Saat ini Syera tak tahu harus kecewa pada siapa. Orangtuanya, Erik, atau dirinya sendiri. Dalam diam, menatap pesannya yang sama sekali tak mendapatkan balasan, Syera memilih untuk kecewa pada keputusan bodohnya.
Andai dulu orangtuanya tak memaksa ia putus dari Shaka. Mungkin dia sekarang masih dengan pria itu. Atau jika dulu orangtuanya tak begitu memaksa dirinya untuk menikah. Ia tak mungkin meminta Erik untuk menikahinya. Atau jika dulu ia mendengarkan dan menuruti ultimatum dari Erik. Mungkin sekarang mereka masih bersama.
Kini, memilih untuk memblokir satu-satunya komunikasi di antara dirinya dan Erik. Syera ingin ia tak perlu lagi berharap akan waktu yang sudi bergulir ke belakang dan akan ia perbaiki semua kesalahan. Dia tak ingin lagi berharap pada Erik yang tak ingin memberinya kesempatan.
Seperti kata ibunya. Semua orang berhak untuk memaafkan dan menerima. Pun sebaliknya. Dan setiap orang pun berhak untuk bahagia meski pendosa sekalipun. Dan dia kini memilih untuk bahagia dengan jalannya sendiri.
Memilih terpejam di pukul satu malam. Sebuah ketukan di pintu menuju balkon membuat ia memicingkan mata, mengintip siapa yang berdiri di balik pintu tersebut dan memanggilnya dengan bisikan pelan.
Berdiri dan membuka tirai dengan pelan, ia terkesiap melihat siapa yang datang. Pria di balik pintu kaca itu tersenyum dan melambaikan tangan. Syera mengerjap tak percaya. Bagaimana pria itu bisa di sini dan mau menemuinya? "Aku masuk," ucap pria di luar sana dengan suara pelan agar tak terdengar oleh penghuni rumah yang lainnya.
Syera menggeleng sambil menggerakkan kedua tangan. "Ngga ada kunci," jawabnya tanpa suara.
Pria di luar sana menunjukkan sebuah kunci di tangannya, dan dengan senyuman lebar ia membuka pintu balkon dengan begitu pelan.
Masuk tanpa kembali menutup pintu balkon, pria itu mengedipkan sebelah matanya. "Hai cantik, apa kabar?"
Tak mengelak untuk tersenyum di antara isak yang mendadak turun, Syera menggeleng. "Buruk."
Desahan pelan pria itu lantas terdengar. "Sejak kapan kamu jadi cengeng?"
"Sejak kamu bilang kalau aku layak mendapatkan kebencian dan perceraian."
Pria itu mengangguk, lalu memberikan pelukan singkat pada wanita yang kembali rapuh setiap kembali ke orangtuanya. "Sampai berapa lama aku bisa benci ke kamu, Syer?" Dia melepaskan pelukan pada tubuh yang ia rasakan lebih kurus dari dua bulan yang lalu itu. "Aku selalu ada untuk kamu, semarah apapun aku sama kamu. Aah ... khawatir aku sama kamu."
"Kenapa?"
Pria itu mengedikan bahu sambil bergerak menuju ranjang dan merebahkan tubuh di sana. Mungkin karena sudah terlalu lama membuat ia tahu bagaimana Syera dan tak pantasnya wanita itu dibenci untuk lebih lama. "Syer," panggilnya pada Syera yang kini duduk di sisi ranjang di bawahnya.
Wanita itu menoleh pada si tamu tak sopan, yaitu Shaka yang bangkit, duduk di sampingnya. "Jadi, apa gerangan yang membuat tuan Andra menjodohkan anaknya dengan lelaki beristri?" tanya Shaka dengan kata dibuat-buat.
Syera menggeleng. "Ngga tau. Tapi kok kamu tau?" Wanita itu langsung memicingkan mata curiga. "Eh ... kaca mata kamu mana?" Dia malah membahas hal lain sambil membersihkan daun kecil di rambut Shaka.
Shaka lantas melebarkan matanya. "Aku pakek softlens." Lalu mengedarkan pandangan dan berdiri untuk meraih sebuah snack di atas nakas. "Teh Ida kan langganan jait ibu. Tau teh Ida, kan? Tetangga kamu yang warungan itu."
Syera langsung mengangguk.
"Nah pas aku di rumah tadi sore. Dia ambil bajunya. Terus bilang sama aku kalau kamu mau dijodohin sama Kang Rasyid, padahal baru dicere kamunya."
KAMU SEDANG MEMBACA
Perfect Agreement
RandomTak ingin menikah karena dijodohkan. Tak ingin pernikahannya dikontrol oleh orang asing tak dikenal. Pria dan wanita yang tak cukup akur sebagai teman apalagi sahabat ini memutuskan untuk menikah dengan alasan yang sama. Pernikahan yang tak diatur a...
