[COMPLETE]Flora Callia Valerie, atau sering dipanggil Flora. Cewek populer, cantik, tapi ditakuti cowok. Cewek tomboy yang jagonya berantem. Tapi kalau urusan pelajaran, dia mundur. Bukan karna gak pinter, hanya karna malas. Walaupun terkenal serem...
Sudah 3 hari Flora tak keluar dari kamarnya. Ia terus mengunci diri. Berapa kali pun Bibi Wulan mengetuk pintu, Flora tetap tak menghiraukannya. Gadis itu tetap mengurung diri di kamar. Ia juga tak mungkin beralasan keluar kamar untuk pergi ke toilet karena di dalam kamarnya sudah ada toilet. Untuk beribadah pun Flora hanya perlu berwudhu di dalam kamar.
Terkadang ia menangis sambil mengadu pada Tuhan mengenai kehidupannya yang begitu menyedihkan. Apa Tuhan tak mencintainya? Terkadang pula ia menitip salam pada Ibunya melalui Tuhan. Semoga Ibunya bisa memeluknya saat ini walaupun Flora tak bisa melihatnya.
"Neng Flora... buka Neng, makan dulu..."
Flora tak mendengarkan. Ia hanya menatap kosong jendela besar di kamarnya sambil menyandarkan samping tubuhnya.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Handphone-nya terus bergetar. Namun, Flora sama sekali tidak berniat untuk membuka pesan yang terus masuk ataupun mengangkat setiap panggilan masuk. Yang ia butuhkan adalah sendiri. Entah sampai kapan.
"Flora, buka pintunya." Suara dingin yang khas itu terdengar dari luar menembus hingga ke dalam kamar. Flora mendekap tubuhnya sendiri dengan kaki yang terlipat. Ia membenamkan wajahnya diantara lengannya yang terlipat.
Bagaimana rasanya dicintai Ayah?
Flora pikir bila ia pergi dari rumah, bisa membuat Ayahnya berubah. Ayahnya memang membawa pulang dirinya, namun sikapnya tak berubah sedikitpun. Apa tak bisa Flora dengar ucapan Papa mencintaimu atau maafkan Papa. Kenapa kata-kata sederhana itu begitu sulit diucapkan oleh Ayahnya sendiri? Apa Ayahnya memang benar-benar tak pernah menganggap Flora sebagai anaknya?
Kalau Papa bilang sayang atau maaf, masalahnya gak akan serumit ini. Flora cuma butuh itu.
"Flora. Mau sampai kapan kamu mengurung diri?" Ayahnya tetap mengetuk pintu, "Dokter Dhena, psikiatermu sudah datang. Cepat buka pintu."
Flora menutup telinganya, "FLORA GAK BUTUH PSIKIATER!!" pekik Flora putus asa, Flora butuhnya Papa. Kenapa Papa masih gak ngerti?
Flora melempar vas bunga kaca yang ada di dekatnya ke pintu hingga vas bunga itu pecah berkeping-keping. Flora bertaruh, Ayahnya di depan pasti sangat terkejut karena ini pertama kalinya Flora marah besar.
"Mungkin besok saja Mas. Kita tak bisa memaksanya." Terdengar suara seorang wanita di depan. Suaranya tak begitu nyaring, tapi Flora masih bisa mendengar suaranya samar-samar.
Tak lama kemudian terdengar suara derap kaki yang lama-kelamaan semakin menghilang. Flora yakin, psikiaternya itu sudah pergi.
"Mau sampai kapan kamu begini?" ucap Ayahnya dengan suara rendah. Air mata Flora mengucur lagi.
Papa yang bikin Flora begini. Papa yang maksa Flora jadi begini. Harusnya Flora yang bertanya, mau sampai kapan Papa benci Flora?