CHAPTER 35; APA BISA?

115K 9.7K 124
                                        

Didedikasikan kepada viiiiiiiiiya, sorry wak itu link dedikasinya kaga bisa.

"Tidak cukup meyakinkan untuk kamu jadikan sandaran."

__Aldebara Geril W Adelheid__

***

"Bara—" Jangan sebut nama cewek itu, Nanda benci.

"Semua mau aku jauh dari kamu, bahkan temen-temen kamu." Suara Bara semakin bergetar. "Aku sakit, Nanda."

Nanda tahu Bara hanya menghantarkan semua kalimat yang tidak dapat ia katakan ketika sadar karena banyak pertimbangan.

"Aku takut nggak bisa buktiin kalo aku serius sama kamu." Sejujurnya, sejak awal ditolak Nanda, hanya satu ketakukan Bara. Bahwa ia tidak cukup meyakinkan untuk Nanda jadikan sandaran. "Apa aku nggak boleh jatuh cinta, ya?"

***

Hari ini akan dimulai dengan kepala Bara yang pening, cowok satu itu bahkan merasa perutnya tidak nyaman. Si Adelheid yang asing dengan tempatnya, ia sampai mengerutkan kening.

"Udah bangun, Kak?"

Bara menoleh cepat. Sialan, apa yang terjadi semalam? Kenapa Bara sampai berada di sini? Bara tidak melakukan yang aneh-aneh, bukan? Gila sekali kalau sampai terjadi sesuatu antara dia dan orang di depannya.

"Lo?"

"Nanda yang nganter lo ke sini, katanya nggak enak kalo nganter lo pulang pas mabuk."

Ya tetapi, tidak kemari juga dong. Nanda juga punya rumah kenapa harus ke sini?

"Katanya, nggak baik cowok nginep di rumah cewek saat mabuk."

"Gue nggak ngapa-ngapain, kan?" Bara bertanya karena penasaran, bajunya ke mana?

"Herannya, mabuknya lo cuma sekedar curhat, tetep aja mukanya lempeng. Heran gue."

Kemudian, ingatan Bara saat Nanda menyetir untuknya, setiap kalimat yang ia katakan, berputar gila di kepalanya. Belum lagi ingatan soal kalimat: "Dit, gue takut nggak cukup baik buat Nanda."

Gila Bara, mengakui kelemahan di depan rival? Bodoh sekali jadi manusia, rasanya Bara sudah kalah.

Ya, Adit orang yang Nanda beri mandat untuk menjaga Bara, bahkan pacar Nanda nomor dua itu mengelapkan tubuh Bara yang bau alkohol. Perhatian sekali, untung Adit normal.

Bara tidak pintar beralibi, jadi dia diam. Mengumpulkan ingatan dan tenaga.

Adit yang berdiri di depan jendela kamarnya yang besar, memperhatikan Bara lamat-lamat.

"Kenapa lo suka Nanda?"

"Kenapa lo suka Nanda?" Tanpa jeda Adit putar balikkan pertanyaan.

"Gue tanya duluan." Meski tidak menoleh, suara Bara yang tegas menginstrupsi alam bawah sadar Adit untuk segera mencari alasan.

Dalam sepersekian detik, Bara menoleh, dengan nyaman ia bersedekap dada bersandar di kepala ranjang, entah milik siapa kamar ini.

"Lo butuh waktu untuk jawab?" Entah kenapa Adit lihat wajah Bara lega. "Berapa lama untuk nyari alasan?"

Adit mengerutkan kening, ia bersandar pada tembok balas menatap Adonis di hadapannya.

"Kenapa lo suka Nanda?"

"Karena Ananda Gaby Fredella." Titik, tidak ada koma. Sudah begitu saja Bara tidak punya alasan. "Lo tau kenapa butuh waktu untuk jawab?"

"Lo mau gue berpikir untuk ninggalin Nanda? Nggak akan berhasil." Adit harus lebih tegas juga, ia suka Nanda itu jelas.

ALTERO (Completed)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang