Pagi ini sungguh panas. Aspal depan rumahku ini,sepertinya bisa menggoreng telur.
Aku masih ditugaskan dikantor. Berbeda dengan Nina dan Astro yang sepertinya asyik skali menjadi mata-mata.
Sebenarnya,ini seperti hukuman. Pak Ilyas tidak mengatakan ini hukuman,tapi aku dan Kiki nyaris tak punya tugas sama sekali. Aku hanya dikantor mengetik laporan lalu sorenya pulang. Bukankah aku detektif? Mengapa bekerja seperti ini?
Kadang aku rasa,aku tak cocok bekerja seperti ini. Menjadi detektif mungkin terlalu keras. Aku cocoknya jadi artis haha. Diantara kami,sesungguhnya wajah sepertikulah yang paling berpotensi. Wajah Astro seperti preman,wajah Kiki seperti homo dan wajahku seperti oppa-oppa tampan di korea sana. Ganteng-ganteng gemessin.
Aku membuka laptop. Rutinitas biasa,membuat laporan dan sisanya menonton film. Sungguh kosong. Lucunya,jika laporanku sudah selesai,tetap saja tak boleh pulang cepat. Harus teng jam 6 sore.
Kiki datang dan membawa mocca lalu meletakkannya di mejaku.
"Baek kan gue?" Kiki menegurku seperti meminta kata "trimakasih"
"MAKASIH" Celetukku sambil senyum tiga jari yang dipaksakan.
"Pelaku nyokapnya Nina belum ketemu?" Tanya Kiki sambil duduk di kursinya.
"Belum lah. Itu bukan orang jauh-jauh kayaknya. Terbukti nyokapnya biarin aja doi masuk. Pintunya gak ada bekas dirusak gitu bro." Jelasku sambil membuka file kasus ibunya Nina di laptop.
"Iyaa sih kalo dipikir-pikir." Jawab Kiki sekenanya. Aku menatap foto-foto TKP di laptop. Mulai dari teras,ruang tengah,kamar,juga ruang nonton. Aku menyipitkan mataku.
"Video nyokap nya Nina ama bokapnya ini brapa lama keputer?" Tanyaku
"Lu ngerasa aneh kan? Ngapain gitu... mutar video masa lalu. Tamu apa sih yang kepo banget sama masa lalu nyokapnya Nina?" Celetuk Kiki.
"Apa mungkin orang dari masa lalu nyokapnya Nina?" Aku mulai berpikir curiga.
"Maksud lo Harry? Gak. Alibinya kuat. Waktu itu doi sama Nina pas kejadian"
"Anak buahnya?"
"Mungkin sih.. cuman kalo gitu kenapa gak sekalian dibunuh aja. Maksud gue,kerjaan anak buah Harry kan selalu bersih meskipun doi matiin orang. Mereka gak pernah buat korbannya cuman sekarat. Pasti mati"
"Lagipula juga,kenapa gunain pialanya Nina? Mereka bisa make senjata mereka. Ini seperti niatan membunuh tiba-tiba. Tapi siapa dari masa lalu yang tadinya mungkin bicara baik-baik lalu tiba-tiba pengen nyelakain?" Sambungku di selingi pertanyaan. Kiki diam saja. Sambil mendekati mejaku dan menggeser laptopku kearahnya. Ingin melihat apa yang kulihat.
"Waktu gue kerumah sakit,dengar-dengar Nina punya saudara. Mungkin gak nyokapnya sodaranya Nina? Karena katanya beda ibu." Terangku.
"Ibunya adek tiri Nina udah meninggal." Celetuk Kiki.
"Meninggalnya karena apa?" Tanyaku merasa ada yang ketemu dengan kasus ini. Bunyi telpon kantor mengalihkanku. Aku malas-malas mengangkatnya.
"Selamat pagi,kepolisian disini. Ada yang bisa kami bantu?" Sapaku seperti biasa mengangkat telpon.
"Pak Ilyas mana?!" Suara diujung telpon itu tak asing. Astro.
"Kenapa lo?" Tanyaku heran dengan suara Astro yang sepertinya ketakutan.
"Pak Ilyas! Gue cari pak Ilyas!" Astro mulai emosi. Dia selalu saja tak pernah beres bicara padaku.
"Pak Ilyas pergi tugas. Lo ada pesan?" Jelasku malas-malas. Aku sebenarnya tak pernah suka Astro. Dia selalu sok segala-galanya.
"Sampaikan ke pak Ilyas... ibu dari Sukma,meninggal! Eh lo harus catat. "
"Iyaa gue catat. Lanjut.."
"Nyokap Sukma meninggal dan salah satu anak buah Harry terlibat namanya Joe. Doi sudah dibunuh. Joe itu disuruh. Gak tau siapa. Nah tolong pak Ilyas bantu pecahin siapa kira-kira yang nyuruh Joe. Ini kasus lagi" jelas Astro.
Mataku terbelalak menatap kertas lalu laptopku. Kebetulan skali. Aku merasa,yang mencelakai ibu Nina orang yang sama yang menyuruh membunuh ibunya Sukma.
KAMU SEDANG MEMBACA
I'm a daughter
ActionAku polisi.. namun bagaimana jika tersangkaku adalah ayahku? Haruskah aku bertingkah seperti anak atau seperti polisi?
