"Bahwa rasa itu nyata, buktinya orang lain bisa melihatnya, seberapa kamu spesial di mata saya."
__Aldebara Geril W Adelheid__
***
Saat wajah Bara santai-santai saja, Ananda Gaby Fredella malah dengan wajah terkejutnya.
"Al, lo ngapain sih? Balapan? Dj? Sekarang tinju? Lo mau borong label sok jagoan gitu? Apa yang mau lo buktiin?" Nanda menegakkan punggung yang sebelumnya bersandar. Mendadak kantuknya sirna.
"Gue suka tantangan." Bara tersenyum sebelah bibir dengan wajah santainya. Kemudian ia lanjut berkata, "Kayak lo, menantang." Bara kembali fokus pada adegan di televisi.
"Lo suka gue karena menantang?" Di setiap kata Nanda tekankan, ia ingin memastikan setiap bagiannya. Bukannya dulu Bara pernah menjawab bahwa ia suka hanya karena dia Nanda?
Bara mengangguk sekali. "Eh, tapi nggak juga sih. Kalo dipikir-pikir gue nggak punya alasan. Hanya karena lo Ananda Gaby Fredella, punya gue." Bara mengedikkan bahu acuh.
Ia hanya tidak tahu kalau setiap alasan tidak jelas itu terucapkan, Nanda merasakan sesuatu yang aneh pada dirinya. Semacam merinding yang tidak lumrah di sekujur tubuhnya.
"Al, kalo gue larang lo gimana?" gumam Nanda, ia tidak berniat bertanya sebenarnya. Ia hanya ingin mengatakkannya.
"Lo nggak bakal larang gue, karena lo juga suka berantem." Bara terkekeh kecil.
"Gue berantem ada alesannya."
"Apa coba?"
Nanda risih dengan wajah Bara yang sekan menantang dirinya ketika berkata demikian.
"Kemarin gue bentrok karna mereka ngancurin grobak Pak Didin. Kan gue nggak bisa beli bubur ayamnya lagi. Lagian gue punya prinsip ya, Al. Masalah hari ini buat hari ini aja. Selesain dan besok kita nggak ada apa-apa," jelas Nanda, ia masih memakan kentang gorengnya.
"Jadi, lo udah bertemen sama mereka?" Sebanyak apa Nanda pernah berantem? Bara jadi penasaran. Kalau semua musuhnya cowok, berarti temannya kebanyakan genre itu, bukan?
"Belom?" jawab cewek itu cepat.
"Loh?" Bara menaikkan satu alisnya.
"Kemarin kita gagal bentrok, lo nggak lihat kemarin kita berhenti gara-gara patroli?" Nanda mengedikkan bahu.
Bara hanya mengangguk. "Jadi, lo mau ikut atau nggak?" Bara menoleh menatap Nanda lamat-lamat, mata kesukaannya, berusaha meyakinkan cewek itu untuk ikut.
"Ikut lah, gue harus jadi orang pertama yang tahu tentang lo." Nanda kembali memasang wajah kesal. "Lo bilang deal, jangan lupa."
"Nggak usah digituin mukanya, cantik mah cantik aja. Nggak usah dijelek-jelekin." Bara menatap intens wajah pacarnya itu. Sekali lagi, kalian harus tahu bahwa ekspresi Bara itu datar, sedatar-datarnya.
Nanda jelas salah tingkah, ia jadi bingung bagaimana carnya mengunyah, bahkan menelan kentang di mulutnya.
Kemudian gadis Bara satu itu mendorong wajah Bara untuk menjauh darinya.
"Apaan, sih!" ucapnya.
"Kemaren gue bilang, kan? Pukul gue lagi, gue cium." Dalam diam Bara ingin sekali tertawa melihat wajah Nanda yang panik sendiri.
Gadis itu seakan ingin lari, tetapi tidak ingin meninggalkan. Bara masih tetap dengan tatapan mautnya pada netra favoritnya.
"Al ...." Suara Nanda memelas.
Benar awalnya Bara itu tidak berhasil meraih sepenuhnya hati Nanda, tetapi gantengnya, karismanya, kerennya, auranya Bara itu bukan main, belum lagi ancamannya macam itu. Nanda merasa bukan hanya wajahnya yang merah, telinganya juga seakan berbunyi siren ambulance.
KAMU SEDANG MEMBACA
ALTERO (Completed)
Fiksi RemajaBest cover @prlstuvwxyz. Ini cerita lama rasa baru, alurnya sama tapi ada bedanya. Baca berita noh untuk tahu kelengkapannya. "Woi!" Nanda berusaha mengejar langkah lebar cowok tinggi yang sudah jauh melangkah di hadapannya. Tidak ada tanda-tanda c...
