46 Arti Berjuang

70.9K 10.4K 1.7K
                                        


Pria yang memutuskan tak mengenakan kaca mata lantaran berniat menerobos diam-diam ke kamar mantan kekasihnya dengan menekan semua rasa kecewa dan sakit hati hanya demi sebuah rasa khawatir itu menghentikan mobil di depan sebuah rumah tanpa pagar, yang halamannya penuh dengan berbagai jenis bunga dan sebuah ayunan.

Beberapa detik melihat rumah itu antara yakin dan tak yakin. Lalu melihat Syera yang sedari tadi tidur dengan pulasnya. Tersenyum, ia kembali menatap pada rumah yang dulu sering ia kunjungi ketika Syera masih mengekos di depan rumah itu.

Perlahan mematikan kendaraannya dan membuka pintu berusaha tanpa suara. Shaka menarik napas berat, berjalan ke rumah tersebut dan mengetuk pintunya pelan.

"Assalamualaikum," salamnya agak tak enak karena bertamu di subuh hari.

"Assalamualaikum," salamnya lagi dan tak lama mendapatkan sahutan dari dalam.

Berdiri gelisah, Shaka berdoa semoga dia tak diamuk oleh tuan rumah.

"Shaka?"

Sapaan dengan nada tak diharapkan segera masuk ke dalam pendengaran Shaka yang memberikan senyuman pada si pembuka pintu, Rika.

"Ngapain lo ke sini?" Rika menyipitkan mata penuh curiga. Kan aneh, selingkuhan mantan kakak iparnya berdiri di depan rumah orangtua dari pria yang disakiti.

Shaka mengusap tengkuknya, seketika merinding. "Eng ... Rika, tante ada? Mau ngomong sama tante."

Memutar bola matanya, Rika langsung bersedekap. "Lo udah dateng pagi-pagi buta! Terus nyariin emak gue! Mau ngapain?!"

"Penting, Rika." Shaka menoleh ke arah mobilnya. Berharap Syera tak bangun. "Tolong banget."

Berdecak, Rika kemudian meminta Shaka menunggu di luar. Tak lama dia muncul bersama sang ibu yang sudah cerah, hanya karena mendapatkan tamu yang datang tak diundang, dan berharap pulang tak minta antar. "Shaka, ya?"

Mengangguk sopan, Shaka tersenyum. "Maaf tante ganggu jam segini. Em...." Sekali lagi Shaka menoleh ke mobilnya. "Tante, Shaka ke sini sama Syera."

Rika lantas melotot dengan tampang tak percaya mendengar ucapan, Shaka. "Setdah! Kalian masih sel--"

"Bukan-bukan," sela Shaka cepat dengan kibasan tangannya. "Jadi gini. Saya bantu Syera kabur."

Rika dan Vita langsung menganga bodoh. Shaka yang mengerti kebingungan sedang melanda ibu dan anak di hadapannya ini segera menceritakan apa yang ia tahu, tanpa menutupi apapun, termasuk hubungannya dengan Syera. Dia mengaku tak tahu jika Syera sudah menikah, dan menyampaikan terkaannya jika Syera tak segera memutuskannya bukan karena cinta, tapi karena tak tega. "Jadi gitu, tante. Eng ... saya ngga bisa biarin Syera naik pesawat sebelum ada pemeriksaan lanjut. Tapi diagnosa saya tadi bisa saja salah, karena saya hanya memeriksa dari denyut nadi dan perutnya. Tapi saya harus antisipasi jika ternyata pemeriksaan saya benar. Makanya, Syera saya bawa ke sini, karena kalau saya bawa pulang, om Andra bisa ngamuk dan nyangka saya bawa kabur Syera."

Vita yang mendengar semua penuturan Shaka langsung mengurut keningnya yang mendadak pusing. "Ya Allah, ya Allah. Ulah Erik ini. Itu anak kalau ngga buru-buru ambil keputusan pasti ngga gini," ujarnya mengeluh.

Rika yang mendengar penuturan Shaka lantas diserbu rasa bersalah. "Rika lupa, ngomong sama abang soal KB. Syera KB, tapi baru beberapa hari minum udah Rika suruh berhenti."

Lantas saja Vita memberikan tatapan tajam pada putrinya. "Kamu itu, ya?! Kalau ada informasi penting, langsung--"

"Em ... tante maaf." Shaka memotong ucapan Vita cepat. "Takut kalau Syera bangun--"

Perfect AgreementTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang