Hasna memperhatikan putrinya yang sudah siap dengan penampilan syar'i seperti yang Andra inginkan. Tapi dia mencebik tak rela, ketika anaknya harus diubah menjadi orang lain meski itu baik bagi Syera. Tapi bagaimana jika Syera diubah agar terlihat baik hanya untuk memuaskan manusia?
"Teh," panggilnya menatap Syera yang masih menggunakan manset tangan.
"Ya, mam?" Syera menoleh pada ibunya, kemudian tersenyum saat melihat tetesan air mata wanita paruh baya itu lagi. "Jangan nangis, mah. Syera susah kalau apa-apa mamah nangis gitu." Beringsut manja mendekati ibunya yang masih hampa dengan nampan di pangkuan, Syera memeluk Hasna dari samping.
"Teh, kalau tahu ada perjanjian begini, kenapa mesti nikah kontrak?"
Syera diam, menikmati aroma ibunya yang khas aroma bumbu pertanda jika wanita ini berada di dapur sedari tadi. "Ngga ada pernikahan kontrak."
Hasna mengerutkan kening, menatap putrinya. "Tapi ak Erik bilang?"
Syera tersenyum, mengecup bahu ibunya. "Teteh selingkuh sama Shaka."
"Astaghfirullah, teh!" Hasna melepaskan rangkulan putrinya dan memberikan tatapan marah. "Teteh kenapa gitu?!"
"Ngga tau, mah. Syera ngga tau kalau hubungan pernikahan Syera bisa sejauh ini." Wanita itu masih menahan tangisnya. Takut jika itu terjadi ia tak akan bisa berhenti.
Hasna menggeleng lemah tak tahu apa yang dipikirkan putrinya selama ini. Tapi ia tak langsung menghakimi karena menunggu putrinya menceritakan semuanya.
Syera diam sejenak, setelah menceritakan poin-poin masalah yang ada dalam rumah tangganya. Kemudian menatap ibunya, dan melanjutkan. "Waktu Erik suruh putus sama Shaka, teteh iyain. Tapi ngga. Teteh ngga tega. Tapi bukan berarti teteh ngga mikirin Erik, mah. Teteh cuma bingung." Ia menunduk. "Teteh tau harusnya teteh utamain pernikahan teteh, perasaan Erik. Bukan perasaan Shaka." Dia menggeleng lemah. "Gitu deh." Menatap pintu yang tiba-tiba terbuka dan menampilkan Santi yang melongokkan kepala.
"Tamunya nunggu, neng geulis. Aduuuh cantiknya." Santi berdiri dan mendekati Syera dengan girang. "Iih ... jilbabnya bagus," puji Santi yang sudah tahu apa yang terjadi dengan Syera dari Hasna tadi.
"Jilbab dikasih papah dulu. Nti mau? Nanti buat Nti."
Santi mengangguk cepat. "Tapi heunte nanaon, kitu?"
"Ngga apa-apa." Syera berdiri melihat ibunya yang hanya diam. "Mamah ngga ikut liat tamunya?"
Yang ditanya menggeleng. "Teteh aja. Mamah di sini."
Syera menurut. Ia kemudian menepuk bahu Santi dan meminta untuk menjaga ibunya.
Rasanya berat ketika kaki melangkah menuju ruang tamu. Seperti ada ribuan ton benda yang menahan kakinya untuk menuruti keinginan gila ayahnya.
Tapi Syera yang notabene sudah pasrah, enggan melawan lagi, karena selain ia lelah hati dan pikiran, tubuhnya juga sudah tiada daya.
Tiba di ruang tamu, seorang pria dengan penampilan yang tak jauh dari kata pria saleh, meski dia datang tanpa menggunakan baju koko dan celana dasar melainkan gaya berpakaian pria milenial dengan janggut tipis di dagu, menyapanya ramah.
Kaku, Syera duduk di hadapan pria itu tanpa memberikan seulas senyum pun.
"Saya Rasyid."
"Tau."
Pria itu langsung mengulum senyumnya. "Jika kedatangan saya mengganggu, mengapa tidak menolaknya?"
Syera menatap pria itu, kali ini menyunggingkan senyum miringnya. "Ketika seorang wanita baru dicerai oleh suaminya, dan kemudian dipaksa pulang oleh ayahnya untuk bertemu pria idaman sang ayah, mengapa tidak si pria idaman ayahnya itu yang menolak untuk datang, setidaknya memahami kondisi wanita yang ingin dikenalkan."
KAMU SEDANG MEMBACA
Perfect Agreement
RandomTak ingin menikah karena dijodohkan. Tak ingin pernikahannya dikontrol oleh orang asing tak dikenal. Pria dan wanita yang tak cukup akur sebagai teman apalagi sahabat ini memutuskan untuk menikah dengan alasan yang sama. Pernikahan yang tak diatur a...
