"Bahwa sebenarnya, banyak kata yang tidak sempat terucap karena beberapa pertimbangan hangat."
__Aldebara Geril W Adelheid__
***
Bahkan hadiah itu sedikit lama.
Kevan berdiri dengan cepat dan menarik bahu Bara. Sekali, ia tonjok Bara tepat di rahangnya.
"Apa? Ada masalah?" Dingin sekali suara Bara.
"Banyak!Pertama, lo harus jelasin siapa lo. Kedua, kenapa lo nonjok gue. Ketiga, ini palingpenting, gue mau lo jelasin, sejelas-jelasnya, kenapa lo main sosor aja adekgue. Keturun bebek apa gimana lo main nyosor aja, ha?"
***
Kalau boleh Ananda Gaby Fredella ingatkan, sudah sepuluh menit, berlalu begitu saja dengan Bara dan Kevan saling menatap tajam, sangat tegang.
Keduanya duduk berseberangan dipisahkan meja ruang tamu. Begitulah Nanda duduk sambil memakan kripik pisang, sesekali ia meneguk sodanya, menunggu adegan tatapan bodoh keduanya selesai.
"Udah sih, kaga takut jatuh cinta apa?" Nanda mulai ambil bagian, bagaimana pun kripik pisangnya nyaris habis.
"Jadi, lo pacar adek gue?" Saat itu, Nanda lihat keduanya baru bersandar dengan tenang di tempatnya masing-masing.
"Jadi, lo suka sama Nanda?"
Nanda mendelik terkejut dengan ucapan Bara, apa-apaan? Kevan ini kakak pacarnya, bukannya dengan rencana mengambil hati malah mengibarkan bendera perang.
"I do, karena itu gue akan menjelek-jelekkan lo di depan bokap kita." Sebenarnya, Kevan sedikit segan, mengancam tidak keren sama sekali. Ia merasa tidak sengaja merendahkan diri di hadapan rival.
"Gue nggak peduli."
"Berarti lo juga nggak peduli sama Nanda?" Akhirnya, senyum miring dapat Kevan tampilkan.
Apa lagi setelah mendengar Ananda Gaby Fredella menghela napas lelah. "Kalian lanjutin dah, gue mau tidur." Kevan tahu bahwa yang tersinggung bukan hanya Bara, juga kekasihnya.
Nanda sudah nyaris banggkit kalau saja Bara tidak berkata, "Gue akan buktikan kalok gue yang pantas buat Nanda." Janji, bukan hanya kepada dunia, juga pada dirinya sendiri. Karena Bara merasa mampu.
"Kita lihat aja nanti, Bara." Kemudian Kevan bangkit, ia menepuk kepala adiknya kemudian berlalu dari kediaman Nanda begitu saja.
Saat itu Bara sadar. Ada dua pejuang hati yang sedang memperhatian gelagatnya, sedikit saja ia lengah, maka Bara yakin akan hancur.
"Lo tau?" Begitulah Bara bertanya tanpa menatap Nanda, giginya ia gertakkan saking kesalnya.
Diancam mungkin sesuatu yang menyebalkan, lebih menyebalkan membayangkan seharian Nanda bersama seseorang yang menyukainya.
"Gue tau." Lebih parah lagi saat Nanda tahu dan ia tetap pergi.
Bara menendang meja di hadapannya. Biar Bara beritakan apa yang paling menyebalkan. Bahwa, Nanda tahu Kevan suka dia, tetapi ia tetap pergi, kemudian ia membiarkan cowok itu menggendongnya. Sialan.
Nanda sempat berpikir Bara akan memukulnya, atau mengatainya. Lihat saja tangannya yang mengepal seakan sedang menghancurkan seseorang dalam genggamannya.
Namun, Bara tidak melakukan apa-apa. Cowok tampan itu hanya menatap Nanda dalam beberapa detik kemudian berlalu begitu saja.
***
KAMU SEDANG MEMBACA
ALTERO (Completed)
Genç KurguBest cover @prlstuvwxyz. Ini cerita lama rasa baru, alurnya sama tapi ada bedanya. Baca berita noh untuk tahu kelengkapannya. "Woi!" Nanda berusaha mengejar langkah lebar cowok tinggi yang sudah jauh melangkah di hadapannya. Tidak ada tanda-tanda c...
