"Bintang kerinduan!! Bintang yang ku ciptakan hanya untukmu dan aku!!"
Terdengar samar - samar suara seseorang dari arah belakang yang membuat Kinaya menurunkan kedua lengannya dan perlahan membuka kedua matanya.
"Bintang yang hanya aku dan kau yang tahu!!" lanjut seseorang tersebut.
Merasa suara tersebut begitu sangat Ia kenali Kinaya membalikkan tubuhnya perlahan. Masih dengan air matanya yang mengalir Ia tatap sosok seseorang tersebut dengan lekat. Kedua matanya membelalak tak percaya seakan semua ini nyata baginya. Namun Ia masih terdiam terpaku ditempatnya. Takut semua ini hanya mimpi belaka baginya. Mimpi yang selalu hadir dalam tidurnya.
Dari kejauhan terlihat seorang pria berjalan mendekat kearah Kinaya. Langkahnya begitu pelan. Matanya memerah menahan tangis. Bukan tangis kesedihan melainkan tangis menahan rasa rindu yang selama ini terpendam dibenakknya. Ia pun tak bisa melanjutkan langkahnya tatkala melihat wanitanya terdiam terpaku menatap dirinya dengan tatapan tak terpercaya dan penuh air mata.
"Sebelum aku meninggalkanmu aku pernah mengatakan kalau kau merindukanku maka lihatlah bintang - bintang yang ada dilangit maka aku akan merasakan kerinduanmu!! Begitupun sebaliknya kalau aku merindukanmu maka kau pun akan merasakan kerinduanku, , ,!!"
Kinaya masih terdiam ditempatnya tanpa mengatakan apa pun. Menatap kian lekat pria itu. Namun langkahnya perlahan mendekati pria itu. Pria tersebut kembali melanjutkan ucapannya.
"Dan kalau tidak ada bintang di langit kita bisa membuatnya!! Bintang Kerinduan!! Itulah bintang yang aku namakan untuk bintang kita, , , walaupun tidak memiliki sinar yang terang di dunia nyata tapi sinarnya hanya dapat dirasakan olehku dan juga kau!! Hanya kau dan aku yang bisa merasakan kehadiran bintang ini!! Walaupun tidak ada bintang di langit kau masih bisa melihatnya dan akan merasakan kerinduannya!!"
Tanpa menunggu lama perlahan Kinaya langsung berlari kecil untuk masuk kedalam pelukan pria tersebut. Pria tersebut menyambutnya dengan membalas pelukan Kinaya dengan erat bahkan sedikit mengangkat tubuh wanitanya. Kinaya menangis sejadi - jadinya dipelukan pria tersebut. Begitu pun pria tersebut. Ia menangis karna tak kuasa menahan rasa rindu pada orang yang sudah sangat lama Ia tinggalkan ini.
"Jika semua ini mimpi tolong jangan bangunkan aku dan biarkan aku tetap terlelap dalam tidurku yang panjang agar aku bisa merasakan mimpi ini seperti nyata!! Dan jika ini nyata berikan aku petunjuk jika semua ini adalah benar dan bukan mimpi yang akan segera berakhir dari tidurku!!" ucap Kinaya disela isak tangisnya.
"Kau tidak sedang bermimpi Nay!! Ini nyata!! Semua ini benar - benar nyata!! Ini aku!! Arka!! Ini benar - benar aku!! Aku kembali!! Aku datang untuk menjemputmu!!" ucap Arka sambil sesekali mencium puncak kepala Kinaya. Menghirup dalam aroma tubuh dari wanita yang sangat Ia cintai.
Kinaya melepaskan pelukannya lalu menatap Arka lekat. Benar pria yang kini ada dihadapannya saat ini benar - benar Arka. Pria yang sangat dicintainya. Ia menatap dalam Arka. Terlihat semburat rasa marah padanya saat mendengar semua ucapan Arka. Ia menatap tajam Arka dengan kedua pipi yang masih basah dan mata yang masih mengeluarkan air mata.
"Kau jahat!! Kakak jahat!! Kenapa kakak pergi begitu saja dariku!? Kenapa kakak meninggalkanku tanpa memberi kabar sama sekali padaku!? Dan kenapa kau harus kembali lagi!? Aku benci kakak!! Aku benci kakak!!" ucap Kinaya yang masih terisak sambil memukul dada Arka berulang kali dengan kedua tangannya dengan begitu keras. Arka membiarkan Kinaya melakukannya tanpa berniat untuk menghentikan pukulan tersebut. Perlahan namun pasti pukulan Kinaya melemah. Dengan sigap Arka menangkap kedua lengan Kinaya dan kembali membuat Kinaya masuk ke dalam pelukannya. Ia sandarkan kepala Kinaya di dadanya yang bidang membiarkan wanitanya menangis untuk meluapkan segala rasa yang ada di dadanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Immortal Love (Complete)
Ficción GeneralKinaya Aswadinara dan Arka Adyawiguna Pradipta, sepasang anak manusia yang tidak sengaja bertemu di sebuah perkebunan teh. Keduanya menjalin pertemanan sesaat setelah pertemuan mereka untuk yang kedua kalinya di sebuah taman bermain. Dimana saat itu...
