"Kenapa harus bohong? Kamu terlalu jaim, sayang."
__Ananda Gaby Fredella__
***
"Siapa?" Namun, modus perempuan pasti seperti ini, bertanya meski sudah tahu jawabannya.
"Temen."
"Kenapa katanya?"
"Kalo udah selesai, ayo pulang."
***
Ananda Gaby Fredella itu cenderung posesif, sudah begitu saja. Ia adalah orang yang sangat tidak terima saat dibohongi, karena seumur hidupnya ia hampir tidak pernah berbohong.
Maka dari itu saat Aldebara Geril dengan nama super panjangnya pergi setelah mengantarkannya pulang, Nanda masih berpikir untuk melabraknya atau diam saja.
Namun, karena ia memutuskan untuk coba percaya kepada seseorang lagi, mungkin memperingatkan lebih baik daripada menghindar.
Bukan rahasia lagi kalau Nanda banyak koneksinya. Temannya bertebaran karena ia sosok yang hampir peduli sekali terhadap sekitar.
Karena pesan yang berbunyi: Bar, lo ikut balapan kagak? Sangat mengganggu waktu dan pikirannya, Nanda garis keras mencari informasi kepada satu-satunya orang sudah pasti tahu soal lokasi balapan malam ini.
"Oi, Bos. Ada apa? Tumbenan nelpon gue lo." Suara bas di seberang terdengar bahagia, kalau Nanda tidak salah dengar.
"Ada balapan di sana, Bang?" to the point saja, karena orang di seberang telepon sudah tahu gaya Nanda.
"Ada, gue share lokasinya deh."
Setelah Nanda menyetujui kalimat orang di seberang telepon, ia bergegas mengganti penampilannya.
***
Saat keesokan harinya Bara datang lebih awal untuk bertamu lagi menemani Nanda belajar.
Nanda bertanya, "Kemaren ke mana?"
Hari ini minggu, jadi baru sempat Nanda bertanya kepada Aldebara yang sedang duduk di sampingnya, bermain game di ponselnya.
Bara diam, meski ditatap sekian lama oleh Nanda yang menuntut jawaban ia hanya menggeleng.
"Bara?" Nanda memanggil Bara lagi, menuntut perhatian netra pemuda itu.
Nanda tidak kunjung berbicara, maka Bara buka suara. "Apa?"
"Kemaren lo bilang deal, kan?"
Bara hanya mengangguk, timbul kerutan di keningnya atas pertanyaan Nanda.
"Buat kalimat hidup lo gue harus terlibat juga deal, kan?" tanya Nanda lagi, ia beralih dari buku PR-nya, bersandar untuk bersedakap dada menatap Bara lebih dalam.
Bara kembali hanya mengangguk, berarti setuju bukan?
Kalau begitu Nanda bertanya lagi, "Semalem ke mana?" Sekali lagi, Nanda itu cenderung posisif dan tidak terimaan atas kebohongan.
"Kagak ke mana-mana."
Dan Nanda tahu itu bohong.
Sedikit cerita, semalam Nanda batal kerja malam, jadwalnya ganti hari ini. Katanya, si model sibuk hingga tidak bisa hadir.
Maka dari itu semalam juga Nanda datang ke tempat kejadian, berdiri di antara kerumunan ia memperhatikan pacarnya yang sudah sangat siap untuk berbalap.
KAMU SEDANG MEMBACA
ALTERO (Completed)
Ficção AdolescenteBest cover @prlstuvwxyz. Ini cerita lama rasa baru, alurnya sama tapi ada bedanya. Baca berita noh untuk tahu kelengkapannya. "Woi!" Nanda berusaha mengejar langkah lebar cowok tinggi yang sudah jauh melangkah di hadapannya. Tidak ada tanda-tanda c...
