"Saat cinta Ayah bisa hilang dari darah dagingnya, gimana dengan orang yang bahkan nggak punya tanggung jawab pasti soal lo?"
__Ananda Gaby Fredella__
"Gue dihukum untuk selalu inget lo, okay. Gue terima."
__Aldebara Geril W Adelheid__
***
"Lo hebat, Al."
Kalian mungkin berpikir Ananda Gaby Fredella bodoh. Nyatanya, ia memang bodoh. Kalian boleh mengumpat gadis yang baru saja bangkit dalam kecantikan itu sebanyak kalian mau.
Asal kalian tahu, bahwa orang dengan trauma hati seperti Ananda Gaby Fredella sukar menerima yang baru.
"Gue nggak pernah mau balik lagi ke rumah dengan foto keluarga baru itu karena di sana ada Mami dan lo buat gue balik ke sana," ucapnya.
Ada beberapa alasan kenapa gadis yang surainya sedang Aldebara usap itu trauma berat dengan masalah hati. Bahkan dulu ia berencana tidak akan pernah menggunakan hati untuk sebuah perasaan yang mengubah Ayah jadi bukan milik Bunda lagi.
Sampai datang ke psikiater untuk memastikan apa yang salah dalam dirinya dan orang yang Nanda tanyai itu hanya berkata bahwa traumanya akan semakin besar kalau ia tidak memaafkan diri.
"Dulu gue bahagia, banget. Sampai Bunda sakit. Bunda orang baik, Al. Bahkan saat sakit Bunda rela nemenin gue begadang nonton bola. Bunda sembunyiin sakitnya demi gue dan Ayah." Dari sana mulanya, Nanda ingin Bara tahu sepenggal kisah hidup yang menghantui. "Karena itu gue nggak pernah lagi nonton bola sampai malem, Al."
Bara tahu dalam diri pacarnya, ada segenggam rasa bersalah yang tidak dapat dikendalikan.
Mereka yang duduk di sofa ruang tamu, dengan gerimis Kota Jakarta yang meliputi. Bara paksa Nanda bersandar padanya, karena Bara sungguh rindu luar biasa.
"Sehabis Bunda ke tempat yang lebih baik, Ayah bilang ke gue, kalau dia nggak keberatan hidup berdua sama gue ...." Ada jeda, karena Nanda menghela napasnya beberapa kali. "Selamanya."
Bara tahu ini kisah yang buruk, ia mendadak tidak merasa bahagia dengan kemungkinan bahwa Nanda hanya akan bersama pria yang pacarnya itu sebut Ayah, selamanya.
"Habis itu, Mami dateng, Al." Gadis itu mendongak, menatap Bara untuk beberapa saat. Entah untuk apa.
Biar Nanda jelaskan lebih rinci yang membuatnya trauma hati.
Pertama: "Ayah lupa Bunda karena tanggung jawab. Sama kaya lo."
Kedua: "Waktu itu, foto keluarga yang isinya Bunda disingkirin, karena Mami ngerasa sakit. Lo juga nyingkirin gue karena cewek lain sakit."
Ketiga: "Perlahan, namun pasti. Gue menjauh dari Ayah, gue pergi dari rumah, dan semua perhatian dia berpaling dari gue juga. Saat gue menjauh dari lo, lo juga berpaling."
Yang lebih akurat dalam ketakutannya adalah: "Gue lihat sendiri gimana cintanya Ayah sama Bunda, Al. Saat cinta orang sebesar itu bisa hilang, gimana sama perasaan lo?"
Apakah itu pertanyaan yang harus Bara jawab? Sungguh? Nanda belum bisa melihat sebesar apa perasaannya? Apa-apaan?
"Gue, Al. Darah daging dia. Satu-satunya manusia di muka bumi ini yang ada keterikatan darah sama dia, bisa dia lupain. Sedangkan lo? Kita cuma terikat perjanjian deal or not deal tentang sebuah hubungan."
Bara pening, tolong jangan teruskan atau Bara akan marah. Andai ia bisa.
"Gue punya trauma hati, psikiater yang bilang, bukan gue. Kemungkinan orang tanpa cinta bisa berpaling itu lebih besar daripada orang tua lo sendiri. Saat cinta Ayah bisa hilang dari darah dagingnya, gimana dengan orang yang bahkan nggak punya tanggung jawab pasti soal lo? Karena itu gue nggak pernah mau membentuk sebuah hubungan—"
KAMU SEDANG MEMBACA
ALTERO (Completed)
Novela JuvenilBest cover @prlstuvwxyz. Ini cerita lama rasa baru, alurnya sama tapi ada bedanya. Baca berita noh untuk tahu kelengkapannya. "Woi!" Nanda berusaha mengejar langkah lebar cowok tinggi yang sudah jauh melangkah di hadapannya. Tidak ada tanda-tanda c...
