Seperti baru lepas dari borgol dan jeratan jeruji penjara. Syera yang semalam sudah tidur sepanjang perjalanan, pagi ini kembali tidur, padahal sebelumnya ia sedang mencari ponselnya, tapi bukannya mendapatkan ponsel yang entah raib ke mana. Syera malah mengambil jaket Erik yang menggantung di belakang pintu, menciumi baunya yang dia tebak jika jaket kulit itu baru ada beberapa hari di gantungan, tercium dari aroma Erik yang masih menempel erat. Dan membawanya ke alam mimpi setelah merancang puluhan kata untuk memaki Shaka.
"Syer! Lo tidur? Makan yok! Udah siang ini."
Mengusap wajahnya, Syera segera menjawab panggilan Rika. Berdiri, Syera menarik napas dalam sebelum membuka kunci pintu.
Dia agak gugup. Bukan karena dua bulan tak berjumpa, tapi karena dia merasa hubungannya dengan Rika dan keluarga sahabatnya itu sedang dalam masa uji coba menerima.
Menerima kesalahannya. Meski itu tak harus dilakukan. Syera sendiri tahu dan sangat sadar diri jika kesalahannya tak bisa dimaafkan begitu saja. Dia malah berharap mendapatkan tamparan dan caci maki agar semua terasa impas.
Tapi sepertinya keluarga Kholis ini memang tercipta untuk menjadi keluarga yang menjunjung tinggi perdamaian. Jadi bukannya memaki Syera yang sudah bersalah, malah menerimanya dengan tangan terbuka.
"Mama sama papa pergi kondangan. Lo tidur dari tadi, Syer?"
Syera menatap Rika yang duduk di hadapannya. "Iya. Ngantuk banget," jawabnya menatap nasi yang Rika ambilkan untuknya.
"Lo diem banget sih, Syer?"
Lagi, Syera menatap Rika dan tersenyum ringan. "Setelah apa yang gue lakuin, kayaknya gue lebih pantes dapet minimal cacian dan satu tamparan, Ka." Dia menggeser piringnya, melipat tangan di atas meja. "Gue ngga mau aja kalau penerimaan kalian ini bakal jadi boomerang di kemudian."
Rika lantas berdecak. "Lo ngomong apa sih, Syer?" Wanita itu meneliti wajah Syera yang kini fokus menyuap nasi tanpa lauk ke mulutnya. "Shaka udah jelasin sejauh apa hubungan kalian selama ini. Sebel sih, kenapa lo ngelakuin itu di dalam pernikahan. Apalagi abang gue yang lo sakiti. Tapi ... kalau inget kalian nikah tanpa ada rasa apalagi perjanjian-perjanjian itu. Abang sempet cerita itu. Kayaknya apa yang lo lakuin itu semacam cari kenyamanan dan kepastian yang ngga bisa abang gue kasih."
Syera mengedikan bahu. Dia tak tahu harus menimpali apa semua yang ia lakukan. Dia hanya tahu jika dirinya bersalah, dan berhenti melakukan pembelaan. Percuma juga. Sudah dicerai.
"Syer, ini cuma soal lo bohongin abang gue demi Shaka? Ngga ada yang lain?"
Hembusan napas pelan Syera tiup dari bibir. "Soal KB. Kayaknya itu deh yang paling utama." Lalu mengibaskan tangannya. "Udahlah. Ka, nanti gue pinjem hape lo, ya? Hape gue ngga ketemu."
Jelas saja tak ketemu. Karena sudahRika sembunyikan sebelum Syera bangun pagi tadi. Melakukan apa yang diperintahkan Andra meski Rika belum tahu apa hubungannya.
"Mau nelpon siapa?"
"Shaka."
"Kenapa? Gue ngga punya nomornya."
"Gue hapal, kok. Eh iya, Ka. Abang lo belum tau kan gue di sini? Gue nanti pergi setelah mama papa pulang." Dia menggeleng pelan. "Gue belum siap ketemu abang lo."
Rika mengangguk pelan. "Sori ya, Syer. Gue jadi kayak temen jahat gitu. Harusnya kan soal KB itu gue kasih tau abang, kalau lo udah ngga konsumsi lagi. Terus soal chat gue kemaren di grup. Serius, gue gitu cuma karena gue ngga mau lo ngarep aja."
Syera terkekeh. "Keliatan banget yah gue masih ngarep. Udah ngga kok, tenang aja." Ia kibaskan tangan, lalu melihat beberapa lauk pauk buatan Vita yang tak menarik minatnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Perfect Agreement
AléatoireTak ingin menikah karena dijodohkan. Tak ingin pernikahannya dikontrol oleh orang asing tak dikenal. Pria dan wanita yang tak cukup akur sebagai teman apalagi sahabat ini memutuskan untuk menikah dengan alasan yang sama. Pernikahan yang tak diatur a...
