"Karena kehormatan sebuah hubungan saat direstui."
__Aldebara Geriel W Adelheid__
***
Namun, apa salahnya menjaga Nanda agar tidak tahu burukya ia? Apa salah Bara kalau tidak mau Nanda terlibat dalam dunia malamnya? Anggap saja Bara jaim.
Namun, sekali lagi, Bara tetap salah karena sudah berbohong sementara ia juga telah mengatakan deal dengan lantang kemaren malam.
Salahnya lagi, ia yang beralasan ingin menjauhkan Ananda Gaby Fredella dari dunia malamnya, ternyata hanya jaim tidak ingin dipandang buruk oleh kekasihnya.
***
Baru dua hari berjalan hubungan mereka dan Bara sudah buat masalah. Maklum saja boleh? Karena ini pengalaman pertama Bara.
Cowok itu sedang menjadi pengendara super saat ini, sudah malam jadi jalanan sedikit lengang. Bara mana tahu kalau anak pendiam seperti Nanda punya koneksi balapan liar.
Bohong, Bara tahu. Nanda sedikit berandalan di kehidupan pribadinya, Bara tahu dari desas-desus teman-temannya, hanya saja Bara baru tahu kalau itu benaran.
Sampai di halaman kecil rumah pacarnya, Bara kembali parkir dengan rapih.
Nanda tahunya kunci serep rumahnya hilang, ia tidak tahu kalau Bara yang mencuri. Ya, boleh untuk keadaan genting seperti ini juga ternyata. Janji tidak disalah gunakan.
Ia masuk sembarangan, sudah biasa. Menelusuri rumah yang gelap gulita karena ternyata tidak ada penghuninya, ternyata Nanda belum pulang.
Kemudian ia keluar dari rumah gadisnya. Berdiri gelisah di pekarangan rumah Nanda ia berusaha menghubingi nomor yang ia dapatkan secara paksa.
Ada jawaban, dari perempuan yang mengatakan bahwa Nanda menolak panggilannya. Hingga lima kali perempuan itu berkata sama, selanjutnya ia memberitahukan bahwa nomor Ananda Gaby Fredella tidak aktif.
Baru kali ini Bara benci operator.
Bara duduk di lantai teras Nanda yang dingin, yang seakan mengolok kalau Bara sedang bersalah.
Wajahnya benar datar saja, tetapi mungkin otaknya sudah bergelombang, ia memikirkan kemungkinan tempat Nanda tuju. Ia baru kenal, baru pacaran, jadi sedikit yang ia tahu atas gadisnya.
Saat silau motor yang tadi menjadi lawan sengitnya terlihat, Bara bangkit dengan helaan napas lega.
Memperhatikan Nanda yang berjalan mengabaikannya, saat Bara mencekal tangannya, dan menariknya agar berdiri tepat di hadapannya.
"Nan," panggilnya, pertama-tama ia ingin membuat Nanda menatapnya, karena Nanda sedang menunduk menghindari matanya. "Jawab kek." Kembali Bara menuntut, ia terganggu dengan sunyi yang menyapa mereka. "Maaf." Pamungkas, karena Bara tidak tahu harus mengatakan apa.
"Lo kayaknya nggak serius sama gue, kita udahan aja," ucap Nanda akhirnya.
Ya mohon maaf saja, Bara sudah pasti terkejut, belum genap dua kali dua puluh empat jam mau ngajak sudahan?
"Gue nggak main-main, Nanda." Kurang serius bagaimana lagi Bara? Ia sudah memaksa, mengejar, dan menyatakan perasaan tanpa terima penolakan.
"Tadi itu cukup buktikan kalok lo nggak seserius yang lo bilang."
"Gue nggak mau lo tahu buruknya gue." Itu pengakuan, Bara punya sisi jaim yang nyata, terbiasa terlihat sempurna juga ada efek sampingnya..
"Kemaren lo bilang deal, lo punya gue dan hidup lo gue harus tahu." Posesif itu ada, sadar atau tidak kalian pasti punya.
KAMU SEDANG MEMBACA
ALTERO (Completed)
Fiksi RemajaBest cover @prlstuvwxyz. Ini cerita lama rasa baru, alurnya sama tapi ada bedanya. Baca berita noh untuk tahu kelengkapannya. "Woi!" Nanda berusaha mengejar langkah lebar cowok tinggi yang sudah jauh melangkah di hadapannya. Tidak ada tanda-tanda c...
