CHAPTER 05; VOKALIS?

176K 13.6K 189
                                        

"Hei, kamu. Jangan terlihat begitu menyakinkan kalau ujungnya ingin meninggalkan."

__Ananda Gaby Fredella__

***

Awalnya Nanda khawatir Bara akan menahannya lebih lama, karena ia sungguh harus berangkat kerja. Namun, meski melarang, akhirnya pergi juga setelah mengatakan segala kalimatnya. Seperti sebelum-sebelumnya, ia pergi diam-diam saja.

Nanda bekerja di café yang sedikit jauh dari rumahnya karena tantangan dari papanya. Beliau yang berkata bahwa jika ingin tinggal berpisah, maka harus membayar sendiri bangunannya. Karena sejujurnya, Nanda mengerti Papa tidak mau Nanda tinggal jauh darinya, sebagai orang tua ia sudah pasti khawatir.

Namun, Nanda menyanggupinya, ia balik menantang karena tidak terima atas kenyataan beberapa tahun lalu yang terjadi dengan keluarganya. Nanda yang mengatakan bahwa uang yang digunakan papanya untuk membayar rumah akan ia ganti, karena ia sunguh ingin tinggal berpisah.

Sebelum masuk café yang tempat favorit muda-mudi, Nanda melihatnya di ujung sana, bersandar di motornya. Bara yang bersedekap dada memperhatikan dirinya dari kejauhan.

Nanda tidak ingin ambil pusing, ia lelah atas cowok satu itu. Jadi, ia berjalan dengan pasti untuk menghiraukan Bara, karena ia rasa cukup untuk waktu yang sia-sia karena Bara.

"Ditungguin juga." Rina, pemilik café kekinian yang sering majang di Instagram menghampiri Nanda setelah mondar-mandir.

"Kenapa?"

"Ini malem Sabtu, harusnya café ada pertunjukan. Tapi, Luna kagak bisa dateng, katanya flu," jelas Rina, gadis yang lebih tua lima tahun dari Nanda itu memegang pundak Nanda. "Lo mau ya, gantiin Luna."

Nanda menggeleng pelan, ia sudah akan melewati tubuh Rina yang masih memegang pundaknya. Nanti kerjaannya tidak selesai kalau ia mengisi panggung, pulang malam lagi? Tidak, Nanda lelah sekali hari ini, jadi mohon maaf.

"Lo kaga usah lembur, gue janji."

Nanda masih mengeleng pemirsa.

"Gue kasih bonus." Boleh juga ditawar-tawar seperti ini.

Nanda masih menggeleng.

"Pulang ... awal?" Meski sedikit ragu, Rina akhirnya mengatakannya. "Ya? Liat noh, banyak pasangan yang dateng, mejanya penuh, mereka pasti tau kalo hari ini ada yang ngisi panggung, kita tidak boleh mengecewakan pelangan. Ya, gue mohon."

Nanda mendesis, kepalanya ditelengkan, dengan kerutan di keningnya. Ia berpikir sebentar, istirahat lebih awal boleh juga. Akhirnya ia mengangguk juga.

Rina memekik senang, tidak sengaja.

Maka dari itu, Nanda di sini. Mencuri perhatian pengunjung café yang hampir semua anak muda. Jika Luna yang ada di panggung, sudah pasti netra penonton teralihkan, secara gadis itu cantiknya tidak ditampik.

Nanda? Mungkin fisiknya kurang menarik untuk menarik netra pengunjung, tetapi mereka menikmati suaranya yang merdu, dan permainan gitar dari temannya yang lumayan.

Nanda hanya gadis kurus, berkulit kering dan kusam, yang wajahnya pucat. Tidak menarik sama sekali pokoknya. Apalagi tampilannya yang menggunakan kemeja hitam polos dengan celana jeans yang juga hitam, apalagi topi hitam yang menutupi sebagian wajahnya. Ia murni ingin memperlihatkan suaranya saja kalau begini namanya.

***

"Lo Nanda, kan?"

Tiba-tiba cowok berjaket kuning berdiri di depan motornya, dengan tangan dalam saku celana selututnya, ia mengapit ban sepeda motor Nanda dengan kakinya.

ALTERO (Completed)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang