Athaya melangkahkan kakinya ke ujung tempat itu. Menurut Athaya, tempat ini sudah tidak digunakan lagi. Jadi mungkin, hanya Athaya yang sering ke tempat itu. Athaya bersyukur, jadi dia bisa leluasa menggunakan tempat itu
Tangannya memegang pagar yang di pasang di pinggir tempat itu. Athaya terdiam, dan menutup matanya. Merasakan lembutnya angin malam dan cahaya dari lampu kota. Angin malam ini sangat lembut dan tidak terlalu banyak dan besar
Athaya mengeluarkan dus kecil dari tasnya, rokok. Ia juga mengeluarkan korek apinya. Athaya mulai memasukkan batang rokok itu kedalam mulutnya. Ia menghisap dalam-dalam rokok tersebut, dan menutup matanya, ia menghembuskannya perlahan.
Ia berfikir, apa alasan mama dan papanya berubah? Sifat dan perilaku mamanya sangat berbeda sekarang. Dulu mamanya itu adalah seorang ibu yang penyayang, walaupun ia bekerja tapi ia meluangkan waktu untuk Athaya dan Farrel. Begitupun papanya.
Tapi sekarang, Athaya dan Farrel hanya bisa
bertemu sebulan 3 hari. Itupun kalo mama dan papanya ada di ruang tamu. Biasanya mama dan papanya sibuk di ruang kerja dan bahkan betah di ruang kerja seharian. Tadi sore saat mamanya ada di ruang tamu, Athaya sebenarnya bersyukur mamanya sedang tidak sibuk.
Orang tuanya mulai berubah sikap saat mereka pulang dari Hongkong saat pertemuan rekan kerja mama dan papa. Awalnya Athaya diajak ke hongkong, tapi Athaya tidak mau karena ia ingin menjaga neneknya yang sedang sakit. Sedangkan Farrel tetap ikut ke hongkong
Apakah orang tuanya marah karena Athaya tidak ikut ke hongkong? Tapi itu adalah alasan yang sangat konyol, tidak mungkin hanya karena Athaya tidak ikut orang tuanya jadi sangat membencinya. Sepulang dari Hongkong, orang tuanya mulai jarang bertemu Athaya karena pekerjaan mereka yang menumpuk. Tapi semakin hari orangtuanya semakin kasar dan tidak perduli kepada Athaya.
Walaupun begitu, uang jajan Athaya masih terus berjalan bahkan dilebihkan. Tapi bukan uang yang Athaya mau, ia mau orangtuanya yang dulu. Sekarang orangtuanya selalu memberi apapun yang Athaya ingin kecuali waktu dan kasih sayang.
Sejak dari Hongkong pula kakanya mulai bergabung dengan dunia malam di club. Sering sekali kakanya pulang dengan badan sempoyongan dan kacau. Athaya merasa hancur saat melihat kakanya yang ia sayangi, kacau seperti itu.
Semuanya berawal sejak kepulangan mereka dari Hongkong.
"Apa mereka diracun pake ilmu hitam di hongkong ya?"
Athaya membuang rokok yang sudah mengecil itu. Ia menginjak rokok itu agar apinya mati, ia menutup kembali matanya dan menikmati angin malam. Meskipun Athaya seperti ini setiap malam, ia tidak pernah masuk angin.
—
Athaya memanjat dengan lincah untuk menuju ke kamarnya. Ia membuka perlahan kaca jendela dan gordennya lalu menutupnya kembali, ia menyalakan lampu dan terkaget saat melihat kakanya sedang duduk di kasurnya.
"Ko lo ada disini?! Padahal gue kunci pintunya! Apa jangan-jangan lo bisa nembus dinding? Atau lo punya alat teleportasi?"
"Gue punya kunci duplikat kamar lo, inget?"
"Tai" Athaya berjalan menuju kakanya dan duduk di sampingnya.
"Ke tempat itu lagi?" Farrel bergeser memberi tempat
"Yup, lo ga ke club kan?"
"Engga lagi males kemana-mana"
"Gue harap lo kaya gini selamanya. Bang, dengerin gue, tempat itu bener-bener bukan tempat lu bang. Lu bisa celaka kapan aja di tempat itu maupun abis dari tempat itu" Athaya menatap Farrel dalam
"Itu udah bener-bener tempat gue ngilangin masalah gue. Lo gatau seberapa banyak masalah gue, jadi diem" setelah itu Farrel, bangkit dan berjalan keluar
"Gue bakal dengerin lo cerita kapan pun lo siap cerita" ucap Athaya
Athaya menenggelamkan kepalanya di bantal kesayangannya itu
"Besok pake sekolah segala sih ah, eh btw Vano anak kelas mana? Ko tadi di kelas gaada perkenalan anak baru deh"
"Ah palingan anak kelas sebelah, bodo amat"
"Kenapa jadi mikirin Vano sih ah"
Karena kelelahan Athaya pun tertidur.
—
Athaya memainkan ponselnya, sedari tadi ia mengscroll Instagramnya yang sangat sepi. Sedangkan Pak Irvan berbacot ria didepan menjelaskan materi baru.
Tiba-tiba, dengan tidak sengaja Athaya menghidupkan musik ber-genre rock di hapenya
"Mampus, tamat gue"
"ATHAYA LATFESHA! BERDIRI KAMU DIDEPAN KELAS!"
"Pak! Papan tulisnya jatoh tuh!" Teriak Athaya
"HAH MANA??!!"
Dengan cepat Athaya berlari keluar kelas, 1 detik kemudian Athaya mendengar suara teriakan Pak Irvan meneriaki namanya. Yang dipanggil hanya cengengesan sambil tetap berlari menuju kantin. Ini pertama kalinya Athaya bolos jam pelajaran.
"Bu! Basonya ya, as always" Athaya memberikan uang pas untuk Bu Eulis; penjual baso
"Pan belom bel ai eneng, gaboleh"
Athaya tau bahwa baru saja kemarin Pak Sumsepul, pacar Athaya yang amat sangat tampan melebihi Shawn Mendes menerapkan aturan tidak boleh ke kantin saat jam pelajaran. Ia tau Pak Sumsepul juga memberitahu hal ini kepada penjual di kantin.
Athaya memberikan 100 ribu kepada Bu Eulis
"Bu saya laper, bayangin deh kalau anak ibu kayak saya gimana? Kasian kan? Makanya"
"Nya nggeus lah, sok calik heula atuh, rek nyieun heula" kata Bu Eulis
(Yaudahlah, sok duduk dulu, mau buat dulu)
"Bu Eulis memang paling cantik"
"Eneng ge geulis"
Athaya menuju bangku yang rada pojok, agar tidak terlalu kelihatan keluar. Bisa-bisa ia ditangkap dan dibuang ke kelasnya jika ia ketauan oleh guru yang tidak sengaja lewat kantin.
Pesanan Athaya pun datang dengan segelas es jeruk, Bu Eulis bilang, sekalian takutnya haus. Bu Eulis juga bilang sebagai tanda terima kasih uang 100 ribunya.
Saat sedang asoy makan, Athaya dikagetkan oleh orang yang tiba-tiba datang dan duduk bersamanya. Athaya pun keselek, orang itu menepuk punggung Athaya dan memberi minum
"Gue bisa mati gara-gara lo anjing"
Saat Athaya melihat siapa orang itu, ternyata dia Vano.
"Maaf Thay, maaf banget"
"Udah, gapapa. Ngapain lo disini?"
"Dikeluarin gara-gara ga ngerjain pr"
"Mampus" kata Athaya sambil membersihkan noda makanan di mulutnya
"Kalo lo kenapa disini?"
"Kabur, gara-gara gamau dihukum"
Setelah itu tidak ada percakapan lagi diantara mereka. Athaya masih asoy dengan basonya dan sedari tadi ia menambahkan sambal kedalam mangkuknya, padahal ia sudah kepedasan. Athaya merasa bahwa ia sedang diperhatikan oleh Vano. Dan benar saja dia sedang diperhatikan oleh Vano.
"Gue emang cantik, gausah gitu ngeliatinnya"
"Lo udah kepedesan Thay, nanti lo sakit perut lagi" Vano menyita sambalnya
"Apasih, gue ga gampang sakit juga" Athaya memutar kedua bola matanya
"Puter aja terus sampe bola mata lo copot"
"Apasih rese lo, berisik tauga"
Athaya bangkit dari tempat duduknya dan pergi dari tempat itu. Athaya tidak suka dengan sifat Vano yang seolah-olah mengatur hidupnya. Atau mungkin Athaya-nya yang terlalu sensitif?
KAMU SEDANG MEMBACA
Athaya
Teen Fiction(tamat) Cerita tentang; Athaya Latfesha yang nakal, cuek, dingin, tidak perduli, keras kepala dan mempunyai banyak masalah yang baru saja merasakan apa itu cinta. Bahkan menurutnya perasaannya saat itu lebih rumit dibandingkan apapun. Perasaannya sa...
