didedikasikan untuk YanttiNggando, sorry Wak. itu tempat dedikasinya kaga jalan dah heran gue.
"Malu boleh, malu-maluin jangan."
__Laju19__
***
"Ngapain sih, ngeliatin hp mulu?" Berlian merebut ponsel dari tangan Nanda.
Si Fredella pasrah ponselnya direbut, nanti juga kembali.
"Nunggu chat dari Abang?" Berlian terkekeh, sangat menyebalkan di telinga Nanda. "Takut ditinggal Abang?"
"Bukan gitu, cuma ... dia sendirian di rumah, pasti sepi." Itulah ketakutan terbesar Nanda. Ia pernah sendiri, sering bahkan, untuk terbiasa dengan sunyi itu juga melewati masa intimidasi.
Apa Bara tidak apa-apa jika sendiri?
***
Saat percakapan itu berlangsung, kalian pikir Aditya Abraham telah pergi? Tidak, ia masih setia main mata dengan Berlian yang sedang melahap sosis—yang atas permintaan gadis belia itu, digoreng dengan margarin, tidak sampai kering.
"Anak sultan makannya beda." Adit berkata demikian bukan tanpa alasan. Sebut saja si keturunan Abrahan tidak ada kerjaan, ia menghitung berapa kali si Gadis Adelheid mengunyah sebelum menelan. Hitungannya selalu di angka yang sama, tiga puuh dua. Tepuk tangan dulu dong.
"Lo kapan putus sama Kak Nanda?"
"Eh, Bocil. Kebanyakan micin lo? Giliran Nanda dipanggil kakak, gue kaga."
Berlian menelan kuat-kuat makanan yang ia lahap hingga berbunyi. Nanda juga Adit menoleh, matanya bukan main tajam. Wajah datarnya bikin takut pokoknya. Cantik-cantik, serem, tetapi enak dipandang, adalah perangai Berliana Elysia Adelheid.
Anak sultan, kalo ngomong beda rasa. Demikian sekiranya suara batin Adit yang mulai gentar.
"Kapan putus sama Kak Nanda?"
"Gue putus sama dia kalo lo pacaran sama gue!"
***
Aldebara menyeringai menatap Aditya Abraham yang menunduk menyeruput minuman perlahan, tidak sungguh diminum, ia hanya malu menatap Bara, karena Berlian malam itu pamit pulang langsung dengan wajah memerah, maka Adit tahu ia pasti mengadu pada abangnya.
"Lo nembak adeknya, Kak Bara?" Risha penasaran dong, ia tahu cerita itu dari Bagas.
Katanya, malam Berlian pulang dengan marah-marah, tanpa pandang situasi rumah yang ada teman Bara ia bercerita, panjang lebar pula, sangat jelas pokoknya.
"Kagak, kok." Mau tahu kalau Adit malu? Ia pasti berbicara sambil berbisik.
Bisik-bisik tetangga Adit dengar, tetapi ia tetap diam. Jangankan melawan kata seperti biasanya, untuk bicara saja ia merasa nyaris gila. Apa sih, yang dipikirkannya waktu itu? Kalimat macam apa itu?
"Kapan lo putus sama, Nanda?"
"ANJIR!" Kemudian ia beranjak, karena apa? Karena nada Bara nyaris sama dengan Berlian, ia nyaris frustasi jadinya.
"Nanti pulang sekolah berarti sama gue." Karena tadi yang jemput Adit, jadi waktu sehabis pulang sekolah milik Bara, senang sekali.
"Gue mau keluar nanti." Ia berucap setelah menelan seperangkat perintilan bakso.
"Gue anter." Bara bersedekap dada.
Kawan-kawannya sudah menelan ludah melihat wajah cowok itu. Beda dengan Nanda yang melambaikan tangan di depan wajah pacarnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
ALTERO (Completed)
Novela JuvenilBest cover @prlstuvwxyz. Ini cerita lama rasa baru, alurnya sama tapi ada bedanya. Baca berita noh untuk tahu kelengkapannya. "Woi!" Nanda berusaha mengejar langkah lebar cowok tinggi yang sudah jauh melangkah di hadapannya. Tidak ada tanda-tanda c...
