VE POV"Gue ma..."
"Jess." Suara Naomi memangil ve. Menghentikan ucapan perempuan itu.
"Hi Ta. Lama ga ketumu." Ucap perempuan itu matanya menatap Naomi
Mataku tak henti memperhatikan perempuan itu yang berjalan ke arah Naomi. Perempuan itu terlihat sexy dengan hotpantsnya serta t-shirtnya yang kebesaran
"Aku kangen sama kamu Ta." Bisiknya tepat ditelinga Naomi yang jelas terdengar.
Perempuan itu mencium pipi naomi. Sontak membuatku terkejut dan menjatuhkan pandanganku. Aku pura-pura sibuk dengan handphone ku.
"Huh" hembusan nafas kasar membuatku mengalihkan pandangku.
Ku lihat Naomi duduk disampingku. Meregangkan kakinya. Keringat bercucuran. Nafasnya masih tersanggal. Lucu liat dia seperti ini. Rasanya seperti lihat wajah anak kecil.
Aku mengambil kain mengelap keringatnya dengan sapu tangan bersihku. Dia tersentak kaget. Menyentuh tanganku. Kami berpandangan. Matanya indah dan tajam. Rasanya aku ingin masuk dalam dunianya.
Naomi menghempaskan tanganku. "Ah haus." Ucapnya
membuatku melihat ke air mineral yang telah habis karena membersihkan luka kakiku.Kaki? Bagaimana keadaan kakinya? Ku melihat kakinya yang memerah bahkan terluka. Aku baru ingat, dia bertanding tanpa alas kaki.
"Mi kakimu?" Tanyaku khawatir.
Naomi melihat kakinya. Hanya tersenyum."Ini ga seberapa dibandingkan sakit dibadanku." Ucapnya memperlihatkan memar dibagian tubuh putihnya.
"Kenapa sih kamu kaya gini? Nyiksa diri tahu." Komentar ku.
Naomi POV
Inilah kegiatanku beberapa hari belakangan ini. Mengadu adrenalin dengan bermain street ball tanpa aturan.
kenapa dia ada disini? Seseorang yang paling tak ingin ku temui. Lidya.
Lidya mencium pipiku tepat dihadapan Ve. Kulirik Ve langsung menunduk pura-pura sibuk dengan handphonenya dengan wajah kesal. Kenapa dia? Cemburu?
setelah berhasil melepaskan diri dari Lidya. Aku mendekati Ve. Berbincang dengan Ve tak se- menjengkelkan seperti yang aku pikirikan. Atau mungkin karena wajahnya yang meneduhkan membuatku nyaman.
Aku tahu mata para lelaki liar memperhatikannya. Sama seperti saat aku pertama datang kemari. Bidadari mana yang bisa nyasar ke tempat sampah seperti ini?
Sampah? Bagiku tempat ini pelampiasan terbaikku. Setidaknya aku tak bergaul dengan alkohol atau obat lainnya. Bukankah aku masih dalam batas wajar? Wajar menurutku maksudnya.
"Kenapa sih kamu bisa maen ginian? Nyiksa diri tahu." Komentarnya.
"Aish, kepo banget sih lu!" Gerutuku. "Kalo lo penasaran mending coba aja sendiri sensasinya."
"Ogah." Ve mengembungkan pipi. "Aku keluar dulu ya."
Aku memegang tangannya. "Hati-hati." Ucapku tulus. Seketika wajahnya memerah. Ada apa dengannya?
Entah mengapa aku jadi mengingat kejadian hari ini. Saat Ve mengikutiku. Hingga insiden sepatunya. Senyumku mengembang. Senyum.
Ku merasa pipiku terasa dingin. Sebuah botol minuman dingin menempel di pipiku. Ku mendongkakkan kepalaku. Lidya.
"Nih minumnya Ta." Ucapnya tersenyum. Membuatku jijik melihatnya.
Sebisa mungkin aku mengacuhkannya.

KAMU SEDANG MEMBACA
ROTASI
Fanfiction13 Juni 2015 "Kejutan ini terlalu berat. Aku rasa ini bukanlah kejutan. Lebih tepatnya batu besar yang menimpaku. Aku kapten JKT 48Tim K3. Tidak! Mantan kapten. Dan dipindahkan ke tim J. Dan kejadian ini membuat sisi lain diriku kembali muncul. Namu...