"Ananda Gaby Fredella adalah nama pemilik manis yang sesungguhnya."
__Aldebara Geril W Adelheid__
***
"Lo nggak aneh sama sekali ...," ucapnya menggantung, mengusap pipi hingga bawah mata Nanda, menarik cewek itu untuk menatapnya, sekarang dengan bibir mengerucut.
"Malah, cantik banget. Gue nggak suka orang nontonin cewek gue!" Nadanya datar, tetapi menekan di setiap kata yang ia miliki.
Nanda merinding bukan main melihat mata cowoknya menatap setajam silet ke sekitar. Memberi aura intimidasi, membuat mata siswa yang menatap gadisnya beralih seketika.
"Gue nyesel bikin lo berubah."
***
"Njir." Ananda Gaby Fredella menakan pipi Aldebara dengan telunjuknya, wajahnya seakan melihat horor yang sebenarnya.
"Lo beneran Aldebara pacar gue?" Kalau tidak salah lihat, tangan Nanda bahkan bergetar. "Ya Allah, ampuni dosa Bara, keluarkan hantu yang merasukinya."
Demikianlah Bara bingung harus berbuat apa. Ingin menjitak Nanda, tetapi sayang. Mau disayang, nanti ketagihan. Bingung pokoknya.
Namun, Bara mengerti kalau mulai sekarang ia harus menggenggam Nanda.
Maka dari itu, Bara lihat Nanda terpenjerat karena telapak tangannya diraih selembut mungkin dan dirangkum setegas-tegasnya. Bahwa Bara pastikan Nanda miliknya, itu tidak akan pernah berubah.
Namun, Nanda menepis tangan Bara, kemudian ia berkata, "Ya Allah, nggak apa-apa Bara kasar, yang penting nggak kerasukan, keluarin setannya, Ya Allah." Ia menengadahkan tangan dengan terpejam.
"Nanda, gue sehat." Demi Yang Maha Kuasa, Bara sangat ingin menc—lupakan. "Mulai sekarang gue akan genggam lo."
"Serius nggak kesurupan kan, Al?"
"Nggak."
"Beneran lo Aldebara Geril W Adelheid, kan?"
"Iya."
"Yakin, kan?"
"Ya, Sayang."
Bara keceplosan, pipi Nanda bersemu merah.
Demikianlah jeritan kaum hawa yang menguping terdengar menggema, mereka ikut leleh dengan kalimat dingin Bara yang manis, sudah seperti ice cream.
Bara bukan baru tahu senyum Ananda Gaby Fredella itu manis, sangat. Namun, melihatnya tersenyum dan merona itu lain hal, sangat indah.
Saat itu, Bara tidak keberatan untuk berlutut, seperti yang sedang ia lakukan saat ini. Kemudian mengikatkan tali sepatu Nanda yang sebenarnya sudah kuat simpulnya.
Bukan, bukan karena untuk menggoda. Melainkan untuk menghambat Nanda, karena kawan-kawannya di belakang cewek itu masih sibuk menghidupkan api.
"Al?" Nanda tersipu dua kali lipat, wajahnya sudah semakin merah, hingga ke telinga sepertinya. Belum lagi jantungnya yang bukan main.
Jangan lupakan teriakan kaum hawa pengintip yang semakin menjadi-jadi, sialan. Nanda kembali harus berbagi.
Bukan sengaja warga sekitar mengintip, karena memang adegan ini terjadi tepat di tengah lapangan basket, tempat dulu Nanda dipermalukan, menjatuhkan diri dengan menangis di hadapan semua orang.
Mungkin, traumanya soal tempat ini akan berkurang, terganti dengan kenangan manis seperti demikian.
Belum lagi ...
KAMU SEDANG MEMBACA
ALTERO (Completed)
Novela JuvenilBest cover @prlstuvwxyz. Ini cerita lama rasa baru, alurnya sama tapi ada bedanya. Baca berita noh untuk tahu kelengkapannya. "Woi!" Nanda berusaha mengejar langkah lebar cowok tinggi yang sudah jauh melangkah di hadapannya. Tidak ada tanda-tanda c...
