CHAPTER 40; PERJALANAN MENUJU UJIAN BARA SELANJUTNYA

111K 8.1K 168
                                        

"Takdir itu kadang suka ngelucu."

__Laju19__

***

Saat Bara mengitari mobil untuk duduk di sisi kemudi, maka Nanda meneteskan air mata.

Bara langsung sadar, karenanya ia bertanya, "Kamu nangis?" Sempat meledak marah, kemudian posesif, Nanda sekarang malah menangis? Bukan main orang datang bulan itu, ya? "Kenapa?"

"Kamu kok perhatian banget sih, Al? Maaf ya, aku marah-marah terus."

Bara terkekeh, kemudian ia usap pipi gadisnya. "Kan, sayang."

***

"APA!!!"

Mulanya, Ananda Gaby Fredella yang terkejut saat sampai di rumah dengan foto keluarga baru. Orang tua Bara beserta Berlian sudah di sana.

Kemudian, saat mereka dikumpulkan di ruang makan yang mejanya bukan lagi haya tiga kursi yang pemilik tetapnya hanya Ayah, Bunda, dan Nanda. Maka gadis bermata bundar itu menghela napas sambil terpejam, setelahnya Bara genggam Nanda seakan menguatkan.

Mulanya juga bincang-bincang biasa, ternyata Andi dan Fausta rekan kerja. Azalia dan Fanes juga teman arisan. Kenapa semuanya penuh kebetulan?

Tidak kebetulan ternyata, Azalia yang mengenalkan Fanes kepada Ayahnya. Ternyata keluarga Bara andil dalam pudarnya kasih sayang Ayah kepada Nanda.

Nanda tidak terkejut, ia hanya merasa sedikit tercubit. Ternyata takdir itu cukup lucu, ya.

Beberapa waktu lalu Azalia bertanya, "Jadi kapan?"

Nanda balas kerutan kening, ia sama sekali tidak berbicara sejak datang. Entah kenapa perasaannya jadi aneh.

"Al, belum kasih tahu Nanda?" Fausta yang bertanya, hanya dibalas dehaman ringan oleh Bara.

Cowok satu itu masih sibuk dengan makanannya. Maksudnya, memotongkan daging untuk dan memisahkan ayam dari tulangnya, untuk Nanda.

Saat ia selesai, semua masih menunggu, Nanda coba acuh saja. Mungkin tidak ada hubungan dengannya. Namun, kenapa yang tadi ditanyai malah dirinya?

Saat satu suapan daging nyaris meluncur mulus ke mulutnya. Aldebara berkata, "Kita akan tunangan."

Kalian ingat satu dialog dengan satu kata yang mengawali Altero pada bab ini? Itu bukan terkejutnya Nanda. Namun, Kevan yang membanting sendok dan pisau makan kencang-kencang.

Nanda menoleh cepat kepada Bara. Ia ingin bertanya, tetapi untuk berkata saja ia rasanya masih tidak mampu. Terlalu banyak tekanan dari ingatan masa lalu saat Bunda masih ada, di rumah ini.

"Kevan nggak setuju!" Jadi terlalu aneh didengar karena yang berkata adalah Kevan.

"Ini soal Nanda dan Bara. Kenapa kita butuh persetujuan kamu, Van?" Fanes yang bertanya, karena merasa bertanggung jawab besar atas putranya.

Kevan membuka mulutnya, kemudian menutupnya kembali. Keras-keras ia mundurkan kursinya, kemudian berlalu begitu saja.

Sekali lagi, Nanda masih diam. Perasaannya semakin campur aduk. Kenapa semua orang mengambil keputusan atas hidup Nanda, bahkan tanpa persetujuan darinya sendiri.

***

Pagi itu Bara jemput Nanda yang bermata panda. Bukan main, masih cantik. Bahkan setelah Bara bukan disapa dengan ucapan selamat pagi, tetapi dengan gadisnya yang menguap lebar. Tetap, masih cantik.

ALTERO (Completed)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang