41. You shouldn't Fall in Love

39.4K 2.9K 68
                                        

"No, gue keluar dari sekolah." Setelah mengucapkan kalimat itu, detik itu pula Nino langsung menepikan mobilnya. Ia menoleh ke arah Flora, tak percaya.

"Apa Kak?" tanyanya memastikan. Takut ada yang salah dengan pendengarannya.

"Gue keluar dari sekolah. Pindah ke Ausie," ulang Flora. Matanya menatap lurus ke depan. Takut menatap langsung mata Nino.

"Kenapa?" Nino melebarkan matanya. Ia menatap wajah Flora.

"Gue bosen aja sekolah di situ hehehe." Flora nyengir lebar, kali ini ia memberanikan diri menatap Nino.

"Saya gimana? Pasti ada alasan lain. Kak Flora gak mungkin semudah itu keluar dari sekolah."

Flora menghela nafasnya pelan, "Lo gak bakal mati kalau gak ada gue hahaha." Flora tertawa garing namun Nino tahu benar bahwa tawa itu hanya dibuat-buat. "Lagian kan ini jaman canggih. Ada skype, hp. Kita bisa chattingan atau telponan. Saling kirim e-mail juga bisa. Lo gak usah khawatir."

"Gak bisa gak pindah?"

"Keputusan gue udah bulat, No." Flora kembali menatap jalan di depannya, "Gue mau membuka lembaran baru. Gue juga sekalian berobat di sana dan ikut bokap gue kerja." Flora menghela nafasnya, lagi.

"Saya gak bisa maksa Kakak buat ngubah keputusan itu." Nino ikut menghela nafas, wajahnya terlihat begitu kecewa, "Tapi, tetap hubungi saya ya?"

Flora hanya mengangguk.

"Kak Citra udah tahu?"

Flora menggeleng lemah, "Gue belum bisa kasih tahu dia. Gue yakin dia pasti nahan gue buat pergi. Mungkin pas gue mau berangkat baru gue kasih tau."

"Menurut saya, Kak Citra lebih baik dikasih tau malam ini atau besok. Dia pasti marah banget kalau Kakak baru kasih tahu dia pas berangkat."

"Iya. Nanti gue pikir-pikir lagi." Flora tiba-tiba teringat akan sesuatu, "Eh No. Sebelum gue pergi, gue bisa minta tolong lo? Anggap aja permintaan gue sebelum pergi," tambahnya sambil menoleh ke arah Nino.

"Minta tolong apa?"

"Farshad hari ini gak masuk sekolah. Entah kenapa perasaan gue gak enak. Lo bisa antar gue ke rumahnya?"

Detik itu pula Nino menghela nafasnya panjang.

~~~

Flora mengetuk pintu rumah Farshad beberapa kali, bahkan ia memanggil-manggil nama Farshad. Tak ada jawaban.

"Ih kemana ya Farshad?" tanya Flora pada dirinya sendiri sambil meremas-remas tangannya. Ia mulai khawatir.

"Mungkin keluar, belum pulang ke rumah," jawab Nino sedikit dingin.

"Iya kali ya? Tapi... No, bisa antar gue ke tempat kerjanya aja gak? Ke panti juga? Gue bener-bener harus ketemu dia. Ada yang mau gue balikin."

Nino mengangguk sabar sambil sesekali sedikit tersenyum. Tak apa, ini permintaan Flora sebelum pergi jauh. Nino tak mungkin menolaknya.

~~~

Flora menggigit bibir bawahnya. Manajer restoran tempat Farshad bekerja berkata bahwa Farshad tidak masuk kerja, kemudian saat ke panti, Flora juga mendapatkan berita yang serupa. Farshad tak ada. Menghilang seakan ditelan bumi.

Hear My VoiceCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang