Wanita itu sudah tampil rapi dengan kemeja berlengan panjang, dipadupadakan celana jeans menutupi sepanjang kakinya. Sedang Erik seperti biasa menggunakan kaos dan celana pendeknya.
Keduanya sudah siap sejak lima menit yang lalu. Berpikiran untuk segera keluar dari kamar hotel dan segera pulang ke rumah orangtua Syera. Tapi tubuh mereka malah berhenti di balik pintu saling perpagutan seakan tiada hari esok untuk saling bertukar saliva.
Ini di luar rencana. Tapi rencana apapun yang sudah mereka rancang akan segera batal jika kulit mereka saling bersentuhan dan menciptakan sengatan-sengatan kecil bagi keduanya. Jadi selesaikan dulu hajat mereka, baru meneruskan rencana yang tertunda.
Tapi sepertinya tidak pagi ini di saat mereka sudah rapi dan mandi. Syera menjauhkan kepala, dengan tangan merangkul leher Erik. "Kita harus pulang," tekannya yang hanya dibalas kerlingan jahil suaminya. Syera berdecak, namun tergoda untuk mengecup sekali bibir Erik. "Ayo," ujarnya lagi dan kali ini dijawab dengan anggukan tegas Erik.
"Yok, ke ranjang."
Lantas saja Syera memukul kepala belakang suaminya. Ia melepas diri, sebelum dirinya juga ikut hilang kendali. "Buruan ah!" Lalu memilih keluar terlebih dahulu.
Bersama dengan Erik, berduaan di dalam kamar terlebih sehabis berciuman, adalah godaan terbesar bagi Syera untuk melucuti seluruh pakaiannya dan memasrahkan diri pada sang suami. Ya ampun! Mengapa sih sekarang Erik pandai sekali membuat dirinya basah berkali-kali.
Erik hanya tertawa saja mengikuti Syera. Pria itu segera mensejajarkan langkah dengan istrinya dan menggandeng wanita itu mesra. "Laper nih, Syer."
"Nanti di rumah aja makannya, ya?"
Mereka masuk ke lift, mengambil posisi di sudut. Syera menempelkan kepala pada bahu suaminya dan terpejam. Dia mengantuk setelah kemarin melakukan perjalanan melelahkan, malamnya Erik yang memiliki stamina bagai kuda itu menghajarnya hingga larut malam.
Hanya sepuluh menit waktu yang dibutuhkan untuk sampai di rumah orangtua Syera. Dan tiba di sana mereka langsung disambut keterkejutan Maya yang tengah menyirami bunga di taman. Maya adalah kakak ipar Syera yang usianya di bawah Syera dua tahun. Maya adalah adik kelasnya saat SMA.
"May eeh teeh!"
Turun dari mobil, Syera langsung meninggalkan suaminya yang canggung. Pria itu sebelumnya baru datang tiga kali ke rumah Syera setelah menjadi suami istri. Kedatangan pertama mereka disibukkan dengan acara syukuran anak Maya yang baru lahir. Kedatangan kedua dan ketiga yang hanya satu hari tanpa menginap itu banyak ia habiskan di rumah nenek istrinya karena entah alasan apa, Syera enggan berlama-lama di rumah.
"Syera, tumben pulang lebih awal. Biasanya males-malesan."
Syera mencibir mendengar sindiran Maya. "Erik maksa. Mau jadi mantu yang baik dia." Wanita itu menurunkan ransel di punggungnya untuk mengambil sebuah kotak hadiah. "Nih! Alat make up. Dipakek, jangan terlalu nyaman sama muka lecek dan daster kucel! A' En kabur tau rasa!"
Dengan senang hati Maya menerima pemberian adik iparnya yang tak pernah pulang dengan tangan kosong. "Ya kucel begini kan karna duit dijatah ngepas!" gerutu Maya pelan dan langsung direspon Syera dengan petuah brengseknya. Seperti biasa.
"Lagian lo, udah kerja bagus-bagus malah dilepas." Dia kembali mengenakan ranselnya. "Kalau udah begini, mau gimana? Lo apa-apa minta sama suami. Mending dikasih lebih. Cukup aja alhamdulillah."
Kaum pria memang tak bisa dengan mudah dipercaya. Awalnya mengaku cinta. Namun tak lama terkikis jua. Mulai mengatur ini dan itu, membatasi ini dan itu, namun memberikan kebahagian tak pernah sempurna. Termasuk kakaknya. Syera juga tak mempercayai pria itu bisa bersikap seperti layaknya jagoan yang baru jatuh cinta.
KAMU SEDANG MEMBACA
Perfect Agreement
RandomTak ingin menikah karena dijodohkan. Tak ingin pernikahannya dikontrol oleh orang asing tak dikenal. Pria dan wanita yang tak cukup akur sebagai teman apalagi sahabat ini memutuskan untuk menikah dengan alasan yang sama. Pernikahan yang tak diatur a...
