Farshad segera membuka pesan itu. Tapi kemudian ia mengurungkan niatnya setelah membaca nama pengirim pesan.
Sialan.
Ia langsung memasukkan handphone-nya ke dalam saku celana tanpa membaca isi pesan tersebut terlebih dahulu. Flora menengok Farshad sekilas. Sedikit penasaran, tapi ia tak berhak tahu mengenai hal itu.
Jam mulai menunjukkan pukul setengah 6. Farshad berdiri dari tempatnya duduk, "Ini lo baikin dulu. Masih ada yang salah. Tapi, gue mau ke masjid dulu," ucapnya pada Flora,"Lo shalat di masjid. Gue gak punya mukenah," lanjutnya.
"Gue lagi gak shalat."
Farshad mengangguk. Ia kemudian pergi beribadah ke masjid dan meninggalkan Flora sebentar. Tapi, sebelum ia pergi ia mengatakan sesuatu pada Flora, "Jangan sentuh macem-macem."
Flora hanya nyengir lebar.
~~~
"Lo minta jemput di lapangan basket aja. Jangan di rumah gue." Farshad melangkah ke luar rumah bersama Flora. Mereka selesai belajar tepat pukul 7. Memang sudah diperhitungkan oleh Farshad bahwa mereka akan selesai pada jam itu, karena Farshad harus bekerja di shift malam hingga pukul 12.
Seharusnya, Farshad hari ini bekerja mulai habis maghrib, namun ia telah meminta ijin pada bosnya untuk mengajari Flora. Ia hanya tak ingin melepaskan tanggungjawabnya untuk mengajari Flora.
Flora mengerutkan alisnya, "Emang kenapa?"
"Gak usah nanya bisa?"
Flora memutar kedua bola matanya. Nyebelin.
Walaupun Farshad meminta Flora agar dijemput di lapangan basket, Farshad tetap mengantar Flora hingga ke lapangan basket. Ia tak mungkin meninggalkan Flora sendiri di malam hari seperti ini, meskipun masih pukul 7. Karena, komplek rumah ini terbilang sangat sepi di malam hari. Bahkan pukul 7 malam saja sudah sepi.
Mereka berdua berjalan berdampingan menyusuri jalan. Bulan ikut mendampingi mereka untuk menerangi jalan. Keduanya saling bungkam. Sempat beberapa kali Flora menengadah ke atas untuk memperhatikan Farshad. Wajah laki-laki itu terlihat cerah di bawah sinar rembulan.
Flora tersenyum. Kali ini, entah kenapa Flora mengakui wajah Farshad yang cold nampak begitu tampan bila diperhatikan lama-lama. Astaga, apasi yang gue pikirin.
"Jangan liatin gue terus." Ucapan Farshad itu membuat Flora sedikit terkejut.
"E-enggak kok. Ta-tadi ada nyamuk di muka lo makanya gue liatin." Flora mengumpat dalam hati setelah mengatakan hal itu, bego banget Flor itu alasan macam apa coba.
Mereka bungkam lagi.
Tak lama kemudian, mereka sama-sama melewati depan rumah besar bercat putih bak istana dengan pagar bercat keemasan yang menjulang. Awalnya, Flora ragu dan gemetar. Tapi, kemudian ia melangkah dengan pasti. Tenang Flor, Papa pasti belum pulang.
Namun, dugaan Flora salah. Flora berhenti tepat di depan pagar melihat pemandangan di depannya. Ia gemetar dan mengepalkan tangannya dengan kuat. Giginya gemeretak, dan rahangnya mengeras. Air mata mungkin bisa saja keluar saat itu pula, namun Flora masih bisa menahannya.
Farshad yang melangkah lebih cepat baru menyadari bahwa Flora tak ada di sampingnya. Ia kemudian menoleh ke belakang dan menghampiri Flora. Ia berniat menarik tangan Flora, namun niatnya ia kurungkan ketika melihat wajah Flora seperti itu.
Farshad menjatuhkan pandangannya tepat ke arah yang sama dengan yang dilihat oleh mata Flora.
Seorang laki-laki tampan berkacamata keluar dari mobilnya. Ia tak langsung masuk ke dalam rumah, karena setelah itu ia membuka pintu mobil belakang. Seorang wanita bertubuh tinggi semampai keluar dari pintu belakang samping kiri, dan tak lama kemudian seorang laki-laki paruh baya keluar dari kursi kemudi. Satu yang bisa Farshad simpulkan, laki-laki itu supir pribadi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hear My Voice
Teen Fiction[COMPLETE]Flora Callia Valerie, atau sering dipanggil Flora. Cewek populer, cantik, tapi ditakuti cowok. Cewek tomboy yang jagonya berantem. Tapi kalau urusan pelajaran, dia mundur. Bukan karna gak pinter, hanya karna malas. Walaupun terkenal serem...
