Erik diam, memandang sebuah tablet obat yang ia temukan di bawah lipatan baju di lemari Syera saat ia ingin memberikan kejutan pada wanita itu, sebuah kalung, hadiah pertama untuk wanitanya yang selama menikah tak pernah ia belikan apapun selain makanan.
Dia membalik tablet obat yang bagian atasnya terdapat sobekan, juga beberapa rongga obat yang sudah kosong. Keningnya mengernyit, melihat tanda panah yang berurutan pada bagian belakang tablet tersebut, yang juga terdapat nama hari.
"Ini obat apa?" Dia berpikir sejenak. "Apa Syera sakit, makanya dia diem banget beberapa hari ini?" Takut, mendadak menyerbu pria itu. Karena jika wanita itu sakit dan merahasiakan hal itu padanya, berarti jenis penyakit yang menimpa Syera bukan penyakit yang ringan, kan?
Penasaran, Erik segera mengambil ponselnya untuk memfoto tablet obat itu dan menanyakan pada salah satu teman kantornya yang menikah dengan seorang dokter. Sambil menanti jawaban, Erik menyimpan kotak beludru merah berisi sebuah kalung dengan hiasan mutiara pada liontinnya, ke bawah lipatan baju Syera.
Pria itu berjalan ke arah dapur, menenangkan diri yang mendadak gusar dengan setengah botol air dingin. Beberapa kali ia melihat ponselnya, dan belum ada jawaban apapun dari temannya yang juga belum membaca pesannya.
Lima menit menanti. Dering ponsel yang berbunyi, malah merupakan tanda panggilan dari adik tercintanya.
"Bang! Aku belum beli kue. Aku masih di kantor ini. Beliin, bang!"
Pria itu langsung berdecak mendengar informasi dari adiknya. "Ya udah! Abang suruh Syer-"
"Abang aja! Syera lembur juga, kan? Nanti keburu tutup toko kuenya!"
"Kamu tuh selalu gitu, ya? Ya udah!"
Pria itu mematikan panggilan setelah Rika mengucap salam, Sekali lagi ia melihat pesan yang ia kirim pada temannya. Tak ada tanggapan juga. Membuang rasa gelisah, Erik memilih untuk segera pergi membeli kue ulang tahun untuk ibunya.
Mungkin temannya sedang sibuk, jadi belum bisa membaca pesannya sekarang.
*
Syera diam bersama Shaka di dalam mobil pria itu. Shaka memaksa Syera untuk mengantar wanita itu pulang sampai tujuan, tapi Syera berkilah jika di kosannya ada sang ibu yang sedang berkunjung. Jadi dia hanya diantar hingga jalan raya tak jauh dari kosan Emma.
"Aku turun," ujar wanita itu yang sudah kehabisan kata. Dia baru saja menggali lubang kuburnya sendiri dengan menerima tawaran Shaka untuk berpikir selama dua minggu. Padahal ia tahu, meski Shaka meminta satu tahun pun, dia tetap akan meminta putus.
Syera hanya mengiyakan agar selama di Jogja, Shaka tak begitu memikirkan perpisahan mereka. Tapi detik di mana ia menyetujui permintaan Shaka, bayangan Erik yang mengatakan cinta padanya membuat ia menyesal sejadi-jadinya.
Dia hanya takut, bagaimana jika pria itu nanti tahu kalau Shaka masih menjalin hubungan dengannya? Dia juga tak mau membuat pria itu kecewa. Dia terlalu takut, berpisah dari pria besarnya itu. Membayangkannya saja dia tak sanggup.
"Syer," panggil Shaka menghentikan kekasihnya. Jemari pria itu meraih jemari Syera dan mengusapnya lembut. "Perjuangan kita sudah begitu panjang. Kamu ngga mau ini berakhir sia-sia, kan?"
Syera mengangguk. Dia tak mau semua perjuangannya dengan Shaka berakhir sia-sia. Namun bukan berarti mereka harus bersama, kan? Syera sadar, jika dia dan Shaka tak akan pernah menjadi kita. Karena menyematkan kata kita di antara dirinya dan Shaka hanya melukai diri Syera sendiri. Karena kata kita tak akan pernah ada dalam hubungan dua orang yang tak saling melengkapi. Shaka mungkin merasa lengkap jika bersama Syera. Namun Syera merasa kosong, meski ada ribuan Shaka dalam dirinya. Potongan hatinya sudah diambil dan disusun rapi oleh pria lain. Dan itu bukan Shaka.
KAMU SEDANG MEMBACA
Perfect Agreement
RandomTak ingin menikah karena dijodohkan. Tak ingin pernikahannya dikontrol oleh orang asing tak dikenal. Pria dan wanita yang tak cukup akur sebagai teman apalagi sahabat ini memutuskan untuk menikah dengan alasan yang sama. Pernikahan yang tak diatur a...
