"Tidak perlu malu, saat semua orang akan tahu seberapa istimewanya kamu, di mataku."
__Aldebara Geril W Adelheid__
***
"Kalo lo nggak mau nganter, gue bisa sendiri."
Ini sudah tanda bahaya, gadisnya sudah membuka seat belt saat Bara mencekal kembali pergelangan tangannya.
"Lihat gue." Nadanya menantang, memerintah, dan memohon.
Nanda bingung jenisnya, tetapi ia menurut. Menatap mata Bara, awalnya tidak berani, tetapi diberani-beranikan.
"Kalau kata orang, restu more than enything. Gue kasih itu, bukti kalau gue nggak main-main."
Nadanya lembut sekali saat membuai telinga Nanda, ia sampai tidak percaya kalau itu nyata.
***
Dulu, Ayah bilang, kalau tidak akan ada Bunda lain yang akan menggantikan. Ia percaya, tidak keberatan harus hidup berdua dengan ayahnya. Ia yakin mereka akan bahagia, karena Ananda Gaby Fredella percaya, meski sudah tiada Bunda masih bersama mereka. Di hati Nanda dan Ayah.
Namun, kemudian datang wanita itu, yang ikut makan malam bersamanya. Tiba-tiba acara diadakan di rumah Nanda, Ayah dan wanita itu menggunakan baju bagus yang sangat indah. Gadis kurus itu juga harus rela dipaksa pakai baju indah.
Ia duduk di samping bocah laki-laki yang sepanjang waktu tersenyum. Kemudian tiba-tiba, orang ramai bertepuk tangan setelah mengatakan, "Sah."
Maka dari sana, mereka empat orang tinggal bersama. Hingga Nanda mengerti dan sedih karena Bunda tidak lagi ada di hati ayahnya.
Nanda hanya tidak ingin percaya lagi. Ayah yang sangat mencintai saja bisa lupa Bunda, kenapa Aldebara pengecualian? Karena sesungguhnya Bara menyentuh Nanda dengan perhatian? Ia telah hidup dalam kematian percaya pada cinta.
Ananda Gaby Fredella sedang berpikir, ia tidak bohong saat berkata ini kesempatan terakhir untuk dirinya juga. Kalau hubungan ini gagal atau digagalkan akibat tidak dapat restu, gadis itu akan membuka kemungkinan besar tidak akan mengenal kasih sayang lagi.
"Percaya sama gue."
Karena itu pula kebohongan adalah musuh baginya. Karena ia sudah tidak percaya, maka ia benci dibohongi. Karena saat dibohongi, berarti ia mulai percaya.
Sejenak Nanda menelan salifanya, kembali ia harus berkata bahwa sebenarnya ... "Gue takut."
Bara mengangguk sekali, untuk mencuri kepercayaan Nanda, cowok super keren itu yang berkata, "Kita saling percaya." Ternyata terdengar menawan di telinga gadisnya. "Okay?" Tatapan Bara—tidak bohong—terlihat sangat meyakinkan.
Karenanya gadis itu mengangguk, kemudian Bara yang menghela napas lega.
Saat cowok berkaki panjang itu keluar, Nanda mengikuti aksinya. Sejenak, bangunan mewah itu mengintimidasi, mengingatkan kalau Bara bukan anak orang biasa.
Ia menonton dirinya sendiri. Dari sudut pandangnya, ia akan berpikir negatif pada dirinya sendiri.
Baju kekuningan, buluk sangat. Roknya yang kependekan balapan dengan celana cadangannya, bukan style bagus. Terakhir, kaus kakinya yang tinggi sebelah karena asal ambil tadi pagi. Tunggu, ternyata ada yang lebih parah, sepatunya kehitaman karena cipratan oli.
"Besok aja gimana?" Akhirnya Nanda ada di batas ketidakpercayaan diri yang tinggi.
"Sekarang aja." Aldebara yang memaksa Nanda dengan cekalan tangan lagi.
KAMU SEDANG MEMBACA
ALTERO (Completed)
Teen FictionBest cover @prlstuvwxyz. Ini cerita lama rasa baru, alurnya sama tapi ada bedanya. Baca berita noh untuk tahu kelengkapannya. "Woi!" Nanda berusaha mengejar langkah lebar cowok tinggi yang sudah jauh melangkah di hadapannya. Tidak ada tanda-tanda c...
