Ve pov
Aku menatap wajahnya. Wajah cantiknya dipenuhi lebam. Mata tajamnya telah menyipit karena lebam. Darah mengering di pelipis matanya dan sudut bibir. Aku tak bisa melihat wajahnya. Aku merasa sakit.
"Maafkan aku ve. Maafkan aku." Ucapnya lagi. "Percayalah padaku bahwa aku tak melakukannya."
aku sama sekali tak melihat kebohongan dimatanya. Tapi bukti itu nyata. Tunjukkanlah dimana letak kebohongan yang sebenarnya.
Tangan naomi sibuk menghapus air mataku. Tangan kanannya mengusap lembut pipiku. Tangan dan sentuhan yang kurindukan.
Wajah naomi mendekat padaku. Semakin dekat. Wajahnya dimiringkan kearah kirinya. Aku menggigit bibir bawahku. Memejamkan mataku.
Kok belum juga sih? Loh kok naomi lama sihh..
"udah ve." Aku membuka mataku. Memasang wajah cengoku. "Ini ve bulu matamu jatuh."
Jleb.. jleb.. udah ngarep dicium. Kan aku kangen bibirnya... ehh?? Kan lagi marahh.. lupaa ahhh..
Tok.. tok..
Naomi bangkit dari jongkoknya menuju pintu. Seorang pelayan sepertinya membawakan kotak obat.
"Sini. Biar aku bersihin lukamu." Ucapku merebut kotak p3k itu.
"Duduk!" Titahku dan naomi menurutinya.
Ku buka kotak p3k itu. Ahh beruntung. Ada Nacl (air infusan) setidaknya kalo pakai ini ga akan terlalu perih. Kubasahi kasa dengan NaCl. Membersihkan lukanya. Setelah itu, setiap luka mengelupas kugunakan obat merah dan kututupi perban. Sedangkan luka lebamnya kugunakan rivanol supaya cepat menghilang.
"kenapa sih pake rivanol segala? Nanti wajahku kuning ve." Kesalnya saat aku mengusapkan cairan kuning itu pada luka lebamnya.
"Biar cepet kempes luka lebamnya." Jawabku.
"Biar aja ve, keliatan keren tau." Tembalnya.
"Keren apa nya?" Ucapku sembari menekan kasanya sedikit kasar.
"Aa..." ringisnya "sakit ve. pelan donk." Gerutunya.
"Itu sakit, yang namanya keren, hah?" Omelku. "Kamu tuh hobii banget, bikin jantung orang copot." Gerutuku.
"Bisa ga nahan sedikit agar wajah cantikmu ini ga ada luka? Seminggu aja. Tiap hari aku bosen liat blush on ungu mu ini." Gerutuku.
"peduli nihhh ceritanya..." godanya.
"Bukan peduli. Ngerusak pemandangan mataku aja. Sayangkan wajah cantikmu ini harus dihiasi warna yang ga perlu ini." Jawabku yang membuat wajahnya memerah.
Tumben dia ngerasa tersipu
"Mi buka baju mu!" titahku.
"Mau apa ve?" Tanyanya bingung. "Kamu ga perlu tukeran baju sama aku ya." Jawabnya asal dan membuatku ingat insiden tukeran celana yang buat aku frustasi.
"Siapa yang mau tukeran baju sih. Aku bukann kamu yang bikin orang..."
"Ahh lupakan. Cepet buka bajumu." Titahku lagi. "Aku cuma mau ngobatin badan kamu mi. Aku cuma mau cek takutnya ada lebam di badan kamu Mi."
"Aku cek sendiri aja deh ve nanti di rumah." Tolaknya.
"Aku bilang. Aku yang periksa keadaanmu naomi. Kalo kamu periksa sendiri, yang ada lukanya ga diobatin." Kesalku.
Aku mendekat kearahnya mencoba menarik bajunya. Namun tangan naomi pun tetap keukeuh mempererat agar sulit terbuka.
Keseimbanganku hilang. Dan aku terjatuh diatas tubuhnya.

KAMU SEDANG MEMBACA
ROTASI
Fanfiction13 Juni 2015 "Kejutan ini terlalu berat. Aku rasa ini bukanlah kejutan. Lebih tepatnya batu besar yang menimpaku. Aku kapten JKT 48Tim K3. Tidak! Mantan kapten. Dan dipindahkan ke tim J. Dan kejadian ini membuat sisi lain diriku kembali muncul. Namu...