"Flor lo liat polpen gue gak?" Citra terlihat gelisah sambil bisik-bisik saat ujian Fisika. Sementara, Flora terlihat berkonsentrasi penuh membaca soal ini. Sial, gara-gara kejadian tadi malam, gue gak belajar. Iya, Flora langsung tidur sesampainya di rumah Citra. Berusaha melupakan masalahnya.
Hari ini Flora terlihat begitu berantakan. Kantung matanya membesar dan matanya masih sembab. Wajahnya kusut.
"Gak tahu Cit..."
"Gue pinjem polpen lo deh kalau gitu.
Flora hanya mengangguk.
Citra langsung mengobrak-abrik isi kotak pensil Flora. Ia langsung mendengus, "Heh geblek. Ini polpen gue. Kebawa lo?"
Flora menoleh sedikit kemudian nyengir lebar, "Hehe gak sadar."
"Citra! Flora! Keluar kalau tidak mau ikut ulangan!" Nada tinggi Pak Erhas langsung membuat Citra dan Flora menundukkan kepalanya dalam-dalam. Gemetar.
Suasana kelas kembali hening. Semua orang sibuk mengerjakan soal ulangan Fisika ini. Wajah mereka semua seketika pucat pasi. Flora membenturkan kepalanya perlahan ke meja. Putus asa. Sementara, Citra malah tidur di sampingnya. Ia tahu, kertas gadis itu hampir terbilang kosong, maksudnya tak ada jawaban. Gadis itu hanya menulis ulang pertanyaan dan apa yang diketahui. Bahkan rumus saja tak tahu. Flora terkekeh.
Flora mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kelas. Terlihat jelas wajah teman-temannya begitu putus asa. Kemudian, pandangannya jatuh pada laki-laki dingin yang duduk sendiri di ujung kelas dan bangku paling belakang. Laki-laki itu sedang tidur. Yang bener aja, dia gak ngerjain? Bentar, apa peduli gue?
Waktu berjalan begitu cepat dan Flora hanya bisa mengerjakan 2 dari 5 soal, sementara Pak Erhas sudah meminta semua murid untuk mengumpulkan jawaban. Ia jadi begitu pesimis. Sepertinya, rencana untuk lepas dari Farshad bisa gagal. Flora hanya bisa menghembuskan nafasnya putus asa. Ini semua karena kejadian tadi malam.
~~~
"Gimana? Lo bisa jawab?" Citra tersenyum meremehkan. Sudah jelas ia tahu bahwa Flora tak bisa menjawab soal itu, dan ia masih mempertanyakannya. Citra sedang menjahili Flora.
"Ck, resek lo masih nanya," ucap Flora sambil berdecak.
"Bagus dong kalau lo gak bisa jawab."
"Kok bagus sih?"
"Ya jadinya lo bakal belajar private sama Farshad setiap hari hahahah."
Flora langsung menjitak kepala Citra sambil mendengus.
Mereka berdua saat ini sedang melangkah menuju kantin. Muka Flora berlipat-lipat karena begitu manyun. Yang ada di kepalanya saat ini adalah rencana untuk bisa terlepas dari Farshad. Namun, otaknya seakan buntu tak bisa berbikir. Ia saat ini berada di jalan buntu, tak bisa keluar.
Tak ada pilihan lain selain mengikuti permainan Bu Siska.
Flora tak menyadari kalau ada seorang laki-laki yang tersenyum kepadanya. Pikiran Flora melayang entah kemana.
Citra menyenggol lengan Flora, "Flor, itu siapa senyumin lo?"
Flora tersadar dari lamunannya, kemudian senyum Flora merekah. Laki-laki itu menghampiri Flora, masih dengan senyumannya. Walaupun ia merupakan adik kelas Flora, tetap saja tubuhnya lebih tinggi dibanding Flora. Tubuh Flora hanya setinggi hidungnya.
"Hai Kak Flora," sapa Nino sambil tersenyum manis.
Yang Flora sadari saat ini adalah bahwa Citra tertegun melihat senyum manis Nino. Siapapun yang melihat senyuman itu tentu saja akan terkesima, seperti yang dilakukan Citra saat ini. Dan Flora hanya terkekeh.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hear My Voice
Teen Fiction[COMPLETE]Flora Callia Valerie, atau sering dipanggil Flora. Cewek populer, cantik, tapi ditakuti cowok. Cewek tomboy yang jagonya berantem. Tapi kalau urusan pelajaran, dia mundur. Bukan karna gak pinter, hanya karna malas. Walaupun terkenal serem...
