipkan Yoongi pada lelaki berparas manis yang duduk di samping kursi roda Yoongi.

"Hai," Jimin menyapa. Tersenyum tipis menepis perasaan canggung di antara mereka. "Kau sengaja meletakkan kursi kayu ini di dekat bibir pantai, Hyung?"

Yoongi menganggukkan kepalanya seraya berusaha untuk tersenyum pada Jimin.

Keduanya tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing di tengah deburan ombak kecil yang sesekali menyapa telapak kaki Jimin.

Hingga akhirnya keduanya bersuara hampir bersamaan. Membuat keduanya terkekeh kecil.

"Bagaimana kabarmu, Hyung?" Jimin bertanya, kaki kecilnya menulis acak di atas pasir di kakinya. Kedua tangannya menahan bobot tubuhnya pada kursi kayu yang didudukinya.

"Kau mengabaikan telepon dan pesan-pesan dariku," Yoongi menjawab.

Membuat Jimin mendengus kecil selagi tersenyum tipis. Menatap matahari yang hampir terbenam hari ini. Cantik. Tetapi menambah kesenduan dalam hatinya.

"Apa aku melakukan kesalahan?"

Jimin menggeleng sendu. "Aku hanya ...."

"Hanya?"

Jimin mengulum bibir bawahnya, berusaha untuk menelan rasa ragu di hatinya. "Aku hanya takut, aku tidak siap mendengar apa yang harus aku dengar darimu."

"Dan apa yang sebenarnya akan kau dengar dariku, Jimin?" Yoongi bertanya penasaran.

Ia mengeratkan pegangannya pada kursi kayu. "Kau ingin mendengar kabar tentang Hoseok-ssi, Hyung?" Jimin menembak. "Kau sudah tahu, ya?" Ia tersenyum miris.

BORN OF HOPECerita yang bikin terobses. Temukan sekarang