"Everyone has their own meaning for love. Suicide, that's means to me."
__Ananda Gaby Fredella__
***
"Kalo lo sakit hati, gue siap tanggung jawab, cukup inget itu."
Terus dia pergi, begitu saja. Kalimat tadi, boleh digolongkan gombal tidak, ya? Kenapa rasanya serius sekali untuk dianggap sekedar, bualan?
Nanda mengacak rambutnya setelah melihat Bara ditelan ruang. Ia membaringkan diri di ranjang UKS, menutup wajahnya dengan lengan ia mencari posisi ternyaman. Kemudian mengistirahatkan sejenak pikirannya.
***
Lelah sudah pasti dirasa Nanda, jelas saja. Pulang sekolah ia harus menyiapkan makan malam untuknya sendiri, belum lagi sekolah terasa lebih berat dari biasanya hari ini.
Jadi, saat bel rumah minimalisnya terdengar mengganggu, jangan salahkan ia jika malas sekali bangun dari tidur siangnya.
Namun, semakin dibiarkan, semakin menuntut pintu itu untuk dibuka. Maka dari itu, Nanda menghela napasnya. Menahan amarah yang seharian ini sudah mengujinya, ia bangkit dari ranjang.
Ketika melangkah terseok melintasi ruang tamu, ia berpikir, siapa? Ia tidak punya akal untuk menebak, karena jarang sekali tamu di rumahnya sebelum janjian, juga tidak ada yang punya janji bertemu padanya.
Mengintip di jendela samping pintu rumahnya, ia tidak dapat melihat manusia, hanya motor sport putih yang masih terlihat original di halaman kecilnya terparkir rapih.
Kemungkinan besar bukan pencuri. Jadi, ia buka pintunya.
Cowok, tampilannya keren, visualnya bukan main. Bersandar di tembok samping pintu. Ia menatap Nanda—lagi—tepat di mata.
"Ngapain?" tanyanya, membuka suara.
"Kenapa?" Sebelah alis cowok itu berkedut.
"Apanya?"
"Selalu tanya, ngapain?" Pembukaan penuh pertanyaan.
"Ya gue kaga tau lo mau ngapain, dateng tiba-tiba," jawab Nanda, memandang Bara yang masih menatap matanya, kenapa selalu mata? Nanda jadi merasa tidak nyaman ditatap seperti itu.
"Ayo, makan," ucapnya. Setidaknya, Bara belajar kalau Nanda kadang tidak bisa menolak tawaran satu ini.
"Gue udah masak."
Sudah sampai situ saja, menurut Nanda. Ia sudah bersiap menutup pintu sebagai tanda penolakan keras atas tawaran Bara. Namun, semua tidak berjalan semudah itu Ferguso.
Bara nyelonong masuk lewat celah pintu sebelum tertutup, seakan dipersilahkan ia berkata, "Assalamualaikum."
Nanda mendelik tajam, kaget sekaligus tersinggung, tetapi itu salam kalau tidak dijawab yang dosa Nanda sendiri. Jadi, seakan menerima Bara sebagai tamu ia menjawab, "Waalaikumussalam." Karena sudah terjebak.
"Kok lo nyelonong, sih? Kan gue bilang udah masak. Berarti kaga bisa pergi bareng lo, dong."
"Kalo gitu gue makan di sini, biar makannya bareng."
"Kaga ada, pergi sekarang." Titik, tidak ada koma.
Nanda mendekati Bara yang sudah duduk rapih di sofa ruang tamunya. Mata cowok itu jelalatan ke sekitar rumah Nanda.
Memiliki dua kamar, lantainya berwarna abu-abu pudar, ada partisi penyekat rumah berwarna hitam dan putih sebagai pemisah ruang tamu dan dapur, delapan helm dan beberapa topi yang sudah pasti dipesan karena kata yang dirajut di topinya bertuliskan diri Nanda berjejer rapi. Seperti "Bosen Kurus", "Bosen Mulus", "Bosen Murus", "Rindu Mama", "Males VS Mager".
KAMU SEDANG MEMBACA
ALTERO (Completed)
Novela JuvenilBest cover @prlstuvwxyz. Ini cerita lama rasa baru, alurnya sama tapi ada bedanya. Baca berita noh untuk tahu kelengkapannya. "Woi!" Nanda berusaha mengejar langkah lebar cowok tinggi yang sudah jauh melangkah di hadapannya. Tidak ada tanda-tanda c...
