"Waktu adalah perjalanan yang telah dan akan dilewati, antara mengingat dan merencanakan. Nanda kangen Bunda, ada banyak hal yang bisa Nanda inget tentang Bunda, tapi hari ini apa bisa minta ketemu? Karena Nanda bener-bener sendiri."
***
Nanda sudah berbeda, biasanya ia menyuruh kawannya masuk untuk berkunjung, sekarang ia mengusirnya secara halus.
"Nanda, lo sakit—"
"Gue udah biasa ngurus semuanya sendiri, ini bukan yang pertama kali." Gadis itu memotong kalimat Thalia. "I can do it my self ...." Kalimat itu untuk meyakinkan dirinya sendiri.
***
Ananda Gaby Fredella tidak marah, apalagi kepada teman-temannya. Ia hanya merasa ditinggalkan karena sudah terbiasa bersama. Maka dari itu, kejadian Bara yang membuatnya terbiasa tidak sendiri tidak akan ia biarkan terjadi dua kali.
Lebih tepatnya, Nanda menghindari kawan-kawannya.
Ia memutuskan untuk membiasakan diri tanpa orang lain lagi, setidaknya antisipasi agar traumanya tidak datang lebih parah lagi. Jujur saja, ia mulai berpikir untuk kembali pada seorang psikolog, karena ia nyaris gelisah berlebih saat semuanya sunyi.
Contohkan saja saat ini, saat ia yang biasanya diam di kelas bersemedi dengan permainan online, atau sibuk makan, mungkin bisa jadi tidur seperti ikan pepes di lantai bersama kawan-kawan cowoknya. Sekarang ia malah membuka dua kancing seragamnya karena gerah.
Gerah yang sesungguhnya, karena ia memutuskan aktif di lapangan outdor. Lebih lagi, karena cowok yang kemarin katanya satu ranjang dengan cewek penyakitan sedang menatapnya dengan gadis itu di gandengannya.
"Nan! Ayo makan!" Adalah Thalia yang berteriak dari pinggir lapangan, diiringi lambaian tangan oleh Risha dan Ria.
Ajakan makan, adalah sesuatu yang nyaris tidak bisa ia tolak, apalagi dari tiga cewek itu.
Namun, hari ini, hari ketujuh Nanda tahu ada orang lain yang lebih bisa membahagiakan tiga sahabatnya daripada dia, yang mengakibatkan Nanda lebih tersendiri lagi, kemungkinan terbesar malah ditinggal lagi.
Ia hanya bisa tersenyum, berkacak pinggang dari tengah lapangan nyaris membuat air liur kaum adam mencair karena pesonanya.
"Duluan aja," jawabnya.
Sekali lagi, Nanda berubah. Tiga cewek itu tahu dengan sangat jelas. Gadis bersurai panjang yang sekarang dijuluki Amprodithnya SMA Barunawati itu menghindar dengan halus.
Benar, mereka masih bertegur sapa, bahkan masih berbincang dengan canda tawa, tetapi soal yang Nanda suka, ia tidak pernah melibatkan Risha, Thalia, atau Ria.
Bahkan setiap ketiganya mau berkunjung ke rumah Nanda, gadis itu memilih bertemu di luar, seakan rumahnya tempat privat sekarang.
Risha, Thalia, Ria, mencuri perhatian sekitar karena setelah bertukar tatap mereka yang jengah dengan sahabatnya berjalan pasti ke tengah lapangan.
Thalia menepis bola basket di tangan Nanda, sementara Risha dan Ria menarik gadis itu ke pinggir lapangan.
"Nan, cukup. Lo boleh marah, tapi nggak gini." Risha berbisik di tengah pekik nadanya yang ia tahan. Gadis itu ingin menangis karena sikap Ananda Gaby Fredella.
"Lo lebih baik teriak, pukul, atau bahkan hina gue, Nan. Tapi, jangan gini." Bahkan Ria sudah menghirup ingus dari hidungnya melihat Nanda dengan senyum palsunya yang cantik.
"Jangan pura-pura semuanya baik kalo lo marah sama kita." Kalau begitu, Thalia bahkan sudah memeluk Nanda dengan air mata yang menetes karena Nanda tetap tersenyum
KAMU SEDANG MEMBACA
ALTERO (Completed)
Teen FictionBest cover @prlstuvwxyz. Ini cerita lama rasa baru, alurnya sama tapi ada bedanya. Baca berita noh untuk tahu kelengkapannya. "Woi!" Nanda berusaha mengejar langkah lebar cowok tinggi yang sudah jauh melangkah di hadapannya. Tidak ada tanda-tanda c...
