'
"Kalok gue mengabaikan, bukan berarti nggak perhatian."
__ Aldebara Geril W Adelheid__
***
Begitulah, Nanda menendang dua tulang kering Adit bergantian, hingga cowok ganteng itu berlutut dengan wajah merah.
***
Dua minggu, dua pria yang mengganggunya. Adit itu masih mending, karena meski mengganggu ia tidak berani terlalu dekat sampai sentuh fisik Nanda lagi, karena sudah dua kali ia gadis itu buat susah jalan, yang pertama tulang kering, yang kedua di antara selangkangan.
Aldebara? Pria berkaki panjang bermata tajam itu yang sungguh melelahkan, seakan punya jadwal ia datang untuk makan. Anehnya, Nanda selalu membukakan pintu. Iya, Nanda bodoh. Menemani Nanda belajar, hingga Nanda rasa hampir terbiasa. Selalu menungguinya masuk ke café dari ujung jalan tanpa komentar meski sebelumnya melarang keras.
Saat malam terasa nyata kemudian paginya terasa mimpi. Karena Bara di sekolahnya seakan tidak peduli, tidak pernah terjadi keadaan seperti di malam hari.
Nanda hampir gila. Ia merasa diperhatikan sekaligus diabaikan. Hal paling membingungkan daripada tingkah Aldebara, adalah perasaannya yang mulai gundah.
Hari ini sengaja berangkat lebih awal ke café karena malam nanti punya jadwal lain. Pulang sekolah ia tidak memasak, ia putuskan makan beli nanti, karena ia harus lekas pergi.
Nanda hampir terlonjak, karena setelah mengunci pintu dan berbalik, Bara ada di depannya. Dekat sekali, hingga gadis itu ragu untuk bernapas lagi.
Kenapa ia datang lebih awal? Seakan punya alarm. Seharunya datang tiga jam lagi, tepatnya setengah enam nanti.
Cowok dengan celana hitam dan kaos putih lengan panjang itu menatap matanya lagi, hampir tidak berkedip.
Masih menatap Nanda ia meraih telapak tangannya, mengusap punggung tangan Nanda terbesit raut mengeras sepersekian detik di wajahnya.
Nanda masih tidak mengerti, bahkan ketika Bara mengeluarkan salep yang hampir juga Nanda sering beli, mengoleskannya di punggung tangan Nanda yang cedera.
Punggung tangan si Gadis Bermata Coklat yang lecet karena olahraga, tepatnya karena ia refleks menahan tubuh dengan kepalan tangan saat jatuh di lapangan basket tadi.
Selalu seperti ini! Bara selalu gini! Memang hampir setiap hari Nanda tidak sengaja terluka, meski seremeh jerawat atau goresan ketika memasak dan selalu Bara yang mengobatinya. Padahal sebelumnya Nanda tidak akan peduli.
"Lo itu kenapa sih?" Hari ini adalah titik jenuh yang Nanda tahan atas Bara yang terus membayang.
"Kenapa?" Bara sungguh tidak mengerti, ia tidak merasa ada yang salah sesungguhnya.
"Malem perhatian, paginya mengabaikan." Nanda yang tidak suka atas perlakuan Aldebara yang setengah meragukan.
"Kalok gue mengabaikan, bukan berarti nggak perhatian."
Benar, benar sekali kata-katanya. Kalau tidak perhatian, Bara tidak mungkin tahu kalau tangan Nanda terluka saat paginya. Namun, itu yang jadi masalah, Nanda semakin terganggu atas eksistensinya.
"Mau lo apa?" tanya Nanda lagi.
"Persetujuan." Karena Bara tidak terima penolakan atas pengakuan perasaan untuk Ananda Gaby Fredella, jangan lupakan.
"Kenapa gue? Jelasin, tiga menit." Nanda harus memastikan, apa ia pantas mengaku kalah, karena menerima perasaan orang dalam hidupnya ia anggap kekalahan mutlak atas kebebasan hidupnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
ALTERO (Completed)
Teen FictionBest cover @prlstuvwxyz. Ini cerita lama rasa baru, alurnya sama tapi ada bedanya. Baca berita noh untuk tahu kelengkapannya. "Woi!" Nanda berusaha mengejar langkah lebar cowok tinggi yang sudah jauh melangkah di hadapannya. Tidak ada tanda-tanda c...
