"Bahwa terkadang, percaya itu menyakitkan."
__Ananda Gaby Fredella__
***
Ia hanya sadar kalau pacarnya tidak ikut makan. Jadi, Nanda bertanya, "Lo kaga makan?"
Bara menggeleng membuat Nanda berdecak. Jadi, ganti gadis itu yang menyendokkan makanan ke depan mulut pacarnya. "Buka mulu lo."
Saat Bara akan menyela, Nanda kembali berkata, "Tinggal ngunyah doang, sih."
Kembali Bara terkekeh dan menurut. Dalam otaknya ia baru sadar, kalau ... bahagia itu sederhana.
***
"Al, buka lagi." Nanda menyodorkan lagi sesendok makanan kepada Bara. Sesekali ia melirik laptop di belakangnya, menghitung hasil kerjanya. Setelah dirasa cukup, akhirnya ia bisa fokus kepada pacarnya.
"Kenapa lo nolak gue?" Adalah pertanyaan Aldebara yang menarik netra gadisnya lebih intens.
Gadis bermata coklat itu mengigit bibirnya. Menimbang yang akan ia ucapkan. "Bukan lo doang yang gue tolak." Sombong sedikit bolehlah, asal tidak kebiasaan.
Bara mengangguk, ia dengar juga desas-desus itu dari kawannya. Banyak sekali desas-desus yang harus Bara perhatikan ternyata.
"Kenapa lo terima gue?" Ganti pertanyaan, karena hanya Bara yang Nanda terima.
Nanda dengan ekspresi terkejut, setelah itu telunjuknya kepada Bara. Menarik alis Bara naik sebelah karena tidak mengerti.
"Gue juga kagak tahu. Kalo menurut lo?"
"Apa?"
"Menurut lo, gue terima lo kenapa?"
Aneh sekali kamu sayang, kenapa malah balik bertanya? Pantas saja Bara suka, Nanda ternyata menarik sekali gayanya. Kalau jadi pacar Nanda, siap-siap dapat putar balik yang aneh, ya. Eh, tidak-tidak, Bara tidak izinkan selain dirinya jadi milik Nanda, atau selain Nanda jadi miliknya.
"Karena ganteng?" Bodoh atau aneh? Bara juga jadi ikut berpikir sebabnya Nanda terima, ia penasaran.
"Bokap gue juga ganteng. Kenapa bukan bokap gue yang gue pacarin? Kagak usah pedean lo." Anehnya lagi, Nanda tidak terima kalau cuma itu alasannya. Maka dari itu, nadanya sedikit menusuk barusan.
"Karena pinter?" Bolehlah yang satu ini dibanggakan. Tidak semua orang ganteng itu pinter, kata Bara, sih.
"Tukang syomai juga pinter bikin masakan kesukaan gue, dapet duit lagi." Sesekali ia menyuapkan untuk Bara.
Bara tidak terima dong disama-samakan dengan tukang syomai. Maka dari itu ia mendelik. "Karena gue kaya?" Bodohnya ia tetap cari alasannya.
"Takabur lo, gue putusin juga nih." Nanda yang kemudian menyuap untuk diri sendiri.
"Kalo berani." Sesungguhnya, Bara cuma bingung mencari kelebihannya, sepintas ia tahu kelebihannya dari banyak mulut, tetapi mulut Nanda bukan salah satunya. "Dulu lo juga bilang mau nolak gue, kan?"
Kotak makan yang sudah habis isinya itu Nanda tutup rapat-rapat—dengan catatan—hingga mengeluarkan suara maksimal. Wajahnya datar sekali, setelah menelan, ia berkata, "Lo serius mau gue tolak?"
"Becanda kali." Wajah Bara masih santai, ia bahkan membukakan tutup botol untuk ia sodorkan kepada Nanda kemudian.
Setelah menenggak minuman, Nanda menyodorkan kembali pada Bara.
"Lo mau gue terusin usaha buat nolak lo, kan?" Adalah pertanyaan Nanda yang membaut Bara nyaris tersedak.
"Bukan gitu—"
KAMU SEDANG MEMBACA
ALTERO (Completed)
JugendliteraturBest cover @prlstuvwxyz. Ini cerita lama rasa baru, alurnya sama tapi ada bedanya. Baca berita noh untuk tahu kelengkapannya. "Woi!" Nanda berusaha mengejar langkah lebar cowok tinggi yang sudah jauh melangkah di hadapannya. Tidak ada tanda-tanda c...
