Flora telah menguatkan tekadnya. Ia akan belajar Fisika malam ini. Dulu, Flora adalah anak yang begitu rajin. Namun, sejak Ibunya meninggal, semangat belajarnya menurun. Alhasil, prestasi Flora pun menurun.
Baru saja Flora hendak membuka buku Fisikanya, tak lama kemudian sebuah klakson mobil terdengar di depan pagar. Ayahnya telah pulang.
Flora tersenyum lebar. Tanpa mempedulikan buku Fisika, kali ini ia malah melangkah turun ke lantai 1. Ingin menyambut Ayahnya.
Tanpa butuh waktu lama, pintu rumah pun terbuka, "Assalamu'alaikum," ucap lelaki berkacamata dengan suara dingin.
"Wa'alaikumsalam. Selamat datang Pa!" Flora berusaha tersenyum semanis mungkin. Ia kemudian melangkah mendekat, berusaha mengambil tas milik Ayahnya. Namun, Ayahnya tetap membawa tasnya dan hanya melewati Flora begitu saja. Lama kelamaan senyum itu memudar.
"Papa udah makan?" tanya Flora berusaha mengajak bicara Ayahnya. Ayahnya kali ini diam saja dan terus melangkah menuju tangga. Lebih parah dari kemarin karena kemarin Ayahnya masih bisa menjawab pertanyaan Flora.
Flora menyusul dan berusaha menyejajarkan langkahnya, "Pa, Flora sama Bi Wulan masak ayam bistik dan acar kesukaan Papa loh. Papa yakin gak mau makan?" tanya Flora lagi.
"Flora, kamu bisa diam tidak?!" Kali ini Ayahnya menghentikan langkah kakinya, ia menoleh ke arah Flora dan melemparkan tatapan tajam setajam pisau belati. Flora menunduk.
Setelah itu, Ayahnya berusaha melangkah lagi ke atas. Flora buru-buru menggenggam tangan Ayahnya.
"Papa masih benci sama Flora?" tanya Flora lirih. Air matanya keluar perlahan. Ia masih menundukkan kepalanya dalam-dalam.
"Flora, Papa gak mau bahas ini dulu. Papa capek." Suara dingin laki-laki itu mampu membuat hati Flora ikut membeku. Laki-laki itu lantas menghempaskan tangan Flora kasar.
"Papa berubah..."
Ayahnya menghela nafasnya kasar, "Kamu yang bikin Papa berubah!" ucapnya kali ini dengan nada tinggi.
Tangisan Flora semakin kencang. Wajahnya memerah, "Apa sulit Pa buat mencintai anak sendiri? Atau apa sebenarnya Flora ini anak pungut? Kenapa Papa nganggap Flora gak seperti anak kandung? Sebenci itu Papa sama Flora? Kenapa gak sekalian Papa usir aja Flora!" Kali ini Flora balik membalas ucapan Ayahnya dengan nada tinggi. Flora lama-lama tak kuat menghadapi sikap dingin Ayahnya ini.
Plak.
Satu tamparan kuat itu sukses membuat air mata Flora mengucur lebih deras. Pipinya tak sesakit hatinya. Hatinya terluka, dan tak ada obat untuk menyembuhkan hatinya ini.
"Iya Papa benci sekali denganmu. Baguslah kalau kamu mau keluar dari rumah ini. Silahkan. Pintu rumah terbuka lebar!" Ayahnya melangkahkan kaki dengan begitu geram. Ia tak mempedulikan lagi anaknya yang begitu terluka.
Flora menghapus air matanya dan ia berlari menuju ke kamar. Ia langsung mengepak barang-barangnya dengan cepat. Ia menarik handphone-nya. Kemudian mencari nomor kontak sahabatnya di sana. Flora menekan tombol hijau untuk melakukan panggilan.
Tanpa butuh waktu lama, gadis di ujung sana sudah mengangkat telepon Flora.
"Iya, kenapa Flor?"
"Gue malam ini nginap di rumah lo ya Cit?" Suara Flora yang terisak tangis ternyata terdengar hingga di ujung sana.
"Flor, lo kenapa? Lo berantem lagi sama bokap?"
"Ceritanya panjang Cit. Pokoknya, gue langsung ke rumah lo."
"Iya Flor. Gue jemput ya? Lo dimana?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Hear My Voice
Fiksyen Remaja[COMPLETE]Flora Callia Valerie, atau sering dipanggil Flora. Cewek populer, cantik, tapi ditakuti cowok. Cewek tomboy yang jagonya berantem. Tapi kalau urusan pelajaran, dia mundur. Bukan karna gak pinter, hanya karna malas. Walaupun terkenal serem...
