"Bahwa kamu dari dulu memang mempesona, dengan cara berbeda."
__Aldebara Geril W Adelheid__
Nyatanya apa? Bara dan Nanda tetap tidak bisa. Memikirkan kata pisah saja mereka tidak mampu, apalagi mengatakannya?
"Gue udah balik, Nanda. Gue harap semuanya baik-baik aja," gumam Bara. Ia sampaikan harapan.
"Al, mengawali mungkin mudah. Tapi, mempertahankan itu sulit. Lebih sulit lagi mengembalikan yang sudah hancur."
"Sulit, bukan berarti nggak mungkin."
***
"Jadi? Kak Bara sebenernya masih jadian sama Aphroditenya Barunawati?" Mari awali pembicaraan dengan Cakra yang mencolek dagu Bara dengan wajah menggoda.
"Dasar homo." Bara mendengus setelah menjawab Cakra.
Kisahnya, ia masih dongkol karena tadi saat mengantar ceweknya ke kelas ada Aditya Abrahan juga di sana yang menunggu Nanda, tahu gitu Bara tidak kembalikan si Fredella ke kelasnya.
"Gue punya cewek ini, gak mungkin homo." Cakra yang duduk di samping Bara membalas dengan nada jenaka.
"Kedok doang tuh." Bagas yang duduk di meja melemparkan tutup pulpen—entah milik siapa—ke arah Cakra.
"Njir, Din. Lo di pihak gue dong. Kalah gue kalok main keroyokan gini." Pada akhirnya, Cakra meminta pertolongan Radin.
Radin mengerjap mencari kesadarannya. Ceritanya, Radin itu sedang tidur, ia kelelahan karena nonton bola semalaman. Jadi, tidak aneh kalau pening menggerayangi karena terkejut, posisi bangkunya yang di depan Bara ditendang serampangan oleh Cakra tadi.
"Oke," jawab Radin setelah sadar sepenuhnya.
"Gue punya temen sekarang." Sombong duluan Cakra Baswara, ia bahkan menepuk dadanya dua kali.
"Jadi, kalian bahas apa?" Radin bertanya dengan suara parau, sembari menunggu jawaban ia minum air sebentar.
"Cakra homo." Titik, Bagas yang masih sibuk dengan ponselnya berkata tanpa beban.
"Gue setuju"
Cakra mendelik, ia bangkit dari tempatnya kemudian menghadiahkan jitakan untuk Radin.
"Katanya lo di pihak gue?" Keturunan Baswara satu ini emosi pemirsa, ia bahkan memukul mendorong pundak Radin hingga nyaris terjungkal, bukan karena terlalu keras, lebih karena Radin belum sepenuhnya sadar.
"Setelah gue pikir-pikir, gue sadar di mana tempat yang bikin gue menang. Kagak bakal menang gue kalok ada di pihak lo, karna yang lo lawan Bara yang otaknya kelewat main." Tahu arti tersembunyi kalimat Radin? Ia berharap makan gratis karena memuji Bara.
"Bangke." Bukan hanya wajahnya yang lucu, suaranya yang tiba-tiba fals membuat Bagas dan Radin terbahak.
"Jadi, lo masih pacaran sama Nanda?" Bagas mengulang pertanyaan Cakra tadi.
"Masih." Titik, jangan kasih koma. Karena Bara ingin semua tahu ia tidak kasih longgar.
"Jadi, Rensa itu apa?" Radin mengusap matanya karena dirasa ada kotoran.
"Cuma penebusan janji doang."
Hanya dengan jawaban demikian, Bara tahu kawan-kawannya pasti mengerti. Karena ini bukan pertama untuk Bara melakukan sesuatu hanya untuk penebusan janji semata.
***
"Hati-hati di jalan ya, Pacar Gue."
Nanda tersenyum mendengar kalimat cowok yang mulai menjauh dari pandangannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
ALTERO (Completed)
Novela JuvenilBest cover @prlstuvwxyz. Ini cerita lama rasa baru, alurnya sama tapi ada bedanya. Baca berita noh untuk tahu kelengkapannya. "Woi!" Nanda berusaha mengejar langkah lebar cowok tinggi yang sudah jauh melangkah di hadapannya. Tidak ada tanda-tanda c...
