Warning!
Mild-Language, Mention of Death
Bibir itu tersenyum menyembunyikan perasaan malas dan lelahnya, ketika ia melihat sosok "pahlawannya" masuk ke dalam ruangannya.
Berdiri dari singgasananya, Jungkook menuntun langkahnya menuju sofa di ruangan diikuti langkah Oh Sang Gyeong—sosok yang ia mendapatkan hormatnya selama beberapa tahun terakhir.
Duduk menyilangkan kaki, jemari tangannya bertaut angkuh di atas lututnya. "Aku pikir, Anda mempercayai kemampuanku. Tidak kusangka Anda datang kemari seperti apa yang para pemegang saham lainnya lakukan." Jungkook tersenyum.
Sebuah balasan senyuman tipis itu menjadi bukti bahwa dirinya tengah diragukan. Duduk bersandar pada sofa hitam di belakangnya, kedua tangannya bersandar pada lengan sofa, seraya mengetuk-ngetuk jemari tangan kanan dan kirinya bergantian pada lengan sofa. "Aku hanya merasa sedikit khawatir." Ia maju mencondongkan tubuhnya ke arah Jungkook di depannya. "Apakah pilihanku kali ini salah?"
Jungkook mengangkat satu sudut bibirnya pongah. "Kekhawatiranmu sangat tidak diperlukan, Tuan." Kembali tersenyum, lembut. "Pengorbananmu tidak akan sia-sia. Akan aku pastikan, pengorbananmu hanya akan kembali padamu dalam bentuk keuntungan. Dua kali lipat lebih besar daripada apa yang sudah kau keluarkan." Yakinnya.
"Lalu, bagaimana dengan rumor yang tengah beredar di luar sana?" Pria itu mengerutkan dahinya. "Berita tentang Jung Hoseok yang tengah berada di balik jeruji begitu ramai diperbincangkan."
Jungkook terkekeh kecil seraya menggelengkan kepalanya. "Aku berjanji padamu, Tuan. Gosip murahan itu tidak akan mampu menjatuhkan istana yang sudah ku bangun dengan susah payah."
***
Jimin tengah berjalan memasuki ruangan Hoseok dengan perlengkapan di atas cart yang didorongnya. Hoseok telah mendapatkan izin untuk pulang, administrasinya telah selesai diurus, maka sekarang saatnya Jimin menyerahkan obat pulang dan juga melepaskan jarum infus yang melekat di lengan Hoseok.
Bersama sebuah tarikan napas panjang, Jimin mengetuk pintu kamar Hoseok seraya mendorong pintu itu perlahan. "Aku akan melepaskan jarum di tangan Anda, dan menjelaskan beberapa hal penting perihal perawatan luka dan kondisi berbahaya yang perlu Anda ketahui tentangnya," Jimin menjelaskan seraya memulai pekerjaannya.
Hoseok tidak terlihat mendengarkan semua ucapan yang keluar dari mulutnya, tetapi Jimin memilih untuk masa bodoh. Dia sudah melakukan pekerjaannya.
"Jadi, aku mohon pada Anda, Tuan Jung. Rawatlah luka Anda agar tidak menimbulkan infeksi." Ia berdiri dari tumpuan kedua kakinya. "Aku akan meletakkan obatnya di sini." Ia bergerak menuju meja bed rumah sakit, sebelum akhirnya kembali melangkah menuju pintu kamar.
"Kenapa kau bertingkah sok baik padaku?"
Pertanyaan itu bergaung di udara, hampa.
Sebelum akhirnya, Jimin memutar tubuhnya untuk menatap Hoseok yang duduk bersandar pada ranjang rumah sakit, menatap dirinya nanar.
"Apa kau berpikir, aku sedang bertingkah baik padamu?" Jimin menekan setiap ucapannya. "Aku tidak pernah berpikir untuk melakukannya padamu." Ia menatap Hoseok tajam. "Apa kau pikir, kau pantas untuk mendapatkannya? Setelah semua yang kau lakukan selama bertahun-tahun lamanya kepada suamimu sendiri? Aku hanya bersikap profesional. Ini adalah pekerjaanku, dan kebetulan kau adalah pasien yang berada di dalam perawatanku. Apa aku harus mencampuradukkan urusan hidup dan pekerjaanku? Apa setiap orang selalu melakukannya seperti dirimu?"
Melihat Hoseok hanya terus menatapnya dengan emosi yang memuncak, Jimin melanjutkan ucapannya, "Kau tahu, jika aku boleh menjadi diriku sendiri saat ini—yang mana tentu saja aku diperbolehkan untuk melakukannya, karena pekerjaanku untukmu sudah selesai, aku sangat ingin mengatakan isi kepalaku kepadamu, Jung Hoseok-ssi ...,
KAMU SEDANG MEMBACA
BORN OF HOPE
Fiksi PenggemarA Yoonmin Fanfiction "Hanya karena dirimu. Terima kasih, telah membawaku hidup kembali."
