"Gue ngerasain berkali-kali lipat."
__Aldebara Geril W Adelheid__
***
"Gue lebih tau maksud lo daripada diri lo sendiri."
Sakit ternyata, kamu berusaha percaya loh, kalau berita buruk itu tidak nyata, tetapi orang yang berusaha kamu beri kepercayaan malah membenarkan.
Baramemberitahu Nanda, bahwa terkadang: "Percaya itu nyakitin."
***
Kemudian, Ananda Gaby Fredella kembali ke toilet. Untuk apa? Bukan, bukan untuk bertengkar lagi. Tetapi, kotak makan kesukaannya tertinggal tadi.
Kembali ia membasuh wajah agar terasa lebih segar, untuk kesekian kalinya ia melihat cerminan diri di hadapannya. Tidak ada bedanya dengan sebelumnya, ia masih berantakan.
Gadis bermata coklat kesukaan Bara itu segera kembali ke kelasnya. Ia sudah siap dengan segala ceramah yang akan ia terima ketika membuka pintu rapat di hadapannya.
Namun, saat ia membuka pintunya, sepi saja. Kelasnya, sibuk? Mereka sedang apa? Apa ada ujian dadakan?
Namun, tidak ada guru, sejauh mata memandang. Jadi, dengan santai ia berjalan ke tempat seharusnya.
Tanpa peduli apapun ia menjatuhkan kepalanya di atas meja hingga menimbulkan suara yang menyita perhatian, Ria berjengkit.
"Lo kenapa, Nan?" Adalah Ria yang ikut penasaran karena beberapa hari ini wajah Nanda jarang berseri.
Namun, Nanda hanya menggeleng, rasnaya aneh saja kalau harus bercerita tentang hubungan barunya tiba-tiba, ia belum siap.
"Cepetan rangkum bab tiga, biar bisa pulang duluan." Ria berucap lagi, cewek itu yang mengganti pena karena yang ia pakai tiba-tiba tidak keluar tinta.
Kemudian, Nanda mengeluarkan buku beserta peralatan yang dibutuhkan. Pertama-tama, Ria melirik Nanda yang hanya membaca sambil bersadar, sesekali ia memainkan bangku hingga menjadi satu-satunya yang mengeluarkan suara di kelas, jangan lupakan soal temannya satu itu sedang mengetuk-ngetuk kepalanya dengan bolpoin.
Selanjutnya lirikan kedua, Ria melihat Nanda menulis secepat kilat tanpa menoleh sedikit pun, tiba-tiba ia yang paling sunyi, sesekali bibirnya bergerak seakan mengingat-ingat.
Terakhir, Ria mengernyit melihat Ananda Gaby Fredella sudah kembali membanting kepalanya hingga menimbulkan suara mengejutkan di lipatan tangan. Ia kembali terpejam santai.
"Kaga ngerjain lo?" Ria yang penasaran, membuat Thalia dan Risha ikut menoleh ke kawannya yang mejanya sudah rapih sekali.
Nanda hanya mengangkat jempolnya. Kemudian, gadis itu mendengar sahabat-sahabtnya berbicara soal untuk melihat isi buku Nanda.
"Apaan nih tiga lembar doang?" Adalah suara Thalia yang tidak terima karena Nanda cepat selesai denga hasil tidak seberapa.
"Contohnya kaga lo tulis?" Begitulah Risha yang sebenarnya bingung saat membaca rangkuman sahabatnya.
"Bikin rangkuman, bukan tulis ulang." Karena sungguh, di dalam rangkumannya, itu adalah bahasa yang mudah dimengerti ... Nanda sendiri.
***
"Nan! Teh lo mana?" Suara Ria yang tertelan ruang. Cewek itu di dapur sedangkan Nanda di kamarnya.
Nanda diam saja, Ria itu memang seperti itu, belum dicari sudah teriak duluan. Jadi, Nanda suka gemas sendiri sama yang satu ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
ALTERO (Completed)
Teen FictionBest cover @prlstuvwxyz. Ini cerita lama rasa baru, alurnya sama tapi ada bedanya. Baca berita noh untuk tahu kelengkapannya. "Woi!" Nanda berusaha mengejar langkah lebar cowok tinggi yang sudah jauh melangkah di hadapannya. Tidak ada tanda-tanda c...
