Ishak masuk ke dalam rumah, memanggil istrinya yang langsung menghampiri. "Wi, kasih Erik obat luka, sama penghilang nyeri. Terus buatkan dia teh hangat sama sarapan." Setelah istrinya mengangguk, Ishak langsung berjalan menuju tangga mengabaikan tatapan ayahnya.
"Mau ke mana, ak?" tanya pria paruh baya itu, dan yang ditanya terus berjalan tanpa menoleh.
"Panggil teteh, suaminya datang," jawabnya kemudian sedikit heran mengapa Syera tak keluar kamar padahal keributan di sini lumayan membisingkan.
"Ngapain?! Syera ngga ada! Disuruh kabur sama mamah tadi malam!" sela Andra cepat, kemudian berjalan menuju meja di ruang keluarga, menyalin beberapa alamat dari buku tebal di atas kertasnya.
"Maksudnya?" Ishak turun meminta penjelasan pada sang ibu.
Mendesah pelan, Hasna segera menceritakan apa yang ia lakukan tadi malam.
Menyugar rambut ke belakang, Ishak menampilkan wajah frustasinya. "Terus gimana? Itu anak orang sudah dihajar sampai begitu tapi yang mau dijemput malah kabur."
Andra mengangkat kepala, menatap putranya. "Syera sudah ketemu." Lalu berdiri, dengan selembar kertas di tangannya.
"Ketemu?" Ishak menatap ibunya lagi dan Hasna langsung saja menceritakan apa yang Vita ceritakan padanya.
"Ya ampun!" Ishak menggeleng pelan, lalu menjatuhkan pandangan pada ayahnya yang ingin menemui Erik. "Papa mau ngapain?"
"Udah. Kamu jangan bilang Syera ada di rumah orantuanya. Biar papa kasih pelajaran--"
"Pelajaran apa lagi?!" Ishak segera menghadang sang ayah. "Udah dipukulin, ya udah! Ngga usah ditambah-tambah lagi, pa!" tentangnya keras pada Andra. Selama ini yang bisa menentang Andra dengan bijak memang hanya Ishak.
Namun dia tak menentang perihal perjodohan Syera dan Rasyid karena ia sudah terlanjur sakit hati pada Erik yang membiarkan adiknya pulang sendiri mengendarai motor, dalam keadaan yang pasti kalut karena baru dicerai. Selain itu kesal karena Erik membuat adiknya jatuh cinta, lalu diceraikan. Meski semua kesalahan juga bermula dari Syera.
"Udah! Kamu ngga perlu ikut campur! Biar Erik itu belajar arti berjuang."
"Kalau begitu papa juga harus mengerti arti berjuang melawan ego! Ya Allah, pa! Ishak kesel sama Erik. Sakit hati, kecewa! Tapi dilihat juga kondisinya! Syera yang mulai, dan emosi Erik terpancing! Udah lah, ngga usah ngajarin arti berjuang sama Erik. Kalau dia ngga berjuang, dia ngga akan diam waktu kita hajar tadi."
Andra mulai gentar. Didikan tegasnya berhasil pada Ishak yang meski mudah emosi namun masih bisa mengontrolnya dengan baik. Tapi ketika dihadapkan pada kondisi seperti ini, Andra kesal juga, karena Ishak selalu menentangnya.
"Semakin tua, semakin dewasa, pa!"
"Udah, ak! Kamu ngga usah ikut camput urusan pa--"
Kertas di tangan pria itu langsung saja Ishak rebut, dan melihat apa yang Andra tulis. "Ini untuk apa?!" tanyanya pada Andra yang langsung memasang wajah geramnya. Tapi tidak dengan Hasna yang bisa bernapas lega. Beruntung di keluarganya dia masih memiliki anak yang lumayan waras.
Merebut kertas tersebut dari Ishak, Andra melotot tajam pada putra pertamanya itu. "Biar dia usaha, cari Syera!" Kemudian pergi menemui Erik yang sedang diobati lukanya oleh istri Ishak. "Wi, masuk kamu!"
Lalu mendekat setelah menantunya pergi. Erik yang duduk di bangku panjang segera mendekati Andra, menahan untuk tak meringis kesakitan.
"Syera kabur!"
Dan dua kata itu berhasil menambah sakit di tubuh Erik hingga menjadi dua kali lipat parahnya. Dia mengerjap, tak tahu harus memberikan respon apa atas informasi dari Andra. Meski ia belum sepenuhnya percaya akan informasi tersebut.
KAMU SEDANG MEMBACA
Perfect Agreement
RandomTak ingin menikah karena dijodohkan. Tak ingin pernikahannya dikontrol oleh orang asing tak dikenal. Pria dan wanita yang tak cukup akur sebagai teman apalagi sahabat ini memutuskan untuk menikah dengan alasan yang sama. Pernikahan yang tak diatur a...
