Erik masih terpaku, memperhatikan ekspresi terkejut Syera, yang secepatnya berganti dengan gugup. Wanita itu tampak memaksa untuk mengeluarkan berderet kalimat, yang Erik tangkap sebagai bentuk pertahanan diri.
"Aku cuma mampir," ucap wanita itu mulai bergerak mundur, jelas sekali ingin segera kabur.
Saat Syera berbalik, dengkusan samar Erik segera meluncur bersama langkahnya yang bergerak mendekati Syera yang akan mencapai pintu. Siapa yang percaya kata mampir yang keluar dari bibir wanita itu? Mampir dan masuk ke kamar orang sembarangan begitu? Mampir dan menggunakan kamar mandi pribadi orang begitu? Mampir. Harusnya Syera memberikan alasan lain yang tidak menimbulkan geli dalam benak Erik.
"Kamu mau kabur?"
Gerakan Syera yang ingin membuka kunci pintu segera berhenti di udara.
"Kabur sekali lagi, aku bakal nyeret kamu untuk kembali ke sini," lanjut pria itu.
Syera yang diam, makin terpaku sambil mencerna setiap kata yang Erik ucapkan. Mengerjap, mengambil semua kesadarannya, wanita itu segera berbalik, menyambut sosok Erik yang sudah tepat di depannya membuat ia terkesiap kaget.
"Astaghfirullah!" pekiknya cepat. Tak butuh waktu lama untuk membuang rasa terkejut, Syera mengerjap, memperhatikan dengan teliti setiap lebam di wajah Erik yang tak bisa mengurangi kadar ketampanan pria itu. Nyatanya dalam keadaan begini, feromon Erik masih bekerja dengan baik untuk memikatnya.
"Ka ... kamu tau aku kabur?" Syera diam lagi di bawah tatapan tajam Erik yang siap menelanjangi tubuhnya yang sudah kegerahan. Ya ampun. Dia tak bohong saat mengatakan tubuh dan hatinya ini murahan jika berhadapan dengan Erik. "Kamu ... ke Bandung?" Tanya itu meluncur agak ragu karena mengingat kemustahilan Erik datang untuk dirinya.
"Menurut kamu siapa yang bisa bikin aku babak belur begini, kalau bukan papa dan dua kakak kamu yang ngga mungkin aku balas."
Syera menganga, kemudian mengatupkan rahangnya dengan bibir bawah yang ia gigit bersama rasa berbunga. Erik dihajar karena dirinya. Erik pergi ke Bandung untuk dirinya. Ya ampun! Syera kesusahan menelan salivanya sendiri.
"Gimana caranya kamu kabur di saat kamu meminta rujuk?" Erik semakin mengikis jarak di antara mereka, mengirimkan sentuhan pada bahu Syera, dan mencengkramnya lembut.
Dari sekian banyak tanya di kepalanya, Erik harus konsentrasi untuk mengungkapkan satu persatu dengan baik. Berada berdekatan dengan Syera setelah dua bulan berpisah, rasanya seperti mimpi. Mimpi yang membuatnya ingin mengungkapkan betapa bodohnya ia yang terus menyangkal rasa rindu. Bodohnya dia harus terus menanam amarah pada Syera yang bahkan tak bisa dia lupakan meski menahan diri untuk tak menjalin komunikasi selama dua bulan. Bodohnya dia membiarkan Syera lepas, di saat dirinya bisa membalas kebohongan Syera dengan cara yang lain selain sebuah perpisahan. Sekarang setelah melihat wanitanya berdiri menatap dengan tatapan tak percaya, rasanya Erik ingin mengubur semua tanya, karena tubuhnya jauh lebih ingin menyentuh, membuktikan jika Syera yang berdiri di hadapannya adalah Syera yang selama ini mengganggu tidur, dan mengusik hatinya.
"Kamu...." Napas Syera tiba-tiba tersengal. Jemari Erik melepaskan ransel yang ia kenakan dengan gerakan seduktif, lalu merambat menuju leher dan dagunya, memberikan usapan yang menimbulkan rasa tak asing. Sekarang katakan siapapun yang bisa memberikan jawaban. Bagaimana caranya dia harus tenang?
Syera mencoba menahan diri dengan semua sentuhan Erik. "Kamu ngga balas pesan aku!" Dia mulai bergetar, dengan napas tak beraturan.
Erik masih setia dengan tatapan menghujamnya, mendekatkan wajah dengan Syera yang mendongak, menyatukan udara panas dari hembusan napas mereka. "Kamu yang meminta kesempatan, harusnya memberi waktu lebih dari 1x24 jam."
KAMU SEDANG MEMBACA
Perfect Agreement
RandomTak ingin menikah karena dijodohkan. Tak ingin pernikahannya dikontrol oleh orang asing tak dikenal. Pria dan wanita yang tak cukup akur sebagai teman apalagi sahabat ini memutuskan untuk menikah dengan alasan yang sama. Pernikahan yang tak diatur a...
