40 Kisah Mereka

59.2K 9.5K 1.5K
                                        

Ketika pertama kali mata terbuka, yang Syera tangkap adalah plafon putih dengan lampu dikelilingi tempelan bintang. Dia mengerjap, tahu di mana dirinya berbaring sekarang.

Dengan pakaian yang sama dengan yang ia pakai semalam, Syera bangkit, memindai setiap penjuru kamarnya. Kamarnya. Bukan kamar Erik. Dan tak ia temukan siapapun kecuali dirinya yang terpampang di depan kaca dengan tampilan yang tak bisa dikatakan sebagai penampilan manusia normal.

Matanya membengkak, maskara membuat matanya seperti kuntilanak, rambut pirangnya yang sudah tumbuh nyaris mendekati pinggul seperti hutan belantara tak berpenghuni.

Dia kacau. Kacau dengan segelintir ingatan. Tadi malam setelah mendapatkan kata cerai, yang Syera ingat hanya sebuah kecupan ringan di kening, lalu semua menggelap. Dan kemudian ia lupa apa yang terjadi.

Sepertinya Erik membawa dirinya ke kamar ini, merapikan kembali roknya yang tadi malam pria itu turunkan, lalu tampaknya ia ditinggal sendiri.

Pingsan. Ditinggal pergi. Apa pria itu tak sama sekali takut jika dirinya mendadak mati?

Mendengus geli dengan pikirannya sendiri, Syera menurunkan kaki, seketika dingin merayapi hingga ke ulu hati.

Diam meresapi terpaan AC yang tertempel di dinding hadapannya, pikiran wanita itu kembali lari pada kata cerai yang Erik ucapkan. Dia menunduk, rasanya menangis sudah mendesak untuk dikumandangkan.

Tapi ia menggeleng, menyadari jika menangis tak akan membuat semuanya menjadi lebih baik.

Lagi pula lupakah dia, jika terlahir bukan untuk menjadi wanita protagonis dalam ceritanya sendiri. Dia adalah wanita antagonis yang tak akan menghabiskan waktunya untuk diam di kamar, menangis, meraung, menyiksa diri kurang kerjaan.

Jadi, menahan kuat air mata yang akhir-akhir ini sepertinya selalu menghiasi kisah hidupnya. Syera bangkit, mencari ke mana pun ponselnya berada.

Sampai di luar, diam sejenak di hadapan pintu kamar Erik yang terbuka dan jelas tak menampilkan sosok yang ingin ia ajak bicara. Syera pergi ke ruang tamu dan menemukan ponselnya tidur merana di atas lantai.

Lantai itu mengingatkan dirinya atas apa yang ingin Erik perbuat. Sebenarnya kalau bisa, Erik lakukan saja hal itu. Biar mereka impas. Satu sama. Sama menyakiti. Sama menderita. Sama kecewa. Setelah itu, pasti semua akan terasa lebih mudah. Mereka kembali lagi setelah sama-sama melakukan kesalahan.

Tapi sayang. Si pria besar itu terlalu baik hati. Jadi lah sekarang, kebaikan pria itu membuat Syera harus terjebak dengan rasa bersalah sendiri.

Bergerak mengambil ponselnya, ia beruntung benda itu masih berisi cukup daya untuk menghubungi Rika. Tapi hal itu ia urungkan ketika ada banyak panggilan tak terjawab dari Vita ibu mertuanya, Kholis ayah mertuanya, lalu Rika dan beberapa pesan dari Vita dan Rika.

Tubuhnya yang lemah, mendadak luruh ke lantai. Mengelak untuk menangis sambil menatap pesan ibu mertuanya yang bertanya mengapa mereka bercerai, dan menganggap sebuah pernikahan sebagai permainan, Syera menenggelamkan wajah ke antara lutut yang terlipat.

Mengapa Erik harus bergerak begitu cepat? Mengapa Erik harus mengatakan jika pernikahan mereka sebagai pernikahan kontrak kepada keluarga pria itu?

Seingatnya dulu ia tak pernah memberikan tenggat waktu untuk pernikahan ini. Semuanya hanya berisi perjanjian-perjanjian konyol tanpa tenggat waktu apapun.

*

Duduk santai di hadapan kedua orangtuanya yang menatap Erik dengan tatapan tak tahu harus berbuat apa, Erik mengambil koran di atas meja yang sedari tadi tak disentuh ayahnya.

Perfect AgreementTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang