CHAPTER 16; KARENA LO

147K 10.8K 154
                                        

"Stop saying her name, please ...."

__Ananda Gaby Fredella__

***

"Nggak. Nggak mungkin gue ngelakuin Itu." Bara pernah bersumpah, dalam keadaan waras atau tidak warasnya ia tidak akan melakukan hal bodoh itu.

"Terus?" Nanda menggigit bagian dalam bibirnya.

"Kita harus backstreet."

***

"Lo bercanda kan, Al?" Nanda tidak mau lebay, tetapi sungguh ia sedih saat ini. Apa itu perasaan tidak wajar? "Nggak lucu, Al!" Dalam kalimatnya, gadis itu tekankan sebuah peringatan.

Bara tidak bisa lihat ini, Ananda Gaby Fredella yang tersakiti. Soal Bara yang merasakan segalanya berkali-kali lipat dari gadisnya, itu bukan bohong. Kalau Nanda sudah sayang padanya, apalagi Bara? Itu berlaku juga dengan sakit.

Adelheid satu itu meraih Nanda dalam pelukannya, di mana gadis itu tidak melawan, ia butuh ditenangkan.

"Sorry, tapi ini bukan bohongan," bisik Bara, bahwa Bara ingin Nanda tahu kalimat itu juga menyakitinya.

"Kenapa?" Kepalanya Nanda sandarkan, terasa ingin pecah memikirkan alasan yang cukup hebat hingga Bara yang awalnya berkoar-koar hubungan malah ingin menyembunyikan.

"Kenangan gue nggak semua bagus, Nanda ...."

"Apa mereka nggak ngerestuin hubungan kita?"

"Bukan." Tidak mungkin tidak direstui, bagaimana Bara berubah begitu banyak setelah Nanda hadir pasti disadari keluarganya, dan itu bukan perubahan yang buruk, Bara janji.

"Rensa—"

"Okay, bukan karena keluarga tapi cewek lain?" Nanda mendorong Bara, tetapi tidak berhasil membuat cowoknya itu mundur.

Kalian harus tahu kalau selama mereka berbicara pelukan Bara tidak pernah mengendur sedikit pun, bahwa Bara butuh dikuatkan juga, itu bukan bohong.

"Dia sakit, dan itu karena gue."

Nanda lemah jika harus berhubungan dengan tanggung jawab, karena dulu Ayah juga melupakan Bunda karena tanggung jawab, ia menghamili seorang wanita yang meski pada akhirnya keguguran setelah dinikahi.

"Gue nggak pernah ngingkari janji." Bara serius saat berjanji, karena ia selalu merasa mampu ketika mengeluarkan kata sakral itu. "Rensa kecelakaan, karena gue. Rensa—"

"Stop saying her name, please ...." Bara dengar nada tidak terima, bahwa Nanda benar-benar memohon dan Bara akui jadi tidak enak hati.

"Dia koma, satu tahun dan—" Bara terhenti sendiri, suaranya tercekat. "Dan gue ... janji buat barengin dia sampai sembuh."

Kemudian semua sunyi. Semua dengan pikirannya. Nanda yang ketakutan dan Bara yang berkali-kali lipat merasakannya.

Nanda nyaris tidak pernah bohong. Soal ini yang terakhir karena ia tidak pernah membuka uji coba, saat Nanda terima Bara semua selalu menuju sesuatu yang serius. Maka dari itu, saat ini berakhir berarti tidak ada lagi yang selanjutnya, ia tidak keberatan ketakutan membangun hubungan dengan siapa pun, selamanya. Maka saat kalian sebut Nanda bodoh, ia tidak keberatan pula.

"Putus aja yuk, Al." Nadanya bergetar, kalau Bara terima Nanda bersumpah tidak akan ada yang selanjutnya.

"Gue nggak bisa, Nanda. Kalau bukan lo, nggak ada lagi buat gue."

ALTERO (Completed)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang