BAB 50

109 25 14
                                        

"Ah, ayo kita lihat, apakah Park Jimin akan mampu bertahan di sisimu, Hyung. Aku bersumpah aku akan merenggut nyawanya jika bukan dia sendiri yang menghilang dari sisimu."

Yoongi menarik napasnya dalam, memperhatikan wajah yang selama ini selalu dikaguminya. Ke mana perginya wajah polos yang selalu mengikuti ke mana pun kaki Yoongi melangkah?

"Kau tidak akan pernah bisa menyentuhnya, Jungkook," ujar Yoongi. "Akan kupastikan kau menyesal begitu kau mendaratkan satu jari di atas tubuhnya." Ancamnya pasti.

Membuat Jungkook berdeceh dan tersenyum di bawah dengusannya. "Let's see." Jungkook kemudian berlalu meninggalkan Yoongi yang masih menatap dirinya sendu.

***

"Kau tidak terlihat baik setelah berbicara dengan Jungkook." Khawatir Tuan Go.

Membuat Yoongi mengangkat kepalanya yang sedari tadi tertunduk menatap aspal jalanan. "Kau mengkhawatirkanku?"

"Apakah itu pertanyaanmu?" Tuan Go mengerutkan dahinya. Membuat Yoongi tertawa.

"Jangan khawatirkan aku, Paman. Aku memang sedikit terkejut dengan apa yang Jungkook katakan, tapi perkataannya hanya membuatku semakin yakin akan keputusanku untuk melindungi Jimin dan melanjutkan hidup."

Tuan Go menatap dirinya melalui kaca spion tengah, Yoongi tersenyum menatap yang lebih tua. Matanya sendu, namun bibir itu tegas berkata.

"Aku tidak akan muncul lagi sebagai Min Yoongi, bukan karena aku telah kalah, tetapi dengan tetap bersembunyi seperti sekarang, aku memegang Jungkook dalam genggamanku. Aku bisa kapan saja menghancurkannya jika aku mau. Aku akan menggunakan kartu AS itu untuk melindungi Park Jimin dari sentuhan Jungkook."

Ya, walaupun itu semua terdengar tidak adil namun Yoongi benar. Yoongi tidak mungkin mengambil risiko untuk mencelakakan Jimin, dan dia harus dapat mengunci pergerakan Jungkook dengan meletakkan Oh Sang Gyeong-Go Seung Tak di sisi Jungkook, sehingga Yoongi bisa menghancurkannya dengan tepat sasaran kapanpun Jungkook mulai bertingkah. Lelaki Jeon itu tidak akan rela kehilangan harta Yoongi yang kini berada di tangannya.

"Kalau begitu ... Kau tidak akan menuntutnya?" Paman Go bertanya dengan hati-hati.

Yoongi menggelengkan kepalanya yakin. "Jimin adalah prioritasku untuk saat ini."

***

Yoongi sudah berjanji untuk menemui Jimin, maka dari itu, hari ini, ia meluangkan waktunya untuk menunggu sang Pujaan Hati di depan rumahnya, di tepi pantai bersama gelombang ombak yang perlahan menyapanya.

Yoongi rindu bagaimana rasanya ombak menyentuh kakinya. Ia rindu bagaimana rasanya berlari di tengah hamparan pasir selagi ombak sesekali menyapukan air laut ke atas kakinya.

Ia menarik napasnya dalam.

"Hyung."

Kemudian menoleh ketika suara lembut itu menyapa gendang telinganya. Tersenyum menatap kekasih hatinya.

"Jimin," gumamnya lembut.

"Masih pagi, Hyung. Udara di luar rumahmu terasa sangat dingin." Jimin membenahi jaket di tubuhnya, melepaskan syal di lehernya dan memasangkannya untuk Yoongi. "Kenapa tidak menungguku di dalam rumah saja, Hyung?"

Yoongi menggelengkan kepalanya. "Aku menunggu matahari. Aku rindu kehangatannya."

Jimin tersenyum mendengarnya.

Pria yang selama ini membuatnya kesulitan karena benci terkena sinar matahari, hari ini justru menunggu matahari.

"Aku akan menunggunya bersamamu."

Yoongi menganggukkan kepalanya. Menunggu Jimin duduk di atas kursi kayu di samping kursi rodanya, tersenyum simpul menatap Jimin. Membuat Jimin merasa sedikit heran.

"Kau ingin mengatakan sesuatu, Hyung?"

"Aku bertemu Jungkook. Kemarin."

Membuat Jimin menarik dan menahan napasnya. Takut akan cerita yang hendak Yoongi bagi padanya.

"Dia bilang, semua terjadi karena diriku." Ia membuang mukanya selagi tersenyum sendu. "Ternyata, selama ini Jungkook berpikir bahwa aku adalah alasan di balik kematian ayahnya. Aku pikir, selama ini dia dan aku baik-baik saja. Aku tidak tahu kalau ternyata Jungkook sudah memendam amarahnya selama ini."

"Hyung, apa pun yang terjadi di masa lalu. Kau tahu bahwa tidak mungkin untuk mengatur isi kepala seseorang." Ia meraih tangan Yoongi yang berdiam di atas pahanya kaku, menggenggamnya erat. "Jungkook-ssi mungkin tidak akan pernah mau mendengar apa pun alasanmu, tetapi kau tidak bersalah, Hyung. Aku yakin itu."

Yoongi menarik napasnya dalam, tangan kanannya meraih punggung tangan Jimin yang berada di atas punggung tangannya. Mengusapnya lembut. "Karena dendam Jungkook padaku, aku berpikir untuk tetap hidup dalam diam." Ia tersenyum menatap Jimin. "Aku tidak ingin dunia mengetahui tentang keberadaan Min Yoongi yang lama. Aku juga tidak menginginkan hartaku. Apa yang aku miliki saat ini sudah sangat cukup untukku."

Jimin mengeratkan genggaman tangannya. "Kalau begitu libatkan aku dalam kehidupan barumu, Hyung."

Yoongi kembali tersenyum. Menatap Jimin dengan senyuman lembut di matanya. "Kau sudah terlibat sejak awal, Park Jimin. Kau adalah alasan mengapa aku memilih untuk mempertahankan kehidupanku saat ini. Kau membuatku kembali berharap."

"Apakah itu hal yang baik?"

Yoongi menganggukkan kepalanya. "Tentu saja. Dan karena kau adalah alasan di balik kembali menyalanya cahaya di dalam kehidupanku, aku ingin selalu melihatmu bahagia, Park Jimin." Usapan di atas tangan mungil itu terhenti.

"Aku ingin melihatmu bahagia bersama dengan lelaki pilihanmu."

Deggg

Jimin menarik tangannya dari genggaman tangan Yoongi. Menggeleng pelan. Ia tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.

"Aku ingin kau bisa hidup bahagia tanpa harus merasa takut akan ancaman dalam hidupmu."

"Aku pikir kau dan aku sepaham, Hyung."

"Jimin."

"Aku pikir kau mengerti bahwa dirimulah yang aku inginkan. Kenapa kau masih saja tidak mengerti? Kaulah lelaki yang aku pilih." Ia beranjak dari duduknya.

Terkejut ketika dirinya jatuh merunduk dengan tengkuk yang tertahan.

Min Yoongi menciumnya.

Tepat di bibir.

"Aku ingin melihatmu bahagia bersama dengan lelaki pilihanmu." Yoongi mengulangi ucapannya.

"Dan jika itu aku. Maka ...,

"... hiduplah bersamaku, Park Jimin. Selamanya. Saling mencintai. Saling menjaga satu sama lain." Yoongi mengusap pipi Jimin yang mematung kaget.

"Hiduplah bersamaku, Park Jimin. Aku ... menginginkan harapan itu."

***

TAMAT GAK NIH????????????








July, 07th 2026



-01stWings-


Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jul 07 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

BORN OF HOPECerita yang bikin terobses. Temukan sekarang