Malam kedua di Bali. Dua keluarga itu sedang makan malam diruang makan yang berada di vila tersebut.
Makanan dibuat sendiri. Dibuat oleh Indi, Lala dan Kayla. Ya, walaupun Kayla hanya membantu membuatkan teh dan membantu meletakan makanan yang sudah jadi ke atas meja. Tapi tetap itu namanya membantu kan? Iya kan saja.
"Besok balik ke Denpasar lagi?" Nolan bertanya setelah menelan makanannya.
Aldric menjawab. "Iya. Tapi agak siangan. Soalnya Ayah sama papa mau mancing dulu didanau. Ada yang mau ikut?" tawarnya.
Kayla buru-buru menelan air putihnya. "Aku mau yah! Jam berapa?" matanya berbinar.
"Ayah lupa kalau kamu suka mancing. Jam 7 bisakan, Roy?" tanya Aldric pada Roy.
Roy mengangguk, tidak bisa berbicara karna mulutnya masih penuh dengan nasi.
"Kak besok liat sunrise yuk!" Ajak Kayla pada Nolan.
"Kan tadi udah liat sunset" jawab Nolan santai.
"Itha itut Itha itutt" Litha mengangkat tangan kanannya yang memegang sendok.
"Emang Itha bisa bangun pagi besok?" Indi menyelipkan rambut Litha kebelakang telinga.
"Mama bangunin Itha ya becok," Itha menatap Indi penuh harap.
"Sekarang selesein makannya cepet. Abis itu cuci kaki, gosok gigi langsung tidur. Biar besok bisa bangun pagi" Indi berbicara lembut tapi dengan sedikit nada tegas.
Litha mengangguk lalu kembali melanjutkan makannya.
"Lo gak mau kak?"
"Gak mau apanya?" Nolan mengerutkan keningnya.
"Nemenin gue liat matahari terbit?"
"Kalo kak Nolan gak mau, sama gue aja kak!" Evan bersuara.
"Ya udah. Besok bangun jam lima ya? Gue tunggu di ruang tamu" Kayla mengelap mulutnya, kemudian mendorong kursinya kebelakang bersiap berdiri, "Ani keatas dulu ya, mau tidur. Good night" pamitnya lalu berjalan kekamarnya.
Tanpa disangka, Nolan langsung menyusul Kayla dengan langkah besarnya. Tak lupa, ia sudah berpamitan tadi dengan semua orang yang ada di meja makan.
Saat Kayla hendak membuka pintu kamarnya, tangannya dicekal dengan tangan laki-laki. Kayla mendongak, "Kenapa kak?" kerutan muncul pada dahinya.
"Lo marah?"
Kini, alis Kayla hampir menyatu. Tidak mengerti maksud Nolan. "Marah kenapa?"
"Gara-gara gue gak mau nemenin lo liat matahari terbit besok,"
Kayla tertawa pelan dibuatnya. "Astaga. Gue kira lo maling barang gue" tangannya memukul bahu Nolan pelan.
"Gue serius"
Kayla menarik nafasnya kemudian dihembuskan, menormalkan nafasnya kembali. Lalu menatap mata Nolan serius. "Kenapa?"
"Lo marah sama gue?"
Kayla menggeleng.
"Lo gak bisu kan? Jawab"
Kayla menatap Nolan jengah, salah mulu gue. "Enggak. Masa cuman gara-gara gitu doang gue marah?"
"Terus tadi kenapa langsung naik gitu? Jujur. Lo ngambek kan?"
Kayla mengusap wajahnya frustrasi. "Astaga kak. Gue langsung biar besok gak telat bangun. Apaan sih kak. Ge-er banget"
"Gue mau nemenin lo"
Bukannya terkejut, Kayla malah biasa saja. Iya mengangguk.
"Lo gak seneng ditemenin gue?" Nolan menatap dalam manik mata Kayla.
"Gak seneng gimana? Biasa aja. Udah ya, hp gue dari tadi bunyi tuh didalem." Kayla melepaskan tangannya yang tadi dicekal Nolan. "Langsung tidur. Gue gak mau bangunin lo besok" lanjutnya, lalu langsung masuk kekamarnya.
Nolan masih diam ditempat. Ia menatap pintu kamar yang sudah tertutup didepannya. Gue gak harus cuek kaya gini ke Ani. Gue harus lembut ke dia. Gak. Gue gak boleh cuek kaya gini.
***
Angga sedang duduk dibalkon kamarnya bersama gitar kesayangan. Gitar itu dibelikan oleh papanya saat kelas 2 SD dulu.
Laki-laki itu penatap kosong hp yang tergeletak diatas meja kecil dibalkonnya.
Udah dua hari gue gak line Kayla. Ya kali gue nunggu dia ngeline duluan. Seharusnya gue duluan lah. Gue kan cowo. Line gak ya?
Angga meletakan gitar yang dipangkunya tadi ke kursi disampingnya. Tangannya langsung mengambil benda pipih itu.
Ia langsung membuka aplikasi chat berwarna hijau, di obrolan pertama ada nama Kayla. Dibukanya obrolan itu, tangannya menari lincah diatas layar sentuh itu.
Ingin mengirim pesan yang sudah diketiknya, tapi ia mengurungkan niatnya.
Tangannya malah menelfon Kayla.
Panggilan pertama, gagal.
Kedua gagal.
Ketiga gagal juga.
Keempat, kelima dan keenam masih gagal juga.
Ketujuh, pada sambungan kedua,
"Halo?"
"Halo Kay? Astaga. Gue kira lo gak bakalan angkat." Angga menghembuskan nafasnya lega.
"Sorry kak. Baru selesai makan malem. HPnya gue tinggal dikamar. Ada apa kak?"
"Engga ada,"
"Lah"
"Lagi ngapain, Kay?"
"Bentar kak. Lagi nonton tv aja. Kalo kakak?"
"Tadi bentar itu lo ngapain?"
"Tadi tu gue berdiri. Terus sekarang tiduran"
"Ohh. Gue lagi di balkon nih. Ngeliat orang pada liburan"
"Lo gak liburan kak?"
"Liburan. Tapi empat hari lagi"
"Liburan kemana?"
"Gak tau. Papa gue udah mesenin tiket. Papa gak mau ngasi tau gue. Surprise gitu katanya" Angga menggeleng-gelengkan kepalanya walaupun Kayla tidak bisa melihat disana.
***
Posisinya yang tadi tiduran diatas kasur, sekarang menjadi duduk dipinggir kasur sambil matanya menatap televisi yang nyala dihadapannya.
Perempuan itu tidak berhenti tertawa semenjak masuk kamarnya, kurang lebih sejam yang lalu.
Entah itu tertawa karna lelucon yang dilontarkan oleh seorang lelaki diseberang sana, atau karna tayangan talkshow ditv.
Intinya, tertawa karna ada suatu hal yang lucu.
"Belom tidur kak?" tanyanya setelah melihat jam dinding yang menempel diatas tv. Sudah menunjuk kearah anga sepuluh.
"Belom. Lo ngantuk? Ya udah tidur aja duluan"
Perempuan itu menguap dengan tangan kanan menutup mulutnya. "Iya ngantuk banget nih kak. Gue tidur duluan ya,"
"Good night. Have a nice dream princess Kayla"
Lagi-lagi Kayla tertawa. "Night too" lalu ia memutuskan sambungan telepon.
Kayla mencharger hpnya dimeja samping tempat tidur. Kemudian mulai tidur dengan tv yang masih menyala.
Selalu seperti itu. Dan esoknya, saat ia bangun tidur. Tv itu sudah dalam keadaan mati. Mamanya mengaku setiap jam empat pagi pergi kekamarnya untuk mematikan tv.
KAMU SEDANG MEMBACA
Kayla?
Fiksi RemajaPerempuan biasa, punya cerita yang menyedihkan dimasa lalunya. Bertemu dengan dua orang lelaki yang sangat baik kepadanya. Dua orang lelaki itu adalah sahabat dari SD. Mereka berdua mencintai Kayla. Perempuan biasa yang tidak gampang terbuka. Cuek...
