Benar saja Nina membantuku. Dia sering mengirim email tentang kejadian disana.
Tapi seminggu sempat hilang kabar Nina. Sempat membuatku emosi juga disaat hampir saja kupecakan kasus ini.
Tiba-tiba emailnya masuk setelah aku sudah mulai mala berpikir. Bunyi emailnya:
"Seprtinya bokap gue tau,siapa yang menyuruh joe. Blakangan ini setelah meninggalnya Joe keluarga gue dari italy datang. Anehnya jika bokap gue tau siapa pelakunya,kenapa gak ada tanda-tanda 'penghakiman' dari bokap? Apa keluarga dari bokap gue pelakunya?"
Aku berpikir sejenak setelah membaca email Nina. Kepalaku tiba-tiba dipukuli lumayan keras oleh seseorang rasanya tak sakit cuman shock. Aku berbalik dengan sigap dan kuda-kuda berkelahi,ternyata itu Kiki. Kiki sudah tertawa menjadi-jadi melihatku.
Aku kesal dan kembali duduk. Lelah tertawa,Kiki duduk disampingku dan membaca email Nina. Aku tak melarang juga. Jika kularang,terlalu nencurigakan.
"Wahh hebat. Lo main blakang? Lo mau jatuhin Astro?" Itu saja di otak Kiki langsung dia memang benci skali pada Astro. Kebenciannya juga membuatku jijik. Terang-terangan itu rasa iri. Aku berani bertaruh,jika kubilang pada Kiki soal dia iri pada Astro dia akan mengelak bahkan rela sumpah apapun. Huh,calon penghuni neraka.
"Bukan juga mau jatuhin Astro. Cuman gue kepikiran aja tiba-tiba."
"Lanjutin aja broo... gue seneng malah. Kalo lu yang mecahin dia pasti malu stengah mati. Ckck sok pintarr... sok pintar..." celetuk Kiki jengkel. Jujur saja.. jika adu analisis,Astro pasti akan menang lawan Kiki. Memang Astro cerdas. Disisi lain aku tidak suka pada Kiki yang selalu menyangkutpautkan masalah Rea ke kantor. Rea saja tidak pernah muncul belakangan ini. Dia hanya muncul kalo karaokean bareng anak kantor,dia diajak juga,karena Emma dekat sama dia. Yah sejak traveling luar negeri itu,Emma dan Rea mulai dekat.
Tentunya,Emma tau.. siapa yang disukai Rea sebenarnya. Aku curiga memang ada,antara Kiki atau Astro. Cuma Rea ambigu jika berhadapan dengan mereka berdua. Rea malu kepada mereka. Rea juga sering menatap diam-diam mereka berdua. Wanita. Untungnya pacarku tak semembingungkan itu.
Aku membalas chat Nina
"Nin,boleh gak gue sok ngejenguk lo sebagai mantan partner? Gue cuman mau liat kondisi disana"
Kepikiran saja jadi tamu karena mengingat Rea yang sering berkunjung kemari karena Emma. Langsung ada balasan dari Nina.
"Gue gak yakin. Mungkin lo cuma bisa sampe teras. Lo gak mungkin bisa masuk." Segitunya? Pikirku dongkol. Biarlah,dicoba.
"Oke..." jawabku enteng.
Ini memang tak sesuai perintah. Mungkin aku akan dipecat jika ketahuan. Mungkin seharusnya aku bicara pada pak Ilyas. Jika dia melarangku kesana,paati dia punya solusi lain.
***
Pak Ilyas mengisap cerutunya setelah kujelaskan panjang lebar. Aku tak bisa menjelaskan dengan tenang dan santai jika berhadapan dengan pak Ilyas.
Pak Ilyas dari tadi sama skali tak menanggapi ceritaku. Hanya mendengarkan.
"Pergi saja. Kuberi perintah. Jangan terlalu cari tau.. sudah ada Nina dan Astro. Mereka masalahnya tau kau juga detektif. Akan bahaya buat nyawamu jika bertindak sembarangan. Mungkin kau tidak akan pulang. Lalu kemudian kami berusaha menuntut Cipta Ganda. Tapi pengadilan hanya akan menjatuhkan tahanan rumah saja,tak bersalah,atau tak sampai pengadilan. Selalu begitu" Aku bergidik. Kenapa Cipta Ganda selalu bisa lolos? Apa benar ada polisi di kantor ini yang bekerjasama dengan Cipta Ganda? Pasti tak sesederhana itu saja.
KAMU SEDANG MEMBACA
I'm a daughter
AçãoAku polisi.. namun bagaimana jika tersangkaku adalah ayahku? Haruskah aku bertingkah seperti anak atau seperti polisi?
