"Nggak apa-apa adalah jurus seribu bayangan para wanita."
__Aldebara Geril W Adelheid__
***
Nanda tersenyum ke arah pacaranya di seberang sana, ia bahkan melambaikan tangan dengan senyum manisnya.
Dalam mobil Adit, Nanda tuliskan sebuah pesan berbunyi: "Dumb and dumber".
Karena orang yang mencintai dan saling menyakiti adalah bodoh. Yang lebih bodoh lagi adalah menyakiti balik.
***
Demikianlah sepenggal cerita tentang Adit dan Nanda hari itu. Gadis itu anggap saja sukses membuat Aldebara marah, membalas setiap perbuatan Bara bagai orang yang lebih dari sekedar bodoh.
Tidak malam-malam Nanda pulang dari latihan, jam tujuh saja. Karena urusan mereka secepat itu pula selesainya. Karena Nanda sudah cukup ahli dengan nada, juga makan dengan kilat.
Gadis itu melambaikan tangan untuk mengantar pulangnya Adit dari halaman rumah.
Untuk catatan pula, bahwa Nanda tidak lagi bekerja di café, karena perjanjiannya dengan ayah yang berbunyi: "Kalau Nanda balik ke rumah, itu tandanya siap terima uang lagi dari Ayah."
Meski sedikit berat, ia tidak boleh ingkar dengan namanya perjanjian. Bunda tidak akan suka.
Saat masuk ke rumahnya, jelas rumahnya gelap gulita, ia sama sekali tidak menghidupkan lampu saat pergi.
Meraba di sekitar tembok, ia menemukan saklar lampu ruang tamunya semudah menjentikkan jari.
"Setan!" Nanda sambil bergetar saat berkata, jelas saja. Wajah putih dan tubuh menjulang pacarnya tiba-tiba terpampang seram dengan marahnya.
"Nggak ada setan seganteng gue."
Baru kali ini ... Bara jadi orang terlalu percaya diri karena diversuskan dengan Aditya Abraham yang tidak ada apa-apa bagi Bara.
Jujur saja, Bara sedang cemburu buta.
"Kok lo bisa masuk?"
"Dari mana?"
"Masih peduli?" Kenapa selalu pertanyaan itu yang Nanda tanyakan? Padahal ia tahu betul Bara tidak pernah ingkar dengan yang namanya peduli terhadap Ananda Gaby Fredella. Ia hanya menolak percaya agar lebih bertekat untuk menjadi seorang dumber.
"Pegi ke mana sama Adit?" Bara malah kembali bertanya.
"Lo juga pergi sama cewek lain, Al. Lebih banyak menghabiskan waktu sama dia lagi. Gue nggak pernah rempong." Nanda hanya melupakan pertanyaannya soal bagaimana Bara bisa masuk.
Gadis itu mendorong Bara yang tidak dapat berkata lagi karena merasa bersalah, agar menyingkir dari jalannya.
On the way dapur untuk menenggak segelas air dingin dari kulkas satu pintunya. Ia butuh dingin untuk tidak marah pada kekasihnya.
Gadis itu yang berseberangan dengan Bara, di batasi meja makan, meletakkan botol di meja perlahan. Ia menatapa Bara lekat sekali.
"Al, lo pernah mikir untuk putus aja nggak, sih?" Jangan bermain-main dengan pertanyaan Nanda, kalau aslinya kamu tidak ingin diputuskan, kamu masih punya trauma itu, jangan lupa.
"Nggak." Titik, tidak ada koma. Wajahnya dingin seakan tidak ingin melanjutkan pembicaraan. Aldebara Geril W Adelheid sungguh serius.
"Cepet banget jawabnya, mikir dulu kek," balas Nanda.
KAMU SEDANG MEMBACA
ALTERO (Completed)
Teen FictionBest cover @prlstuvwxyz. Ini cerita lama rasa baru, alurnya sama tapi ada bedanya. Baca berita noh untuk tahu kelengkapannya. "Woi!" Nanda berusaha mengejar langkah lebar cowok tinggi yang sudah jauh melangkah di hadapannya. Tidak ada tanda-tanda c...
